Semua itu, menurut Rahman disebabkan kecenderungan pola pikir yang salah diantara mayoritas mayarakat Indonesia. Pada umumnya, masyarakat Indonesia diperbudak pola pikir school minded atau sekolah dalam menggapai kesuksesan dalam hidup ini. Para orang tua selalu berpendapat bahwa pendidikan lewat jalur sekolah adalah menjadi kunci utama dalam meraih kesuksesan hidup ini.

Padahal tidak harus seperti itu. Rahman berpendapat bahwa orang tua juga musti mengetahui bakat serta minat sesungguhnya dimiliki anak anaknya. Jenjang pendidikan anak anak, seharusnya juga disesuaikan dengan bakat kemampuan sudah diberikan Tuhan pada masing masing anak manusia.

“Kunci utama kita adalah agar tahu bakat sebenarnya tersimpan dalam diri ini. Bila sudah tahu akan menjadi lompatan terbesar dalam hidup kita ini,” ujarnya.

Belahan otak manusia terbagi dalam lima golongan dominan yakni sensing, thingking, intuiting, feeling dan terakhir insting. Potret belahan otak manusia ini nantinya yang akan menentukan chemistry bakat dominan setiap orang. Siapapun yang mampu memadukan antara bakat miliknya dengan profesi sedang digelutinya akan memetik hasil sesuatu hal luar biasa.

“Masalah seperti ini yang jadi tantangan kita semua yaitu mencari bakat sesungguhnya dimiliki. Jangan sampai kita meniti jenjang pendidikan seperti orang yang berjalan dalam kegelapan sehingga terkadang menyesali akan jurusan pendidikan maupun karir yang sudah terlanjur kita pilih,” terangnya.

Dalam kelompok besar, menurut Rahman setiap bakat manusia terbagi dalam penggolongan dua bagian besar yakni tipe pemikir (eksekusi) dan pekerja (energik). Kelompok penggolongan ini menyimpan peran utama dalam menentukan bakat serta minat atas setiap profesi yang kerap digeluti manusia.

Sehingga sudah saatnya para orang tua merubah pola pikirnya dari school minded menjadi profesi minded. Menjadi kewajiban orang tua untuk menggali bakat terpendam anaknya agar selanjutnya diselaraskan dengan jenjang pendidikan yang ada. Perpaduan antara bakat, minat serta jenjang pendidikan akan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang luar biasa bagi profesinya nanti.

“Contohnya nyata adalah saya ini, tidak lulus sarjana namun bisa meraih apa menjadi cita cita saya. Sejak dulu, saya ini suka berbicara dan memberikan ceramah. Sekarang ini menjadi suatu kebahagiaan bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Saya sadar bahwa bakat saya selama adalah berbicara sehingga profesi paling cocok adalah menjadi motivator,” tuturnya.