Gubernur Kaltim Terpilih Minta Evaluasi Dana Bagi Hasil
16 September 2018
Persib Kokoh Puncak Liga 1 Indonesia
18 September 2018

Perkakas Ketel di Industri Tahu Balikpapan

NewsBalikpapan –

Tahu sutra buatan Hidayatullah Mutholib (43) terasa beda. Tekstur tahu buatannya lebih kenyal dengan aroma kedelai yang tebal.

Makanan kegemaran mayoritas negeri ini juga terlihat putih bersih dengan bentuk persegi sempurna.

“Produksi tahu ini menjadi andalan saya disini,” kata pembuat tahu tempe industri tahu di Somber Balikpapan Kalimantan Timur, Mutholib, Selasa (17/9).

Tahu sutra jadi idola baru pengrajin tahu tempe Somber. Rasanya yang nikmat membuat pemasarannya menembus kalangan ekonomi menengah atas.

Tahu jenis ini sudah lazim ada di hotel, restoran dan toko modern di Balikpapan.

“Konsumen mengambil langsung tahu disini,” papar Mutholib saat menunjukan ruang produksinya yang terlihat bersih.

Tahu sutra sangat cocok sebagai bahan dasar pelbagai jenis masakan. Tipikal tahu lebih kenyal sehingga tidak gampang pecah kala dimasak.

Sebenarnya, Mutholib tidak punya resep khusus menjadikan tahu buatannya lebih istimewa dibanding lainnya. Selama bertahun tahun, pria ini hanya menjaga kualitas santan kedelai sebagai bahan dasar tahu sutra.

“Kuncinya satu, santan kedelainya lebih kental untuk membuat tahu. Kualitas kedelai juga harus baik,” ujarnya.

Belum lagi adanya perkakas sederhana merebus kedelai sebagai sarana pembuatan tahu. Selama bertahun tahun, Mutholib memanfaatkan ketel uap yang konstan menjaga temperatur suhu panas rebusan santan kedelai.

“Bila uap panas sudah mulai berkurang, tinggal membesarkan nyala api dan air mendidih dalam kurun waktu 10 menit saja,” paparnya.

Panas uap panas memang menjadi unsur penting pembuatan tahu sutra. Perkakas ketel membuat proses pemanasan  menjadi efisien serta hemat bahan bakar.

Langkah pertama, biji kedelai direndam air bersih selama 3 jam. Biji kedelai yang sudah lunak digiling guna menghasilkan santan kedelai.

Proses selanjutnya, sari kedelai ini dimasak memanfaatkan proses penguapan uap panas.

Teknologi ini terbilang baru bagi warga Balikpapan. Sementara ini, ada empat produsen di Somber yang beralih mempergunakan ketel uap panas memasak santan kedelai.

Sesama produsen tahu Somber, Heriansyah (37) mengungkapkan, perkakas ketel uap mampu menghemat biaya produksi tahu secara maksimal. Penggunaan ketel uap menurunkan biaya pembelian bahan bakar hingga 200 persen dibandingkan sebelumnya.

“Penghematan membuat biaya produksi bisa ditekan,” tuturnya.

Kuncinya adalah ketel uap yang mampu menghasilkan uap panas hanya dalam kurun waktu 15 hingga 20 menit. Sangat berbeda dibanding perkakas sebelumnya yang setidaknya butuh waktu maksimal 45 menit.

“Sekarang hanya butuh bahan bakar kayu 10 hingga 15 potong seharga Rp 100 ribu. Padahal dulu bisa menghabiskan 5 potong kayu seharga Rp 300 ribu.  Bisa berhemat Rp 200 ribu per hari,” sebutnya.

Itu pula menjadi latar, kenapa Heriansyah tidak segan memesan ketel tahu bagi industri rumah tangganya. Pria sunda ini membuat ketel yang mampu memanaskan 500 liter air sekaligus dalam produksi 170 kilogram kedelai.

“Pesan seharga Rp 20 juta untuk pembuatan ketel tahu,” ungkapnya.

Saat ini, Heriansyah mampu memproduksi 6.400 potong tahu Bandung seharga Rp 600 per potong. Ia setidaknya bisa mengantongi keuntungan bersih Rp 620 ribu per hari.

“Pendapatan kotor Rp 3.840.000 dikurangi modal kerja Rp 3.200.000,” tuturnya.

Produksi tahu berlabel Cap Segi Tiga cukup dikenal luas di masyarakat Balikpapan. Tahu ini sudah bisa mejeng di ruang pertokoan pasar modern sekelas Hipermart, Jovamart, restoran, hotel dan supermarket.

“Soal rasa dan kebersihan tahu produksi kami sudah jadi jaminan sesuai label paten,” tegas Heriansyah.

Kepala Badan Pengelola Kawasan Industri Kecil Tahu Somber, Bahrun adalah perancang perkakas ketel tahu. Bekas pegawai negeri sipil (PNS) ini menciptakan perkakas pembuatan tahu sederhana yang hemat energi.

“Saya merancangnya mempergunakan dana pribadi,” tuturnya.

Bahrun memimpikan ada sebuah perkakas yang memudahkan proses produksi tahu. Sebagai mantan pegawai Dinas Perindustrian dan Perdagangan Balikpapan, ia kerap mendengar keluhan soal tingginya biaya produksi tahu dan tempe.

Namun ternyata bukan perkara mudah menciptakan perkakas ini. Pembuatan ketel tahu almunium butuh Rp 100 juta setinggi 2,5 meter.

“Saya pinjam uang di bank selama 2 tahun untuk membuat ketel,” ungkapnya.

Bahrun bercita cita membuat ketel uap yang bermanfaat bagi produsen tahu Balikpapan. Produsen Somber memproduksi 50 hingga 400 kilogram biji kedelai dengan biaya produksi Rp 70 juta hingga Rp 120 juta.

Ini menjadi alasan utama pembuatan perkakas sederhana pengolah tahu kacang kedelai. Berbagai upaya dilakukan, termasuk dengan membuat berbagai prototipe  ketel uap yang hampir seluruhnya gagal.

Bahrun menggandeng bengkel las dalam mewujudkan rancangannya ini.

“Perjalanan membuatnya panjang, banyak juga yang gagal sehingga jadi besi tua,” ungkapnya.

Pertengahan perjalanan, Bahrun nyaris patah arang. Semangatnya kembali menyala ketika mengunjungi pabrik tahu tempe di Tangerang.

“Industri Tangerang sudah mempergunakan alat teknologi tinggi. Ide utamanya adalah memanfaatkan ketel untuk memasak santan kedelai sebelum diolah menjadi tahu batangan,” sebutnya.

Bahrun akhirnya punya ide baru bahan dasar pembuatan ketel. Dinding ketel dipilih berbahan dasar jenis logam yang cepat menghantarkan panas pembakaran.

“Kunci utamnya adalah pemilihan bahan baku sesuai hukum fisika yang saya pelajari,” tutur lulusan Akademi Teknologi Makassar Sulawesi Selatan.

Bahrun mengatakan, ketel uap buatannya mampu memangkas 40 hingga 50 persen biaya pembuatan tahu. Produksi 50 hingga 500 kilogram kedelai, menurutnya mampu menghemat Rp 1,5 juta hingga Rp 4,5 juta.

Pembuatan ketel stainless almunium butuh Rp 85 juta. Harganya makin murah memanfaatkan bahan besi yang biaya ditekan menjadi Rp 27 juta.

Bahrun ingin teknologi sederhana ini diadopsi produsen tahu tempe di Indonesia. Ia mempersilakan setiap orang menjiplak teknologi ini untuk menekan biaya produksi pembuatan tahu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *