NewsBalikpapan –

Pagar besi rumah Agus Bei di Kelurahan Graha Indah Balikpapan Kalimantan Timur tertutup rapat. Hanya gembok yang terselip di gerendel kunci pagar rumah bercat hitam ini.

Terkesan tanpa penghuninya, rumah tinggal sederhana yang dialihfungsikan sebagai Kantor Mangrove Centre Balikpapan ini.

“Kalau siang, jam jam segini, Pak Agus biasanya di nongkrong di gazebo mangrove,” kata Maryati, pedagang warung kopi sebelah rumah saat ditanya Berita Benar, Jumat (26/1).

Dan benar saja,  pria setengah abad ini memang sedang bersantai di gazebo sembari menikmati kerindangan alam mangrove. Bersama dengan dia, ada serombongan bocah taman kanak kanak yang sedang menjalani tour field keindahan alam Mangrove Centre.

“Memang biasanya disini para pengelola hutan mangrove, ngadem di saat terik siang seperti ini,” tutur perantauan asal Banyuwangi ini kalem.

Gazebo Mangrove Centre ini terlihat nyaman dan asri dikelilingi pagar alam tumbuhan mangrove. Bangunan terbuat dari kayu ulin ini juga menjadi pelabuhan sandar delapan perahu sebagai sarana transportasi wisata mengarungi Teluk Somber.

“Pengunjung bisa menikmati wisata pemandangan alam mangrove berikut habitat aslinya seperti bekantan, buaya muara hingga burung burung asli Kalimantan,” ungkapnya seraya menambahkan memungut biaya sewa perahu warga yang dibadrol seharga Rp 300 ribu.

“Sewa perahu diperuntukan biaya pembelian BBM, jasa motoris perahu dan sisanya untuk perawatan Mangrove Centre. Saya tidak pernah mengambil dana kas Mangrove Centre untuk keperluan pribadi,” imbuhnya.

Rata rata pengunjung Mangrove Centre sebanyak 2 ribu orang terdiri turis asing maupun domestik. Hanya dari jasa penyewaan perahu, Mangrove Centre bisa mengantongi pemasukan kotor Rp 120 juta per bulannya. Pemasukan ini nantinya juga dipergunakan untuk modal pembangunan jembatan kayu ulin menembus hutan mangrove yang diperkirakan butuh dana Rp 1,2 miliar.

“Agar pengunjung bisa berjalan kaki melihat lihat kondisi mangrove tanpa perlu lagi menyewa perahu. Namun sarana jasa perahu tetap juga diberikan bagi mereka yang berminat,” sebutnya.

Uniknya, promosi Mangrove Centre hanya mengandalkan keaktifan pengelolannya memposting keindahan alamnya lewat sarana media sosial. Termasuk pula lewat pemberitaan media mainstreem yang tertarik meliput keberadaan Mangrove Centre.

“Pengelolaan Mangrove Centre seluruhnya dilakukan masyarakat setempat tanpa melibatkan unsur pemerintah daerah. Itu sebabnya tidak ada kutipan biaya tiket masuk area ini kecuali jasa sewa perahu,” ujarnya.

Kampung bencana

Padahal dulunya, Perumahan Graha Indah ini sempat menjadi bencana bagi penghuninya. Angin puting beliung hingga limpasan air rob Teluk Sombar kerap menerjang penghuni perumahan yang dipasarkan sejak tahun 1997 silam.

“Saya termasuk penghuni pertama disini sejak tahun 1997 dengan lokasi yang berhadapan langsung dengan Teluk Somber ini,” papar Agus Bei.

Sebagai perumahan katagori rumah sangat sederhana, Agus memaklumi perusahaan pengembang yang sekedarnya membangun perumahan tipe 36 ini. Perumahan guru ini berdinding batako, beratapkan seng dibangun diatas pondasi sekedarnya.

“Sehingga akhirnya saya bongkar ulang pembangunannya menghabiskan dana Rp 150 juta,” tuturnya.

Kebetulan pula, Agus Bei memilih rumah di lokasi yang tepat berhadap hadapan dengan hutan mangrove Somber seluas 250 hektare. Meskipun minim sarana publik, ia berpendapat adanya hutan mangrove membuat lingkungan sekitar terasa menyegarkan di siang maupun malam hari.

Namun semua itu berubah drastis, kala ada pembabatan besar besaran terhadap area hutan mangrove kawasan tersebut. Setidaknya terdapat 150 hektare kawasan hutan yang disulap menjadi area pertambakan ikan masyarakat.

“Ada perambahasan besar besaran mulai tahun 2000. Hutan mangrove ditebang semua di kawasan sini,” ungkapnya.

Agus Bei menyebutkan hawa di lingkungan perumahannya mendadak panas serta kerap banjir. Air pasang surut Teluk Somber terus meninggi hingga menggenangi rumah warga Graha Indah.

Belum lagi terjangan angin puting beliung, memporak – porandakan atap rumah warga yang terbuat dari seng maupun genteng.

Berawal dari situ, Agus Bei menarik kesimpulan ada benang merah antara hutan mangrove dengan gejala alam Graha Indah. Secara awam dia menyimpulkan, hutan mangrove menjadi benteng perumahan warga dengan gejala alam Teluk Somber.

Mulailah, pria tamatan SMA Banyuwangi ini menanam mangrove di lokasi bekas pembabatan hutan. Saking getolnya, ia disebut gila saat melakukan hal dianggap tidak berguna warga.

“Kebetulan saat itu sedang jadi pengangguran, perusahaan spare part juga bangkrut. Sehingga warga menyebut saya gila dan stress menjadi pengangguran,” tuturnya.

Bukan perkara mudah menanam mangrove tanpa bekal pengetahuan. Bibit mangrove sering mati maupun hanyut terbawa pasang surut air laut.

“Saya belajar otodidak memperhatikan proses mangrove di alamnya. Ternyata memang tidak mudah,” ungkapnya.

Hasil pengamatannya, Agus Bei mengetahui kunci utamanya adalah memastikan kualitas bibit, perawatan hingga pemilihan lokasi tanam. Bibit mangrove harus pula dipantau berkala selama masa dua tahun kedepan.

“Bibit berasal dari buah tua atau propagu yang dipetik pohon langsung. Bibit mangrove ditopang kayu yang kokoh agar tidak terhanyut proses pasang surut air laut,” tegasnya.

Sekian puluh jenis mangrove, Agus Bei merekomendasikan rhizopra mukronata yang cocok dengan perairan Indonesia. Buah mangrovenya dipilih yang panjang  minimal 50 centimeter.

Selanjutnya tidak kalah penting, membersihkan kawasan dari sampah plastik yang mengganggu pertumbuhan mangrove. Pemasangan jaring sampah menjadi pilihan agar sampah tidak menimbun kawasan mangrove.

“Kalau semua tahapan ini dilakukan, saya jamin akan tumbuh sehat kedepannya,” kata peraih Piala Kalpataru katagori perintis lingkungan ini.

Total keseluruhan, Balikpapan memiliki 2.700 hektare area mangrove di Kelurahan Margomulyo, Graha Indah dan Teritip. Keberadaannya masuk dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) Balikpapan sebagai kawasan hijau kota.

“Sudah kami masukan dalam RTRW sebagai kawasan hijau,” kata Kepala Badan Lingkungan Hidup Balikpapan, Suryanto.

Pemkot Balikpapan menetapkan 48 persen wilayahnya untuk kepentingan pembangunan ekonomi kota. Sisa kawasan seluas 52 persen ditetapkan menjadi area hijau dan konservasi.

“Sehingga setidaknya akan terjaga hingga tahun 2032 nanti,” paparnya.

Sebaliknya, Direktur Eksekutif LSM Stabil, Jufriansyah mengkritisi hutan mangrove yang dikorbankan demi kepentingan pembangunan. Luasan hutan mangrove Balikpapan mengalami penyusutan 30 per tahunnya.

“Mulai tahun 1999 mengalami penyusutan luasannya. Zaman dulu sangat gampang melihat bekantan di hutan mangrove. Ada pula cumi cumi, lobster dan kepiting di pantai Balikpapan saat itu,” ungkapnya.

Dulunya, hutan mangrove Balikpapan ada di Manggar, Lamaru, Kampung Baru, Somber hingga Kariangau. Lokasi lokasi ini seluruhnya adalah bibir pantai Balikpapan yang berhadapan langsung dengan Selat Makassar.

Saat ini, hutan mangrove berganti dengan perumahan, komplek pertokoan, pelabuhan, jembatan hingga kawasan industri. Sektor industri berdampak negatif permasalahan lingkungan serta pencemaran limbah kawasan pesisir pantai Balikpapan.