GAPKIBalikpapan –

Provinsi Kalimantan Timur sedang membangun terminal crude palm oil (CPO) di kawasan industry dan pelabuhan internasional Maloy Kutai Timur. Terminal CPO pertama di kawasan Indonesia timur ini nantinya akan menyedot anggaran sebesar Rp 254 miliar.

“Pembangunan ini menjadi rencana jangka panjang di Kaltim,” kata Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak, Rabu (10/7).

Terminal Maloy nantinya memiliki kapasitas bongkar muat sebanyak 2 ribu ton CPO per harinya. Awang sudah meresmikan peletakan batu pertama pembangunan terminal diatas lahan seluas 115 hektare Maloy.

Terminal CPO ini menjadi bagian dari masterplan percepatan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia di koridor Kalimantan. Pembangunan menggunakan anggaran multy years lewat alokasi dana pertama sebesar Rp 100 miliar dari pemerintah pusat.

Awang berharap terminal CPO ini nantinya mampu beroperasi pada 2014 mendatang. Pelabuhan ini menjadi pintu keluar seluruh produk produk perkebunan olahan dari Kalimantan Timur.

“Jadi semua hasil pertanian dan perkebunan  sudah tidak boleh dijual lagi ke luar semua harus diolah di Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional, sehingga akan digunakan untuk kepentingan industry maupun masyarakat Kaltim juga,” terangnya.

Selama ini kata Awang, hasil perkebunan di Kaltim dibawa keluar, sehingga tidak memberikan nilai tambah bagi masyarakat Kaltim. “Kalau diolah sendiri dan digunakan sendiri tentu ada nilai tambahnya sendiri, karena kita yang hasilkan,” tuturnya.

Disamping itu lanjutnya, pembangunan Kawasan Industri dan Pelabuhan kini terus dikebut pengerjaannya. Dari rencana luas lahan 1.000 hektar kini telah sekitar 577 hektar telah dibebaskan dan akhir tahun ditargetkan pembebasan lahan telah selesai.

Dia menambahkan, Maloy akan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus di Indonesia, karena dikawasan itu juga akan dibangun hotel, apatermen dan pusat perkantoran.