“Kalau pas jam makan, kami ajak makan dengan menu seadanya. Kalau kemalaman juga boleh menginap di kamar bekas Pramoedya,” katanya.

Rumah keluarga Toer memang sudah beralih fungsi – selain sebagai museum peninggalan Pramoedya Ananta Toer juga tempat perpustakaan berbagai karya sastrawan di Indonesia. Soesilo sendiri di penghujung umurnya – sudah memantabkan tekat menjadi penjaga warisan keluarga Toer ini.

“Sudah tidak ada yang lain, cuma saya di keluarga Toer yang masih tersisa di Blora,” katanya yang saat ditemui mengenakan kaos lusuh serta celana kain warna merah hati.

Di rumah yang berada di pekarangan seluas 4 ribu meter persegi ini – Soesilo memang tidak benar benar sendirian. Dia masih ditemani Prawito Toer, kakak nomor dua dalam silsilah keluarga Toer. Namun Prawito yang juga sempat menulis beberapa karya sastra ini sudah terserang penyakit pikun sejak 30 tahun terakhir. Dia juga mengalami depresi usai pembebasannya dari Pulau Buru. Pemerintah orde baru membuangnya bersama Pramoedya sebagai tahanan politik sejak 1978 silam atas tuduhan menjadi simpatisan gerakan komunisme kala itu.

“Keluarga dan karya karyanya hilang semua saat dia kembali dari pembuangan di Pulau Buru. Mungkin itu yang membuatnya depresi, pikun dan tuli di usianya yang menginjak 85 tahun. Saya yang merawatnya selama ini,” ungkap Soesilo.

Menyandang nama keluarga Toer memang tidak mudah dijalankan Soesilo selama ini. Pria tua yang menguasai berbagai bahasa asing ini selalu dibanding bandingkan dengan sosok Pramoedya. Bahkan dia juga sempat pula mengenyam pengabnya ruang tahanan politik Pulau Buru bersama ke empat saudaranya yaitu Pramoedya, Prawito, Koesalah dan Soesatyo. Sehingga ada guyonan di lingkungan keluarga saja, bahwa Toer sendiri berasal dari rangkaian singkatan bahasa Jawa : tansah ora enak rasane (selalu tidak enak rasanya).

“Kami hanya korban fitnah politik pada masa masa itu, pasca pemberontakan gerakan 30 September 1965,” ujarnya.

Selama tiga tahun, Soesilo dibuang ke Pulau Buru sejak 1971 hingga 1973. Tuduhan yang dijeratkan padanya juga terkesan mengada ada, absen menghadiri undangan peringatan meninggalnya enam jenderal di KBRI Rusia. Soesilo memang sedang menjalani pendidikan S2 di Institut Plekhanov – salah satu perguruan tinggi terkenal di Rusia. Dia menerima bea siswa dari pemerintah Rusia setelah lulus dari salah satu perguruan tinggi ekonomi di Bogor.

“Saya tidak pernah menerima surat undangan dari KBRI Rusia, mungkin ketlingsut (tercecer) atau tidak sampai ke tangan saya,” paparnya.

Apapun alasannya, sejak itu awan gelap terus menggelayuti kehidupan Soesilo. Pemerintah Indonesia langsung mencabut paspornya sehingga status kewarga negaraannya menjadi tidak jelas. Baru pada 1971 – pemerintah mengizinkannya pulang ke Indonesia.

“Itu pun langsung ditahan di bandara dan dibuang ke Buru,” ujarnya.

Selepas dari penjara, Soesilo berusaha kembali menormalkan jalan kehidupannya. Tidak mungkin bekerja di pemerintahan, dia kemudian berusaha berdagang berbagai kebutuhan barang barang kelontong di Jakarta. Namun cap sebagai antek Partai Komunis Indonesia – musuh besar orde penguasa saat itu masih kuat melekatinya. Puncaknya saat rumah dan tempat usahanya digusur, sedangkan dia sendiri di arak ke kantor Koramil terdekat.

“Saya di arak seperti maling dan diteriaki PKI- PKI. Saya bukan PKI,” katanya dengan mimik muka serius. “Pemahanan saya saat itu, PKI singkatan dari pakai kolor item (hitam),” imbuhnya sambil terkekeh kekeh.

Meskipun begitu, lulusan master Universitas Patrice Lumumba dan Institut Plekhanov Uni Soviet mengaku tidak menyimpan perasaan dendam kepada pemerintah Indonesia. Soesilo hanya merasa marah pada dirinya sendiri, sehingga tidak mampu menjadi inspirasi bagi bangsa ini menuju negara yang lebih baik. Pria usia lanjut yang sangat membenci gaya hidup hedonis ini, merasa bangsa Indonesia sudah terjerat terlalu jauh pada gaya hidup kapitalism.

Obsesinya saat ini di penghujung hari tuanya, dengan mengembangkan perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa biasa disingkat Pataba di Blora. Perpustakaan yang dibangun untuk mengabadikan sosok Pramoedya sebagai salah satu sastrawan di Indonesia yang lahir di Mlangsen Blora 6 Februari 1925 dan meninggal di Jakarta pada 30 April 2006 lalu.