NewsBalikpapan –

Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menilai kebijakan network sharing akan efektif  bila diterapkan di remote area atau non komersil. Penerapannya mampu menekan biaya harus dikeluarkan masing masing perusahaan operator telekomunikasi.

“Mampu menekan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan operator dalam melayani jasa komunikasi remote area. Sehingga pada akhirnya masyarakat yang paling menerima keuntungan adanya sistim ini,” kata Komisioner BRTI, Muhammad Imam Nashiruddin di Balikpapan, Selasa (6/6).

Imam mengatakan, perusahaan operator telekomunikasi menanggung biaya tinggi dalam melayani jasa komunikasi di area area terpencil Indonesia. Saat ini dia menyebutkan, hanya sedikit operator telekomunikasi yang membuka investasi pembangunan infrastruktur di area perbatasan Indonesia.

“Secara keseluruhan jaringan telekomunikasi hanya mampu menjangkau 47 persen dari total keseluruhan luas wilayah Indonesia. Artinya terdapat 53 persen area yang masih masuk blank area atau sama sekali tidak ada jaringan komunikasi,” paparnya.

Kebijakan network sharing, menurut Imam, membuka kesempatan masing masing perusahaan operator berkolaborasi membuka jaringan di remote area. Masing masing perusahaan ini nantinya bisa menekan pengeluaran biaya operasional hingga 60 persen.

“Pemerintah tidak ikut campur tangan. Biarkan mereka saling berbicara sendiri business to business.

Ada beberapa model dalam penerapan network sharing, di antaranya adalah multi operator radio access network (MORAN) dan multi operator core network (MOCN). Pada model MORAN, dua operator atau lebih akan berbagi BTS, namun tetap menggunakan spektrum frekuensi masing-masing.

Sedangkan MOCN adalah berbagi BTS, sekaligus berbagi spektrum frekuensi. Dalam MOCN, kedua operator sepakat untuk saling berbagi spektrum yang dimilikinya.

Imam mengungkapkan, sistim MORAN mampu menekan biaya operasional hingga 30 persen. Demikian pula kajian MOCN penghematan hingga 60 persen.

Namun demikian, Imam mengakui, Telkomsel masih menolak penerapan network sharing diberlakukan di Indonesia. Sebagai penguasa jaringan telekomunikasi Indonesia, menurutnya penerapan network sharing akan berpengaruh terhadap pendapatannya.

“Pendapatan Telkomsel sebesar 70 persen berada di luar Pulau Jawa. Apabila network sharing diberlakukan akan berdampak negatif terhadap eksistensi pasar Telkomsel di luar Jawa. Padahal mereka sudah terlanjur menggelar investasi besar di luar Jawa,” paparnya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika sedang merumuskan ketentuan mengatur soal kerjasama network sharing yang diprioritaskan di remote area. Prioritas kerjasama network sharing akan dilakukan di beberapa kawasan non komersil di Indonesia.

“Pemerintah sedang merumuskan formula yang tepat soal network sharing ini. Salah satunya mengatur lokasi kerjasama di area non komersil Indonesia seperti perbatasan dan hutan. Saat ini Telkomsel memang masih menolak, tapi nanti juga mereka akan merasakan manfaatnya,” tuturnya.

Sales Manager Indosat Ooredoo Kalimantan, Dody Kusuma mengungkapkan sudah mulai memberlakukan network sharing dengan operator telekomunikasi XL Axiata. Kerjasama meliputi penguatan jaringan di dua wilayah yakni area Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan.

“Kami sudah menjalin kerjasama network sharing dengan XL di wilayah Makassar dan Banjarmasin. Indosat kuat di Banjarmasin sedangkan XL kuat di Makassar. Saling berkolaborasi saja,” ungkapnya.

Dody mengakui, sistim network sharing mampu meminimalisir biaya investasi infrastruktur operasional BTS di Makassar dan Banjarmasin. Dua operator Indosat dan XL akhirnya bisa memperlebar jaringan telekomunikasi dengan meminimalisir biaya investasi harus dikucurkan.

Dalam waktu dekat ini, Dody berniat melamar Telkomsel dalam kerjasama network sharing jaringan di area Kalimantan Utara dan Kalimantan Barat. Dia menyebutkan, Indosat mendominasi penguasaan pasar telekomunikasi di Kalbar sedangkan Telkomsel di Kaltara.

“Kalau kami diizinkan memanfaatkan jaringan Telkomsel di Kaltara, mereka juga boleh mempergunakan jaringan Indosat di Kalbar,” katanya.

Telkomsel dan Indosat merupakan dua operator jasa telekomunikasi utama di Kalimantan. Telkomsel memiliki 39 juta pengguna telpon seluler di Papua, Sulawesi dan Kalimantan. Adapun Indosat memiliki 3,5 juta pelanggan untuk wilayah Kalimantan yang berpenduduk 14 juta jiwa.