Akibat adanya gangguan distribusi tersebut, terpaksa kuota untuk Kaltim dan Kaltara dikurangi karena harus dibagi dengan Banjarmasin.

“Sebenarnya seminggu sebelum lebaran haji, kita sudah mengantisipasi bakal akan terjadi kenaikkan permintaan gas. Hanya saja, ketika itu terjadi gangguan distribusi ke Banjarmasin, sehingga kita juga prioritaskan Banjarmasin,” ucapnya.

Selama ini kata Bambang, untuk wilayah Banjarmasin mendapat suplay elpiji 3 kg dari wilayah Kabut yakni, setiap dua hari sekali mendapat jatah 500 hingga 600 metric ton. “Jadi memang ada dalam dua hari sekali ada dua kapal yang mengangkut LPG dari kabut 500 dan 600 metric ton ke Banjarmasin, distribusi itu yang terganggu,” tuturnya.

Namun pihaknya berjanji dalam tiga hari ke depan kondisi tersebut sudah normal kembali. Pasalnya Pertamina akan terus mendistribusikan tabung elpiji 3 kg ke pangkalan hingga 125 persen.

Sebenarnya kata Bambang kuota untuk Kaltim dan Kaltara selama ini mencukupi, karena mendapat pasokan setiap 4 hari sebanyak 1700 metric ton dan produksi Refreneri Unit (RU) V setiap hari berkisar 250 hingga 300 metric ton jika normal. Sedangkan jika tidak normal, produksi gas dari RU V bisa hanya 100 metric ton.

“Gas untuk Balikpapan tidak cukup karena produksinya hanya sekitar 250 hingga 300 metric ton per hari kalau normal, sedangkan kalau tidak normal hanya 100 hingga 200 metric ton saja. Jadi untuk menutupi kekurangan setiap 4 hari sekali ada kapal yang melakukan injeksi kesini sebanyak 1700 metric ton,” imbuhnya.

Terkait harga elpiji yang sudah terlanjur melambung tinggi hingga mencapai Rp 25 ribu per 3 kg ditingkat pengecer, PT. Pertamina tidak bisa bertindak. “Kami tidak bisa memberi teguran, kalau soal harga di pengecer, kalau dipangkalan atau agen mereka tidak akan berani untuk menaikkan harga tinggi, tetap dengan harga normal, kalau tidak akan terkena sanksi,” bebernya.

Kelangkaan tabung elpiji ukuran 3 kg tersebut, telah berimbas pada pedagang kecil. Sejumlah pedagang di Kota Balikpapan mengeluhkan kondisi tersebut. Bahkan, ada pedagang yang terpaksa tidak berjualan karena tidak mendapat pasokannya. Kalau pun ada mereka mengaku tidak sanggup jika harus mengeluarkan biaya hingga Rp 25 ribu per kg.

“Saya sudah dua hari tidak jualan, soalnya elpiji sulit, kalau pun ada harganya sampai 25 ribu, kan tidak mungkin. Biasanya harganya Cuma 14 atau 15 ribu, tapi ini naik tinggi, itu juga sulit dapatnya,” kata Suwardi, pedagang tahu goreng Balikpapan.