NewsBalikpapan –

Penggiat lingkungan kecewa menyusul vonis ringan pelaku pembantaian orangutan di Kalimantan. Pengadilan menjatuhkan hukuman yang tidak mampu memberikan efek jera bagi perlindungan alam konservasi.

“Vonis hukumannya masih terlalu ringan,” keluh Manager Perlindungan Centre for Orangutan Protection (COP), Ramadhani, Jumat (13/7).

Ramadhani mengeluhkan putusan Pengadilan Negeri Buntok Kalimantan Tengah memvonis hukuman 6 bulan penjara berikut denda Rp 500 ribu bagi dua tersangka pembantai orangutan, Kamis lalu. Padahal dua tersangka, Muliyadi bin Landes dan Tamorang bin Ribin terbukti melakukan pembunuhan satwa dilindungi orangutan.

Perbuatan dua pelaku ini kelewat sadis dengan menembaki kera besar dewasa mempergunakan senjata angin, Januari lalu. Bukan hanya berhenti disitu, mereka memenggal kepala orangutan ini serta menghanyutkan bangkainya ke aliran Sungai Barito Buntok.

Polisi memang tidak butuh waktu lama mengungkap kasus ini serta menangkap dua tersangka kasusnya. Selama dalam pemeriksaan, para pelaku berdalih orangutan ini menjadi hama yang merusakan tanaman perkebunan kelapa sawit.

Dalam kurun waktu bersamaan, kasus serupa kembali terjadi di wilayah hukum Kalimantan Timur. Pengadilan Negeri Sangata Kutai Timur menjatuhkan vonis 7 bulan penjara dan denda Rp 50 juta bagi empat terdakwa kasus pembantaian orangutan.

Empat terdakwa terdiri Andi bin Hambali, Rustan bin Nasir, Muis bin Cembun dan Nasir bin Sakka divonis bersalah membantai orangutan di kebun sawitnya. Mereka menghujani tubuh orangutan mempergunakan senapan angin dimana ditemukan barang bukti 130 butir peluru.

“Alasannya orangutan merusak kebun sawit mereka,” kata Kepala Polres Kutai Timur, Ajun Komisaris Besar Teddy Ristiawan.

Polisi tidak butuh waktu lama menangkap lima tersangka dan satu diantaranya anak dibawah umur. Petani kelapa sawit dan nanas ini kesal perkebunannya dirusak orangutan yang diduga berdiam di Taman Nasioal Kutai.

Dalam proses penyidikan ini, Polisi mengamankan empat senapan angin yang dipergunakan menembak tubuh orangutan. Selain itu, ada juga juga barang bukti sisa proyektil senapan angin yang dipergunakan para tersangka saat itu. Turut diamankan barang bukti 1,5 kotak peluru senapan angin bersisakan 60 proyektil peluru.

Ringannya vonis hukuman pembantai orangutan ini yang menjadi sorotan. Ramadhani menilai hukuman penjara ini tidak mampu memberikan efek jera bagi pelaku pembantaian satwa dilindungi.

Sesuai aturannya, Ramadhani mengatakan, Undang Undang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistem menetapkan sanksi tegas bagi pelaku perusak lingkungan. Ancaman pembantai satwa dilindungi dikenakan hukuman penjara maksimal 5 tahun serta denda Rp 100 juta.

“Semestinya UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dipandang sebagai Undang-Undang yang sangat penting untuk menjaga keberlangsungan konservasi,” tegasnya.

Meskipun demikian, Ramadhani mengapresisasi kecepatan aparat hukum dalam memproses pelaku pembantaian orangutan saat ini. Penggiat lingkungan berharap kedepannya hakim mempertimbangkan efek kerugian upaya pelestarian orangutan di Kalimantan.

Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Samboja merupakan salah satu penggiat lingkungan yang fokus pelestarian orangutan di Kaltim. Selama delapan tahun terakhir, BOS melepasliarkan 86 individu orangutan di hutan restorasi Kehje Sewen Kutai Timur seluas 86.450 hektare.

“Sudah ada 86 individu orangutan di hutan Kehje Sewen,” kata juru bicara BOS Samboja, Nico Hermanu.

Nico mengatakan, pelepasliaran orangutan mampu meningkatkan populasi primata ini dihabitat alamnya. Populasi orangutan Kehje Sewen sebanyak 91 individu orangutan dengan daya tampung maksimal 150 individu orangutan.

Secara keseluruhan, BOS berhasil melepasliarkan sebanyak 340 individu orang di habitat alam hutan di Kalteng maupun Kaltim. Orangutan ini merupakan hasil peliaran orangutan sitaan pemerintah maupun penyerahan dari masyarakat.

Terbaru ini, BOS kembali melepasliarkan lima individu orangutan dinamai Julien (7), Erina (8), Cheril (7), Nikola (13) dan Choki (7). Kelimanya akan diberangkatkan dari Samboja Lestari langsung ke titik-titik pelepasliaran di Hutan Kehje Sewen yang berjarak 20 jam perjalanan.

Kondisi ini mendorong Yayasan BOS mencari kawasan hutan alternatif yang memenuhi syarat untuk pelepasliaran orangutan di masa yang akan datang. Dalam waktu dekat nanti, Hutan Kehje Sewen dianggap sudah terlalu  padat populasi orangutan.

“Masih ada ratusan orangutan di Samboja Lestari menanti dilepasliarkan, namun kapasitas hutan pelepasliaran yang saat ini ada masih kurang untuk menampung mereka,” tuturnya.

Yayasan BOS meminta dukungan masyarakat, pemerintah daerah, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menambah areal pelepasliaran di Kalimantan.