Suseno menilai terganggunya arus lalu lintas akibat antrian truck besar untuk mendapatkan solar bersubsidi, terjadi karna tidak meratanya kuota pembagian solar bersubdi di SBPU di Kota Balikpapan.

Dishub menilai rencana Pertamina memindahkan penjualan solar bersubdi untuk truck ke SPBU yang berada di daerah pinggiran kota, belum bisa menyelesaikan masalah dan perlu diawasi

“Kalau memang itu akan dialihkan keluar kota dan didalam khusus kendaraan roda empat, itu juga bagus tapi sejauh ini memang belum diputuskan bagaimana kebijakanya,” jelasnya.

Sementara untuk pengaturan waktu buka seperti mulai jam 21.00 dinilai Suseno juga masih dilematis pasalnya truk yang mengantri sudah memadati ruas jalur SPBU pada pukul 18.00 Wita. “ Jadi memang ini masih sulit mengatasi, nanti masih harus dibahas kembali pemkot dan pertamina untuk persoalan ini,” ujarnya.

Seperti diketahui Pertamina berencana menjual kembali solar bersubsidi kesejumlah SPBU luar kota   seperti diruas jalan Soekarno Hatta mulai Km 4,5, KM 8, KM 14 hingga KM 38. SPBU itu nantinya dibuka secara serentak untuk mengantisipasi antrian. Sedangkan kendaraan pribadi roda empat yang mengisi solar bisa mengisi di SPBU dalam kota. Rencana ini akan dikomunikasikan lebih lanjut kepada pemkot Balikpapan.

Humas PT Pertamina Unit Pemasaran (UPms) Balikpapan, Bambang Irianto mengatakan konsumsi BBM subsidi terus mengalami peningkatan selama tiga bulan terakhir ini. Kenaikan terutama terjadi jelang kenaikan harga BBM subsidi yang akan diumumkan pemerintah pada April mendatang.

“Konsumsi BBM terus naik di Kaltim,” kata Kepala Humas PT Pertamina UPms Balikpapan, Bambang Irianto.

Bambang mengatakan realisasi konsumsi premium di Kalimantan Timur sebesar 52.745 kilo liter / bulannya. Besaran pasokan premium tersebut masih diatas ambang batas kuotanya yang hanya 51.683 kilo liter / bulannya.

Demikian pula konsumsi solar subsidi, kata Bambang yang meleset dari kuota penetapannya. Pemerintah menetapkan alokasi kuota solar subsidi Kalimantan Timur sebesar 23.091 kilo liter / bulan dengan realisasi 23.616 kilo liter / bulannya.

Terbukti terjadi penurunan drastis konsumsi pertamax sejak tiga bulan lalu yaitu dikisaran 1.530 kilo liter (Desember), 1.422 kilo liter (Januari) dan 1.347 kilo liter (Februari). Terjadi penurunan 5 hingga 7 persen setiap bulannya jelang kenaikan harga BBM.

Hanya konsumsi solar non subsidi yang tidak terpengaruh dengan kenaikan harga BBM pada April nanti. Konsumsi solar non subsidi terus meningkat yaitu 875 kilo liter (Desember), 970 kilo liter (Januari) dan 996 kilo liter (Februari).

Kalimantan Timur memperoleh kuota pasokan premium sebesar 1.593.168 KL, solar 845.379 KL dan minyak tanah 510.612 KL. Kuota BBM tersebut harus mencukupi kebutuhan masyarakat Kalimantan selama setahun ini.