NewsBalikpapan –

Tubuh Romeo bersandar santai di dangau Pulau Lima dengan pongah – layaknya raja bersama permaisuri dan selir. Matanya tajam menatap pengunjung, dibatasi parit berisi air sedalam 1,5 meter mengelilingi pulau buatan Borneo Orangutan Survival (BOS) Samboja Kutai Kartanegara Kalimantan Timur.

“Adanya parit agar orangutan tidak keluar dari wilayah pulau buatan,” kata Koordinator Guide BOS Samboja, Imam Muslim dikutip dari BenarNews, Rabu (15/11).

Pejantan alfa usia 34 tahun ini mendominasi area seluas setengah hektare di pulau buatan. Ia menjadi satu jenis satwa primata yang memiliki kecerdasan diatas rata rata. Romeo ini satu diantaranya, rutin mengecek kedalaman parit mempergunakan sebatang ranting pohon yang dipatahkannya.

“Bila dia merasa air paritnya tidak terlalu dalam, dia berani untuk menyeberangi,” papar Imam.

Romeo tidak sendirian disini.  Ia ditemani dua betina lain, yakni Isti dan Fani yang masing berusia 18 tahun. Orangutan ini sengaja ditempatkan di pulau buatan setelah lulus sekolah peliaran konservasi BOS Samboja. Selama berbulan bulan, tiga individu orangutan ini dilatih mampu bertahan hidup di habitat aslinya.

Pengasuh orangutan mengenalkan pakan aslinya yang gampang ditemui di hutan Kalimantan seperti pisang, cempedak dan nangka. Mereka juga dilatih membuat sarang berupa kumpulan ranting ranting dan daun yang letaknya diatas pohon.

Mayoritas orangutan BOS Samboja memang sudah terlalu lama berinteraksi dengan manusia yang membuatnya lupa kebisaan alamnya.

“Rata rata merupakan peliharaan manusia atau ditemukan di perkebunan kelapa sawit dan diserahkan BOS Samboja. Mereka harus dilatih kembali agar bisa dilepasliarkan ke habitat alamnya,” papar Imam.

Meski demikian, bukan perkara gampang menjadikan orangutan benar benar siap kembali menghuni hutan Kalimantan. Secara bertahap, pengasuh mengenalkan predator orangutan dimana salah satunya adalah manusia.

Namun faktanya, beberapa individu orangutan terlihat tidak takut keberadaan manusia di sekitar mereka.

“Semestinya mereka sembunyi saat melihat ada manusia di sekitar mereka, namun disini malah balik memperhatikan. Romeo sudah cukup lama di pulau buatan, namun masih terbiasa dengan manusia. Ini tidak boleh,” sebut Imam.

BOS Samboja berdiri sejak 1991 sebagai lokasi konservasi primata orangutan Kalimantan. Di area seluas 1.800 hektare ini terdapat 155 individu orangutan hasil sitaan maupun penyerahan dari masyarakat. Para orangutan ditempatkan di 13 lokasi pulau buatan, kandang dan klinik kesehatan satwa.

“Mereka yang cerdas akan mengikuti pelatihan peliaran, sedangkan anak anak di tempatkan di klinik. Adapun yang cacat dan tua akan ditempatkan di kandang, mereka tidak mungkin dilepas liarkan,” papar Imam.

Setiap individu orangutan setidaknya butuh Rp 35 juta per tahun untuk kebutuhan pakan, nutrisi dan pakar kesehatan dibidangnya masing masing. BOS Samboja memperkerjakan sebanyak 114 pegawai untuk mengelola area seluas 1.800 dimana dalamnya ada orangutan dan beruang madu. Selama setahun, paling tidak BOS Samboja membutuhkan gelontoran dana jumbo Rp 7 miliar untuk konservasi orangutan dan beruang madu.

BOS Samboja juga rutin melepasliarkan orangutan di Hutan Kehje Sewen Kutai Timur seluas 86.450 hektare. BOS Foundation memperoleh hak pengelolaan (konsesi) restorasi ekosistim Hutan Kehje Sewen selama 60 tahun setelah menyetor sebesar 1,4 juta US dolar ke Pemerintah Indonesia.

Selama tujuh tahun terakhir ini, BOS sudah melepasliarkan sebanyak 45 individu orangutan ke Hutan Kehje Sewen.

“Kami butuh lokasi hutan Kalimantan yang masih asri dan Kehje Sewen cocok untuk habitat orangutan,” kata Humas BOS, Nico Hermanu.

Nico mengatakan, BOS Foundation rutin menggalang dana pelestarian orangutan sebagai satwa yang terancam punah di Kalimantan. Kucuran dana dihimpun dari berbagai non governmental organization (NGO) asing dari Jepang, Norwegia, Inggris, Jerman, Swiss dan beberapa negara Eropa lainnya. Beberapa perseorangan juga didapuk mengadopsi oranguan.

Selama 2016 saja, terjaring sebanyak 1.400 pendonor perseorangan yang turut serta menyumbangkan keperduliannya terkumpul Rp 1,1 miliar. Total dana sumbangan sukarelawan orangutan menurun dibandingkan tahun sebelumnya Rp 1,3 miliar.

“Meskipun dananya turun, namun total pendonor sukarelawan meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 1.200 orang,” ujar Nico.

Pengelola Fund Raising BOS Samboja, Haliza Nazir menambahkan, semua orang bisa terlibat menjaga pelestarian satwa orangutan Kalimantan. BOS Samboja membuka tour trip pengunjung dimana masing masing orang dikenakan beban biaya 50 US dolar.

“Dana ini yang dianggap sebagai dana adopsi untuk pelestarian orangutan disini. Hashim Djojohadikusumo pernah menyumbang Rp 1 miliar disini,” paparnya.

Selain itu,  BOS Samboja menyewakan 26 kamar pondokan bagi para sukarelawan maupun peneliti orangutan. Pondokan ini seluruhnya dihuni expatriat yang merogok kocek berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 2,9 juta per malamnya. Lokasinya tepat di tengah area hutan BOS Samboja sehingga bebas menikmati pemandangan alam Kalimantan.

Liza mengatakan, perusahaan perusahaan Kaltim juga mengalokasikan dana corporate social responsible (CSR) pelestarian orangutan. BOS Samboja mendorong mereka membangun sarana prasarana pendukung berbagai lokasi pelestarian orangutan.

“Dari mereka inilah dipergunakan untuk mengoperasikan BOS Samboja ini. Lokasi ini juga merawat 45 ekor beruang madu titipan dari pemerintah daerah yang membutuhkan dana cukup besar. Perawatan beruang madu terpaksa mempergunakan alokasi dana orangutan juga,” ungkapnya.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Sunandar Trigunajasa menyatakan, pihaknya terganjal keterbatasan sumber dalam penyelamatan satwa orangutan. Kementerian Lingkungan Hidup belum spesifik mengalokasikan anggaran pelestarian orangutan Kalimantan.

Saat ini, Sunandar hanya bisa mengandeng pihak pihak lain yang perduli pelestarian orangutan. BOS Samboja menjadi salah satu lembaga nirlaba yang perduli pada primata khas Kalimantan ini.

“Bila kami mendapati orangutan dan beruang madu, BOS Samboja menjadi lembaga pertama yang akan kami hubungi,” ujarnya.

Sunandar berharap nantinya pemerintah pusat dan daerah semakin padu menjalin kerjasama dalam melestarikan orangutan Kalimantan. Salah satunya dengan menjaga agar hutan Kalimantan bisa tetap lestari di masa mendatang.

The Nature Conservancy (TNC) Indonesia melansir penurunan populasi primata orangutan hingga 25 persen selama kurun 10 tahun terakhir. TNC melakukan riset di sejumlah hutan hutan Kalimantan mendapati fakta mengejutkan ini.

“Ada penurunan populasi orangutan yang masif di hutan Kalimantan,” ungkap Direktur Program Kehutanan TNC Indonesia, Herlina Hartanto.

Herlina mengatakan, TNC beserta sejumlah ilmuwan orangutan melakukan penelitian mendalam populasi satwa ini di hutan Kalimantan. Penelitian menggunakan sistim analisis permodelan data sebaran orangutan di habitat alamnya.

“Berdasarkan survey perhitungan sarang dan data keberadaan orangutan,” paparnya.

Selama beberapa bulan terakhir ini, Herlina mengaku melakukan wawancara masyarakat di 540 desa di Kalimantan. Berdasarkan data data ini, ia menyebutkan mampu memperkirakan keberadaan dan jumlah populasi orangutan secara akurat.

“Dengan memadukan kedua data tersebut, keberadaan dan perubahan jumlah populasi orangutan di seluruh Kalimantan bisa diperkirakan secara lebih akurat,” ungkapnya.

Saat ini, kepadatan populasi orangutan Kalimantan menurun menjadi 0,13 – 0,47 individu per kilometer persegi dari sebelumnya 0,45 – 0,76 individu per kilometer persegi. Pendataan ini dilakukan di habitat seluas 16 juta hektare atas 42 kelompok individu orangutan Kalimantan.

“Dari kelompok populasi ini, hanya 18 kelompok diantaranya yang lestari hingga 100 hingga 500 tahun kedepan,” ungkapnya.

Penurunan populasi orangutan disebabkan terjadinya penyusutan hutan primer Kalimantan, perburuan liar, kebakaran hutan hingga faktor perubahan iklim. Populasi orangutan menurun akibat masifnya eksploitasi perkebunan, hutan tanaman, pertambangan  dan pembangunan infrastruktur.

Sehubungan itu, Herlina menyatakan, perlunya komitmen pemerintah dalam mengurangi laju penurunan populasi orangutan. Pemerintah provinsi harus memasukan kawasan lindung habitat orangutan dengan melibatkan masyarakat dan industri perkebunan secara aktif.

Contohnya adalah keberadaan Bentang Alam Wehea Kelay seluas 308 ribu hektare yang ditetapkan sebagai kawasan ekosistim esensial (KEE) koridor orangutan. Penetapan koridor orangutan ini melibatkan pemerintah, masyarakat sekitar, swasta dan lembaga swadaya masyarakat perduli kelestarian orangutan.

“Populasi orangutan Kalimantan masuk katagori kritis oleh International Union for Conservation of Nature, harus memperoleh perhatian bersama,” tegasnya.