Tinjau kilang Pertamina BalikpapanNewsBalikpapan –

PT Pertamina (Persero) mengungkapkan komitmen pemerintah membangun 4 kilang baru yang tersebesar di seluruh Indonesia. Pembangunan kilang pengolahan minyak ini guna mengantisipasi lonjakan konsumsi crude oil yang mencapai 2,4 juta hingga 2,8 juta barrel per harinya pada 2022 mendatang.

“Kita akan membangun 4 kilang minyak baru di Indonesia,” kata Direktur Pengolahan Pertamina, Rachmad Hardadi di Balikpapan, Kamis (2/7).

Salah satu yang sudah resmi akan dibangun adalah kilang pengolahan Bontang Kaltim menelan dana hingga 8 miliar US Dolar. Pembangunan kilang Bontang diatas lahan PT Badak NGL seluas 500 hektare dengan kemampuan olah 300 ribu barrel crude oil per hari.

“Kami perkirakan akhir 2019 sudah beroperasi kilang minyak Bontang,” paparnya.

Bontang menjadi kandidat terkuat mengingat lokasinya yang berdekatan dengan sejumlah asset Pertamina seperti bandara udara, pelabuhan laut, akses boiler hingga kepemilikan lahannya.  PT Badak NGL sudah menyiapkan lahan seluas 700 hektare yang akan dipergunakan dalam proyek pembangunan kilang pengolahan.

Selanjutnya, Hardadi membeberkan rencana pemerintah membangun 3 kilang baru (new grass root refinery) lain yang masing masing berkemampuan mengolah 300 ribu barrel per hari. Secara keseluruhannya 4 kilang baru ini mampu memproses sebanyak 1,2 juta barrel crude oil per hari.

“Satu kilang berlokasi di wilayah barat, sedangkan dua sisanya belum ditentukan,” tuturnya.

Pertamina nantinya akan mengkombinasikan kemampuan 4 kilang baru dengan 4 kilang lainnya yang sedang dalam proses upgrade. Pertamina sudah mempersiapkan dana 25 miliar US Dolar guna meningkatkan kemampuan 4 kilang di Indonesia yang berlokasi di Balikpapan, Cilacap, Dumai dan Balongan.

“Hasil upgrade 4 kilang  ini akan mampu mengolah sebanyak 1,6 juta barrel crude oil per harinya,” paparnya.

Kombinasi kilang baru dan upgrade diperkirakan mampu mengolah crude oil sebanyak 2,8 juta barrel per harinya. Produksi BBM ini akan sebanding dengan tingkat konsumsi masyarakat Indonesia yang diprediksi meningkat menjadi 2,8 juta barrel crude oil per harinya.

“Negara ini akan memiliki ketahanan energy saat produksi sebanding dengan konsumsi,” ujarnya.

Belum lagi adanya berbagai program energy alternative pemerintah yang diyakini mampu menurunkan konsumsi BBM. Menurut Hardadi adanya energy alternative mampu menurunkan asumsi konsumsi crude selama lima tahun kedepan.

Hardadi mengatakan Pertamina akan menggandeng patner strategis dalam pembiayaan pembangunan refinery development master plan 4 kilang ini. Dia menyebutkan ada sejumlah perusahaan minyak gas internasional yang sudah menyatakan ketertarikannya salah satunya yaitu JX Nippon Oil and Energy dan Saudi Aramco.

“Pertamina harus mayoritas dalam kepemilikan saham seluruh kilang kilang ini. Kami juga mempertimbangkan kerjasama dengan pihak lain yang mampu menjamin keberlangsungan pasokan crude oil kilang kilang ini selama jangka waktu 50 tahun kedepan,” paparnya.

Pertamina Unit Pengolahan V Balikpapan adalah salah satu yang sudah dipastikan akan ditingkatkan kemampuan olahnya menjadi 360 ribu barrel dari sebelumnya hanya 260 ribu barrel. Pertamina dipastikan menggandeng JX Nippon Oil and Energy dengan share kepemilikan saham 30 – 70 untuk pemerintah Indonesia dengan investasi sebesar 6 – 7 miliar US Dolar.