Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendy sedang memperhatikan model kethel

Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendy sedang memperhatikan model kethel

Balikpapan –

Kethel uap berbahan dasar stainless almunium lengkap dengan bak penampung air berdiri kokoh di depan kantor Koperasi Kawasan Industri Kecil Tahu Tempe Somber Balikpapan Kalimantan Timur. Kethel ini bukan sekedar pajangan, tapi bisa berfungsi dengan baik untuk memasak santan kacang kedelai dalam prosesnya menjadi jenis makanan tahu maupun tempe.

Kethel itu sengaja dipamerkan di depan koperasi pada para tamu yang berkunjung di kawasan industry tahu tempe Somber,” kata Kepala Badan Pengelola Kawasan Industri Kecil Tahu Tempe Somber Balikpapan, Bahrun.

Kethel stainles almunium tersebut murni hasil kreasi pribadi Bahrun yang dalam pembuatannya musti merogoh koceknya dalam dalam. Kethel jadi ajang pembuktiannya demi mewujudkan mimpinya menciptakan alat multi guna bagi produsen tahu tempe Balikpapan. Bahkan, pembuatan kethel stainless almunium setinggi 2,5 meter ini menelan dana hingga Rp 100 juta.

“Saya hutang bank selama 2 tahun untuk membuat kethel stainless almunium itu,” ungkap Bahrun.

Bahrun tidak bermaksut gagah gagahan dengan membuat kethel yang tentunya tidak murah ini. Penghujung karirnya selaku pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Balikpapan, pria kelahiran 55 tahun silam ini bercita cita meninggalkan monumen sejarah bagi keturunannya.

Sesuai dengan jabatannya selaku penyuluh industry Kawasan Industri Kecil Somber – menciptakan teknologi kethel uap yang bermanfaat bagi produsen tahu tempe Balikpapan.

“Produsen tahu tempe Balikpapan selalu terkendala tingginya biaya produksinya. Sehingga semoga teknologi kethel ini bisa membantu mereka sekaligus monumen bagi pengabdian saya,” ujarya.

Selama 3 tahun mengelola kawasan seluas 3 hektare, Bahrun mengaku kerap menerima keluhan soal tingginya beban produksi pengolahan tahu dan tempe. Rata rata produsen tahu tempe Somber mampu memproduksi 50 hingga 400 kilogram biji kedelai per hari dengan biaya produksi total menjulang berkisar Rp 70 hingga Rp 120 juta.

Lantaran itu sejak 2007 silam, Bahrun mencoba melakukan research kecil kecilan untuk menciptakan alat yang efisien untuk pengolahan kacang kedelai. Berbagai upaya dilakukan, termasuk dengan membuat berbagai prototype kethel uap yang hampir seluruhnya gagal. Sela sela kesibukannya sebagai penyuluh industry, dia bekerja sama dengan beberapa bengkel las dalam mewujudkan rancangannya itu.

“Perjalanan membuat kethel ini panjang, banyak juga yang gagal sehingga jadi besi tua,” ungkapnya.

Bahrun sempat nyaris putus asa saat alat yang dibuatnya tidak kunjung membuahkan hasil. Namun semangatnya kembali timbul saat berkunjung di pabrik pembuatan tahu tempe di Tangerang. Di situ, kedelai di olah dengan mempergunakan teknologi tinggi sehingga mampu menghasilkan produksi tahu kualitas tinggi. Ide besarnya relative sama yaitu memanfaatkan teknologi kethel untuk memasak santan kedelai sebelum diolah menjadi tahu batangan.

“Saya mempergunakan sistim trial and error dalam membuat kethel. Percobaan pertama gagal semua hingga generasi ke enam ini yang akhirnya bisa berhasil,” paparnya.

Kunci utama kesuksesannya adalah dalam pemilihan bahan baku dalam pembuatan kethel uap agar selanjutnya berfungsi guna sesuai tujuan pembuatannya. Soal adanya safety pengamanan hanyalah instrument tambahan agar memudahkan pengoperasia alat kethel uap ini.

“Bahkan nantinya akan ditambahkan indicator panas kethel sesuai keinginan penggunanya. Kunci utamnya adalah pemilihan bahan baku sesuai hukum fisika yang saya pelajari,” tuturnya.

Berbekal alokasi kas pemerintah daerah dan dana pribadi, akhirnya usaha keras jebolan Akademi Teknologi Makassar Sulawesi Selatan ini terbalaskan. Resminya, kethel uap ciptaannya telah mampu memangkas 40 hingga 50 persen total cost produksi.

“Mampu menghemat hingga Rp 1,5 juta hingga Rp 4,5 juta per hari untuk produksi 50 hingga 500 kilogram kedelainya,” ujarnya.

Biaya produksi kethel itu sendiri seharga Rp 85 juta hingga Rp 120 juta untuk yang berbahan dasar stainless almunium. Harganya bisa makin ditekan murah seharga Rp 27 juta hingga Rp 35 juta, bila menggunakan bahan dasar besi.

“Hasil produksinya sama saja antara stainless dan besi. Kalau dari stainless memang terlihat bagus bentuknya seperti buatan saya yang jadi proyek percontohan di kawasan industry kecil Somber,” katanya.

Bahrun sempat bermimpi teknologi kethel ini bisa dimanfaatkan, bukan hanya warga Balikpapan tapi juga produsen tahu tempe seluruh Indonesia. Lantaran itu, dia tidak berniat mematenkan teknologi hasil rancangannya ini sampai kapanpun. Bahkan nantinya teknologi ini akan di bagi bagi pada mereka yang berminat membuat kethel uap untuk produksi tahu tempe.

“Panggil saja saya, nanti akan saya ajarkan praktek pembuatan kethel ini,” katanya.

Teknologi ini dijamin gampang dibuat serta pengoperasian dalam pembuatan tahu tempe. Sebagai langkah pertama, biji kedelai direndam selama hampir 3 jam untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Setelah kedelai dianggap sudah lunak langsung digiling untuk mendapatkan santan atau sari kedelai yang dimasak lewat proses penguapan uap panas.

“Proses pemanasan ini yang butuh bantuan kethel penghasil uap panas. Sisa pembuatan tahu bisa dilakukan seperti proses biasa dilakukan,” ungkapnya.

Teknologi ini terbilang baru untuk masyarakat Balikpapan. Bahkan di kawasan Somber sendiri, paling banyak ada empat produsen tahu tempe yang sudah bersedia beralih memanfaatkan kethel uap panas dalam memasak santan kedelai.

Baru baru ini, hanya Kabupaten Kutai Kartanegara yang ikut merasa tertarik untuk mengenalkan teknologi ini bagi warganya berprofesi produsen tahu tempe.