Tinjau kilang Pertamina BalikpapanNewsBalikpapan –

PT Pertamina (Persero) menyatakan pengembangan kilang minyak Balikpapan Kalimantan Timur senilai 4,6 miliar US dolar atau Rp 60 triliun. Pembangunan kilang minyak ini seluruhnya menjadi investasi jangka panjang Pertamina.

“Investasinya sebesar 4,6 miliar US dolar Amerika Serikat,” kata Direktur Mega Proyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina, Rachmad Hardadi di Balikpapan, Sabtu (22/10).

Rachmad mengatakan investasi pengembangan kilang nantinya seluruhnya berasal dari kantong Pertamina. Dia tidak menyebutkan sumber anggaran investasi yang akan digelontorkan Pertamina.

“Itu (sumber anggaran) nanti saja,” tuturnya.

Kilang minyak Pertamina Balikpapan, lanjut Rachmad hanya berkapasitas produksi 260 ribu barrel per harinya. Kilang minyak ini nantinya akan ditingkatkan kapasitas produksinya menjadi 360 ribu barrel per harinya.

Rachmad menargetkan peningkatan produksi BBM kilang minyak Pertamina Balikpapan terealisasi pada tahun 2019 mendatang. Produksi BBM kilang minyak Pertamina Balikpapan dipatok berstandar Euro 2.

Namun demikian, Rachmad memastikan kualitas produksi kilang minyak ini ditingkatkan hingga berstandar Euro 4 hingga Euro 5. Pencapaian BBM standar Euro 4 hingga Euro 5 diperkirakan mampu terealisasi pada pertengahan tahun 2021 mendatang.

“Sesuai tuntutan kebutuhan masyarakat produksinya akan ditingkatkan berstandar Euro 4 hingga Euro 5,” paparnya.

Peningkatan produksi kilang minyak Pertamina Balikpapan diproyeksikan guna memenuhi kebutuhan BBM wilayah Indonesia timur. Pertamina sedang dalam pengerjaan pembangunan apartemen setinggi 24 lantai bagi peruntukan karyawan Pertamina Balikpapan.

“Semua sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Apartemen ini akan dihuni karyawan Pertamina yang berdiam di perumahan Parikesit Balikpapan. Perumahan tersebut akan digusur menjadi gudang dan workshop pengembangan kilang Balikpapan,” ujarnya.

Rachmad mengklaim progres pengembangan kilang Balikpapan tidak menemui kendala berarti saat ini. Mereka hanya terkendala dalam penggusuran perumahan Pertamina yang diantaranya yang masih dihuni para karyawan purnakarya.

“Namun saat dijelaskan untuk kepentingan bangsa dan negara, mereka mau memahami,” ungkapnya.

Wakil Ketua Komisi 7 DPR RI, Fadel Muhammad mendukung penuh pembangunan kilang minyak Pertamina di Balikpapan dan Bontang. Rombongan Komisi 7 meninjau dua lokasi pembangunan kilang yang terletak di Balikpapan dan Bontang.

“Kami komisi 7 memberikan dukungan sepenuhnya,” katanya.

Fadel menyatakan sudah saatnya Indonesia mandiri dalam produksi BBM untuk kebutuhan dalam negeri. Menurutnya sumber daya manusia Indonesia sudah mumpuni dalam memproduksi BBM standar internasional.

“Bangsa kita sudah mampu menanganinya, apalagi teknologinya cukup sederhana,” ujarnya.

Sehubungan itu, Fadel tidak mempermasalahkan pembangunan kilang minyak yang sepenuhnya mengandalkan investasi Pertamina. Pembangunan kilang minyak Balikpapan diperkirakan menelan biaya mencapai 4,6 miliar US dolar Amerika.

“Dulu memang rencananya mengandeng negara lain. Namun diputuskan dilaksanakan Pertamina saja,” paparnya.

Fadel meminta produksi kilang minyak sebesar 360 ribu barrel per hari sudah terealisasi pada tahun 2019 mendatang. Produksi BBM kilang minyak Balikpapan merupakan awal pertumbuhan ekonomi di wilayah Indonesia timur.

Sejak tahun 2015 lalu, Pertamina sudah menargetkan pengembangan 4 kilang utama Indonesia berlokasi di Balikpapan, Cilacap, Dumai dan Balongan. Pembangunan empat kilang ini diperkirakan menelan investasi US$ 25 miliar untuk produksi 1,6 juta barrel crude oil. Pembanguunan kilang minyak Bontang diperkirakan menelan investasi sebesar US$ 12 miliar diatas lahan seluas 500 hektare.

Sebelumnya, Pertamina disebut sebut akan menggandeng sejumlah perusahaan migas internasional seperti JX Nippon Oil and Energy dan Saudi Aramco. Namun saat ini dipastikan Pertamina yang akan menanamkan investasi dalam proyek pembangunan kilang minyak nanti.

Kilang minyak Pertamina Balikpapan saat ini berkapasitas produksi BBM sebanyak 260 ribu barrel per harinya.  Sebanyak 60 persen crude oil merupakan impor dari negara lain.