NewsBalikpapan –

PT Pertamina (Persero) menyatakan konversi gas subsidi beralih non subsidi berjalan mulus di Kalimantan. Pertamina memperkenalkan produk gas 5,5 kilogram digadang menjadi alternatif pengganti gas 3 kilogram yang nantinya diperuntukan bagi warga miskin.

“Masih on progress saat ini. Namun produksi gas kami terbaru 5,5 kilogram memperoleh respon positif di Kaltim,” kata Area Manager Communication & Relations Kalimantan, Alicia Irzanova, Kamis (16/3).

Alicia mengatakan, Pertamina meluncurkan produk gas 5,5 kilogram pertengahan bulan Januari lalu. Hingga saat ini, menurutnya konsumsi gas 5,5 kilogram di Kaltim mencapai 300 metrik ton per bulannya.

“Minatnya cukup tinggi dengan konsumsi 300 metrik ton per bulan. Padahal baru kami perkenalkan di Kaltim,” ujarnya.

Produk gas 5,5 kilogram, kata Alicia dimaksutkan guna mengurangi beban subsidi negara alokasi gas 3 kilogram. Menurutnya, produk gas 5,5 kilogram diperuntukan bagi golongan keluarga mampu yang masih mengkonsumsi gas 3 kilogram.

“Harus kita akui bahwa masih banyak keluarga mampu yang konsumsi gas ukuran 3 kilogram. Padahal gas 3 kilogram hanya diperuntukan keluarga tidak mampu,” paparnya.

Pertamina sedang mengkampanyekan peralihan pengguna gas 3 kilogram menggunakan gas 5,5 kilogram. Pertamina menerima penukaran dua tabung gas 3 kilogram dengan satu tabung gas 5,5 kilogram.

“Ada tambahan pembayaran untuk pengisian tabung gasnya,” ungkapnya.

Alicia menyebutkan, konsumsi produk gas 3 kilogram masih mendominasi sebesar 300 metrik ton per hari di Kaltim. Konsumen produk gas ini merupakan golongan warga miskin, menengah dan atas.

“Konsumsinya memang sulit dikendalikan sehingga semua orang bisa membeli tabung gas 3 kilogram di Kaltim,” ujarnya.

Pertamina sedang mencoba penggunaan kartu kendali untuk mengontrol penyaluran gas 3 kilogram untuk masyarakat miskin. Kartu kendali gas subsidi masih di uji coba di Tarakan dan Batam.

“Sedang kami uji coba di Tarakan dan Batam. Sementara ini hasilnya positif,” kata asisten Communication & Relations Kalimantan, Bagja Mahendra.

Bagja menyebutkan, Pertamina akhirnya mampu mengidentifikasi jumlah pasti warga miskin berhak mengkonsumsi gas subsidi di Tarakan. Badan Pusat Statistik (BPS) memastikan jumlah keluarga miskin Tarakan sebanyak 3 ribu KK.

“Jumlahnya sudah diketahui sebanyak 3 ribu kepala keluarga,” ungkapnya.

Keluarga miskin di Tarakan ini, lanjut Bagja diminta membuka rekening bank sudah ditunjuk guna penerbitan kartu kendali gas subsidi. Kartu kendali ini khusus dipakai untuk transaksi pembelian gas subsidi di Tarakan.

“Transaksi pembelian gas subsidi mempergunakan kartu ini. Hanya warga miskin yang berhak membelinya. Per keluarga miskin dibatasi maksimal pembelian 3 tabung gas subsidi per bulannya,” imbuhnya.

Sistim baru ini mampu memangkas konsumsi gas subsidi Tarakan hingga 28 persen dari alokasi normalnya. Bagja memastikan, warga ekonomi menengah atas Tarakan beralih menggunakan gas non subsidi ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram.

“Mereka yang tidak berhak menggunakan gas subsidi akhirnya beralih menggunakan produk lainnya,” ujarnya.

Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), kata Bagja akan mengadopsi sistim kartu kendali gas subsidi di Tarakan untuk dipakai kota/kabupaten lain di Indonesia. Dia menyebutkan, sistim ini akan di uji coba di Provinsi pada tahun 2017 ini.

“Akan di uji coba di Bali dalam waktu dekat nanti,” paparnya.

Pertalite mulai geser Premium di Kaltim

Demikian pula konsumsi BBM non subsidi kian eksis di Kaltim. Konsumsi BBM jenis pertalite mencapai 15.404 kilo liter per bulannya atau naik 48 persen dibandingkan tahun 2016 lalu.

“Pertumbuhan produk BBM pertalite signifikan setiap bulannya di Kaltim,” kata Area Manager Communication & Relations Kalimantan, Alicia Irzanova.

Alicia mengatakan, masyarakat Kaltim kian percaya kualitas produk BBM pertalite yang sesuai dengan spesifikasi mesin kendaraan bermotor terbaru. Menurutnya, produk pertalite mampu mendukung performa mesin kendaraan bermotor.

“Mereka yang sudah mempergunakan pertalite biasanya akan enggan mengkonsumsi produk premium yang bersubsidi,” ujarnya.

Harga BBM pertalite Rp 7.350 per liter, kata Alicia juga mampu bersaing dengan premium Rp 6.550 per liter. Dia mengatakan, produk pertalite punya banyak kelebihan yang sulit disaingi premium.

“Kelebihan premium yang membuat konsumen menjatuhkan pilihannya untuk pertalite,” paparnya.

Selain produk pertalite, Alicia menyebutkan, kenaikan signifikan pertamax sebesar 4.387 kilo liter per bulan atau naik 17 persen dibandingkan 2016. Konsumsi terbesar terjadi di dua kota utama Kaltim yakni Balikpapan dan Samarinda.

Peningkatan konsumsi pertalite dan pertamax, menurut Alicia, mampu menggerus konsumsi 60 persen premium di Kaltim saat ini. Sebelumnya, konsumsi premium di Balikpapan saja bisa mencapai 1 ribu ton per harinya.

Pertamina mulai memperkenalkan produk pertalite di SPBU Kaltim mulai akhir 2015 silam. Saat itu, 5 persen konsumsi premium sudah mulai beralih menggunakan pertalite.

Saat itu, Pertamina mencatat konsumsi pertalite sudah mencapai 20 ton per hari saat pertama kali diperkenalkan di Balikpapan. Adapun konsumsi pertamax masih di kisaran 750 kilo liter per bulan atau sebanyak 25 ton per hari.

Secara keseluruhannya, konsumsi pertalite di Kaltim sudah mencapai 40 ton per hari. Konsumen menyadari kelebihan kualitas produk pertalite yang unggul dalam mensuport performa maupun perawatan mesin kendaraan bermotor.