Balikpapan –

Bagi kalian mungkin membingungkan judul diatas. Pernikahan seiring tabung gas 12 kilogram. Apa hubungannya, antara pengalaman sakral pernikahan dengan sebuah tabung gas ?

Suatu momentum penting seumur hidup manusia dengan tabung gas besi baja yang beratnya ngajubilah.

Perkenalkan, namaku SG Wibisono dan pekerjaan profesional writer. Memang pengalamanku ini seperti absurt, tapi secara pribadi adalah nyata. Pasalnya saat itu adalah momentum penting dimana aku akhirnya memberanikan diri melangkah ke jenjang pernikahan. Menikahi seorang perempuan luar biasa yang setia menemaniku hingga kini. Sebut saja namanya Atie.

Aku sendiri hanyalah seorang lelaki biasa yang berjuang membahagiakan calon istrinya ini. Seorang bujang yang biasa hidup sendiri dan mendadak harus melengkapi berbagai kebutuhan rumah tangga.

Contohnya : kulkas, mesin cuci, televisi, lemari, tempat tidur hingga beberapa perlengkapan dapur kompor gas.

Perlengkapan masak memasak menjadi perhatian penting mengingat kondisi perekonomian kami sebagai keluarga baru.

Sesaat jelang pernikahan ini, kami berdua bersepakat untuk berhemat dengan selalu membiasakan diri melakukan family time makan bersama seluruh keluarga.

Namun apesnya, tahun 2007 pemerintah sedang gencar gencarnya mensosialisasikan penggunaan gas elpiji menggantikan minyak tanah. Saat itu, eforia masyarakat begitu tinggi beralih memanfaatkan kompor gas dibandingkan minyak tanah.

Imbasnya, hampir  seluruh tempat penjualan tabung gas ukuran 12 kilogram ludes terjual. Kalaupun ada, harganya melambung tinggi hingga Rp 1.500.000 per tabung plus isinya.

Waduh, persoalan yang bikin pusing tujuh keliling mengingat saldo rekening ludes terkuras. Mau pakai tabung 3 kilogram juga ogah. Bukannya sok kaya, namun sejak dulu saya memang sudah menghindari segala hal yang berbau subsidi.

Motor butut merk Honda Supra ku aja sudah terbiasa minum BBM jenis pertamax setiap minggunya.

Saat itu, tabung Bright Gas 5,5 kilogram belumlah ada. Satu satunya yang ada hanyalah tabung gas 12 kilogram, itupun barangnya belum tentu ada.

Namun alhamdulillah, berkat doa anak sholeh jua lah segalanya bisa berjalan lancar. Bermula pertemuan Kepala Humas Pertamina Unit Pemasaran VI Balikpapan, Bambang Irianto saat itu, menawarkan pembelian tabung gas 12 kilogram di koperasi seharga Rp 650.000.

Masih segar terngiang ucapan beliau.

“Koperasi masih ada tabung gas 12 kilogram seharga Rp 650.000. Tapi ya harus beli dong, ga bisa gratis,” katanya saat itu sambil tersenyum tipis.

Selepas itu tidak menunggu lama, kupacu motor bututku meluncur ke lokasi yang disebutkan beliau ini. Tanpa proses tawar menawar harga – kubayar tabung gas 12 kilogram ini dan susah payah kubonceng menaiki motor.

Sudah terbayang muka keheranan calon istriku saat mendapati aku bisa memperoleh tabung gas 12 kilogram dengan harga yang miring.

Komentarnya pun jauh dari sangkaanku semula.

“Lah, kok bisa murah ? Ini asli atau palsu ya, jangan jangan palsu,” sergahnya sambil mengernyitkan alis.

Aku hanya terdiam sambil tepok jidat.

Namun apapun ceritanya, itu sudah terjadi sekitar 10 tahun yang lalu. Berkat tabung gas 12 kilogram itu, kami melanjutkan rencana pernikahan yang sudah memasuki tahun ke 10.

Mungkin Pak Bambang Irianto juga sudah melupakan peristiwa ini. Namun ternyata penting artinya bagi keluargaku.

Kebaikan beliau pula hingga kini kami masih memanfaatkan tabung gas 12 kilogram untuk kebutuhan masak sehari hari.

Berkat tabung gas ini pula, aku dan keluarga kecilku bisa belajar memasak untuk putra tunggal kami Abelda Riskinanta.

Bagi kami, Pertamina Barokah keluarga kecil kami. Kisah nyata ini memang bukanlah Pengalaman Bersama Bright Gas – tapi tepatnya Pengalaman Keluargaku Bersama Tabung Gas 12 Kilogram. ADV