Bupati Kukar Silaturahmi Forkopimda
18 June 2019
Bupati Lantik 51 Pejabat Administrator dan Pengawas
19 June 2019

Menangkal Akhir Bisnis Tambang Kaltim

NewsBalikpapan –

Muhammad Fadhil (39) tertawa girang membuka pintu mobil multi purpose vehicle (MPV) miliknya. Driver transportasi daring Balikpapan Kalimantan Timur (Kaltim) semanak melayani pelanggan.

Setahunan ini, pria asal Jawa Timur menekuni profesi barunya.

“Paling penting halal demi menghidupi keluarga,” katanya membuka percakapan, Kamis (13/6/2019).

Fadhil pemain baru di jasa layanan transportasi online Balikpapan. Sebelumnya, sempat jadi pengangguran delapan bulan terakhir.

Semua gara gara perusahaan subkontraktor tambang tempatnya kerja sepi order. Disitu, ia menyopiri truk yang beraktifitas di wilayah site tambang Kabupaten Kutai Kartanegara.

“Perusahaan sepi order sejak tahun 2016 lalu. Padahal jasa saya dihitung saat menjadi sopir di lokasi tambang,” keluh Fadhil.

Sektor tambang Kaltim hampir lumpuh sepuluh tahun terakhir ini. Imbasnya bak efek domino, satu persatu perusahaan subkontraktor bertumbangan.

Seperti juga jasa rental mobil tambang yang jamak ditemui di Samarinda dan Balikpapan.

Lama menganggur membuat Fadhil banting stir peruntungan sopir transportasi daring.  Mobil pinjaman mertua menjadi modal menjaring penumpang.

“Mertua kan juga tidak ingin kalau cucunya tidak bisa makan,” tuturnya sembari terkekeh ramah dibelakang kemudi.

Perusahaan subkontraktor tambang terdampak lesunya ekonomi Kaltim. Mereka yang dulunya sempat jaya harus memutar otak agar dapur tetap kepul.

“Kalau tidak mobil keluar artinya tidak ada pendapatan masuk,” keluh Fadhil.

Dalam kasus ini, Fadhil tidak dipecat perusahaan. Tapi kalau sepi order – sama saja ceritanya pulang tanpa memperoleh hasil.

“Akhirnya memberanikan diri pinjam uang mertua, beli mobil untuk jadi driver online. Istilahnya dapat kredit lunak dari mertua, diangsur per bulannya,” papar Fadhil puas pendapatan kotor Rp 6 juta per bulan.

Fadhil contoh mereka yang terimbas lesunya ekonomi Kaltim. Banyak diantara mereka ini yang beralih profesi di sektor bukan bidang utamanya.

Padahal dulu, mereka hidup mapan dengan gaji belasan juta per bulan. Kemapanan ekonomi yang menggairahkan sektor lain.

Seperti bisnis perumahan ttumbuh subur di Samarinda dan Balikpapan. Pengembang level besar, menengah, kecil hingga makelar amatir  menawarkan beragam hunian kisaran harga Rp 250 juta hingga Rp 1,5 miliar per unit.

Dimasanya banyak terjadi investasi properti menjanjikan dengan keuntungan berlipat.

 “Tetangga saya menjual rumahnya seharga Rp 600 juta dari harga beli pertama cuma kisaran Rp 250 juta pada lima tahun lalu,” papar Dani (40), warga Balikpapan.

Berharap peruntungan sama, Dani lantas ikut menawarkan rumahnya di komplek Kumala Residence Balikpapan. Tidak tanggung tanggung, ia mematok harga Rp 850 juta  untuk rumah tipe 60.

Ia berharap harga rumahnya terkerek berkat bergairahnya bisnis properti di Balikpapan. Lebih lagi saat bersamaan, mereka pindah ke Yogjakarta.

“Saya percaya diri menawarkannya dengan harga Rp 850 juta sejak 2017 silam,” katanya.

Artinya, Dani mengincar untung Rp 550 juta harga rumahnya.

Namun malang tidak bisa dihindari dan untung pun sulit diraih. Alih alih untung besar – rumahnya tidak dilirik pembeli dua tahun ini.

Padahal, pria ini butuh dana segar modal usaha di kota barunya.

“Kok rumah saya hingga kini tidak ada yang beli ? Saya tetap bertahan dengan harga sebesar ini,” tegasnya.

Dani bukan satu satunya keluarga menjual rumah. Komplek perumahannya terdapat empat hunian lain memasang papan plang tertulis DIJUAL.

Harganya pun tidak murah, Rp 745 juta hingga Rp 1,5 miliar.

“Semuanya belum laku laku hingga sekarang ini. Kalau tetangga saya terpaksa menjual rumah setelah tidak lagi kerja di tambang atau migas,” ungkap Dani.

Bergeser ke komplek sebelah kondisi kurang lebih sama. Graha Permata Residence, 200 meter jaraknya dari rumah Dani.  Lima tahun ini, sepertiga huniannya kosong oleh tulisan dijual atau dikontrakan.

“Sama juga terjadi di perumahan sebelah, tapi tidak laku laku,” papar Dani.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) di Samarinda mengakui lambatnya ekonomi Kaltim selama empat tahun ini.

Ekonomi tersuram terjadi masa 2015 dan 2016.

“Pertumbuhan  ekonomi terparah selama tahun itu. Pertumbuhan ekonomi minus hingga 1,2 persen,” papar Kepala BI Samarinda, Muhammad Nur.

Masa jaya batu bara, Kaltim menikmati pertumbuhan ekonomi hingga 7 persen. Sektor industri batu bara menopang 46 persen dari total pendapatan domestik regional bruto (PDRB) Kaltim pasca surutnya sektor migas.

Kini berbanding terbalik dimana harga batu bara dunia dibawah 50 US dolar. Berbanding terbalik masa keemasannya mencapai 130 US dolar.

PT Berau Coal Energy Tbk pun sempat mengeluhkan anjlokny harga batu bara seharga 60  US dolar semasa 2013. Permintaan pasar dunia sangat terpengaruh luapan produksi China sejak 2010.

Mereka terpaksa membidik negara negara ASEAN sebagai pasar baru produksi batu bara. Perusahaan pemegang izin kontrak karya produksi 23,5 juta ton ini menjaga keberlangsungan produksi di Kaltim.

Setelah bertahun tahun,  pertumbuhan ekonomi Kaltim tak kunjung membaik. Meskipun sudah positif – pertumbuhan kisaran 2,8 hingga 3,1 persen tahun 2017/2018.

Prosentase nonperforming loan (NPL) berangsung angsur turun dibawah 5 persen.

“Kami prediksi pertumbuhan tahun ini juga sama tahun sebelumnya. Meskipun trennya positif secara bertahap,” papar Nur.

Berpegang labilnya industri batu bara, Nur menyarankan Pemprov Kaltim menerapkan kebijakan diversifikasi ekonomi guna menyeimbangkan industri tambang. Menurutnya ada sejumlah sektor berpotensi dikembangkan, kelapa sawit, pertanian, perdagangan dan pariwisata.

“Agar porsi tambang tidak lagi dominan saat sektor lainnya bertumbuh. Ekonomi Kaltim sangat penting juga bagi pertumbuhan seluruh area Kalimantan,” ujarnya.

Usulan Nur ini sesuai kajian pimpinan BI semasa pertengahan 2017 silam. Evaluasi kala itu menyimpulkan pertumbuhan ekonomi Pulau Kalimantan hanya 2 persen tertinggal jauh dibandingkan Jawa dan Sumatra.

“Kaltim berkontribusi dominan dalam pertumbuhan ekonomi Kalimantan,” ujarnya.

BI mencatat tren pertumbuhan positif ekonomi nasional di angka 4,9 persen tahun 2016. Sebaliknya realisasi pertumbuhan ekonomi Kalimantan mentok diangka 2 persen.

Kalimantan hanya berkontribusi 8 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara, industri di Jawa dan Sumatra penyumbang pertumbuhan nasional secara keseluruhan.

Adapun Kalimantan tergantung komoditas bahan baku mentah batu bara, crude palm oil (CPO) dan migas.

“Sehingga saat harga bahan baku row materials ini jatuh di pasaran, berdampak langsung pada ekonomi daerah,” papar Nur.

Diversifikasi industri Kalimantan bisa menyasar pengembangan pelbagai produk turunan batu bara maupun CPO. Sektor industri pariwisata dan jasa pun menjadi pilihan guna meninggalkan ketergantungan tambang.

Provinsi Kaltim sejak lama mengidamkan investasi turunan pengolahan bahan mentah. Hingga saat ini, industri pengolahan perkebunan kelapa sawit hanya menyentuh pembuatan CPO.

CPO merupakan bahan dasar pembuatan minyak goreng, margarin dan komestik. Sedangkan batu bara bisa diolah menjadi amonium nitrat, pupuk, NPK dan listrik.

Kaltim sendiri kaya potensi perkebunan kelapa sawit seluas 3 juta hektare. Demikian pula eksploitasi tambang di Penajam Paser Utara, Paser, Kutai Kartanegara, Samarinda, Kutai Timur, Kutai Barat hingga Berau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *