Persiba Minta Pendukung Doakan Iqbal Samad
26 May 2012
30 Mei Listrik Balikpapan – Samarinda Padam
28 May 2012

Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer

rumah-pramBlora -

Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa merupakan perpustakaan nirlaba menjadi inisiatif Soesilo Toer bersama empat saudaranya. Maksud pendirian perpustakaan tidaklah muluk muluk, untuk membangkitkan minat membaca warga di RT 1 Kelurahan Mlangsen Blora Jawa Tengah sebagai lokasi rumah keluarga besar silsilah Toer.

Ruang perpustakaan Pramoedya jauh dari kata kata mewah. Ratusan buku buku karya berbagai sastrawan dalam dan luar negeri berserakan di ruangan rumah seluas 5 x 5 meter, di sudut rumah yang dulunya hanya difungsikan sebagai dapur keluarga besar Toer. Anak ke enam dari silsilah keluarga Toer ini, benar benar sendirian dalam mengupayakan berdirinya perpustakaan Pramoedya.

“Sempat ada tawaran bantuan pemerintah pusat sebesar Rp 200 juta namun harus ada rekomendasi dari pemerintah daerah Blora. Namun pemerintah di sini minta bagian sebesar 20 persen dari total bantuan, tentu saja saya tolak. Bagaimana pertanggung jawaban kepada masyarakat nanti uang sebesar Rp 40 juta,” ujarnya.

Sehingga sebagai pengelola tunggal perpustakaan Pramoedya, Soesilo juga mengaku tidak mampu berbuat banyak dengan kondisinya yang jauh dari istilah layak. Kondisinya jauh dari mimpi besar keluarga Toer untuk menjadikannya sebagai pusat sastra di Blora. Awal berdirinya pada 2003 lalu juga tidak terencana, bermula ketika rumah keluarga Toer terancam roboh saat ditinggal seluruh penghuninya.

“Pramoedya kaget saat mendengar rumah keluarga akan roboh sehingga ada usulan untuk dijual saja,” ujarnya.

Sebagai salah satu anggota keluarga Toer, Soesilo kemudian berinisiatif untuk menjaga rumah peninggalan keluarga Toer sebagai asset dunia sastra di Blora. Masyarakat Indonesia hingga dunia internasional sudah mengenal sosok Pramoedya Ananta Toer sebagai sastrawan kondang hingga akhir hayatnya. Namun hanya sedikit yang tahu, bahwa pengarang cerita fiksi Sepoeloeh Kepala Nica, Keluarga Gerilya, Cerita Dari Blora, Cerita Calon Arang, Mari Mengarang, Panggil Aku Kartini Saja, Gadis Pantai dan masih banyak karya sastra lainnya ini adalah bocah ndeso dari Blora.

Sehingga singkat kata, Pramoedya yang saat itu masih hidup, kemudian menyumbangkan uang sebesar Rp 15 juta untuk merenovasi bangunan rumah keluarga miliknya. Dia juga mengawasi secara langsung proses pengerjaan perpustakaan serta bangunan utama yang rencananya di fungsikan sebagai museum sastra di Blora. Belum genap tiga bulan pengerjaan, Pramoedya kemudian menambah modal renovasi sebesar Rp 20 juta yang kemudian digenapkan menjadi Rp 50 juta . Pramoedya ingin membangun gedung kebangkitan kota Blora menjadi tiga tingkat, membungkus bangunan warisan milik keluarga Toer. Mimpi besar yang akhirnya tidak kesampaian hingga Pramoedya berpulang pada 30 April 2006 lalu.

Kepergian Pramoedya bukan lantas diartikan kemudian mengubur mimpi pengembangan perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa menjadi kenyataan. Memang bukan perkara gampang merenovasi bangunan tua keluarga Toer menjadi perpustakaan maupun museum modern.

Harta satu satunya yang masih tersimpan, hanyalah lukisan hasil karya pelukis Goemelar yang harga ditafsir senilai Rp 500 juta. Lukisan tua menyimpan artistic nilai seni tinggi ini menggambarkan rentetan teori evolusi Darwin, dimana asal muasal manusia sebenarnya berasal dari ikan, kera dan seterusnya adalah homo sapies.

“Sedang saya tawarkan kepada kolektor maupun museum barang antic untuk renovasi bangunan perpustakaan,” papar Soesilo.

Kalaupun opsi penjualan lukisan belum berjalan mulus, Soesilo mengaku masih menyimpan pilihan lain yang tidak kalah menyimpan nilai ekonomis. Pekarangan rumah keluarga Toer sengaja ditanami puluhan pohon jenis jati yang per batangnya minimal bisa dihargai Rp 5 juta. Dua opsi yang nantinya bisa mewujudkan berdirinya perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa di Blora.

Meski perpustakaan Pramoedya hingga kini memang masih sepi dari peminat pembaca masyarakat Blora, Soesilo tidak pernah terpikir untuk mengurungkan tekatnya ini. Hanya segelintir warga setempat yang tahu bahwa di bumi Mlangsen Blora, pernah lahir sosok sastrawan yang karyanya terkenal seantero jagad.

Hingga bukan muka muka pribumi yang kerap mampir di perpustakaan ini – sebaliknya sastrawan dan akademisi luar negeri yang berkunjung untuk mengenal lebih jauh tentang sosok Pramoedya Ananta Toer di Blora.

“Tamu yang terakhir dari Ukraina bernama Sara Kovacic,” tutur Soesilo.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *