Kepala Seksi Statistik Produksi Badan Pusat Statistik Kota Balikpapan Umar Riyadi mengatakan setelah mengalami deflasi selama dua bulan berturut – turut, akhirnya Balikpapan kembali mencatatkan inflasi pada Desember sebesar 0,26%. 

“Inflasi ini didorong oleh naiknya harga semen yang mengerek sumbangan andil sektor perumahan bagi inflasi kota mencapai 0,16%. Kemudian oleh sektor bahan makanan yang memberi andil sebesar 0,06% akibat adanya momen Natal dan Tahun Baru,” kata Umar.

Ia menyebutkan, angka inflasi ini lebih rendah bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 7,38%. Meskipun, angka ini tidak bisa mengikuti rekor inflasi yang pernah ditorehkan pada 2009 yang mencapai 3,60%.

Terpisah Kepala Cabang Bank Indonesia Balikpapan Tutuk SH Cahyono menuturkan, tidak dibarenginya dengan penyaluran kredit modal kerja dan investasi memungkinkan angka pertumbuhan ekonomi masih cukup tinggi.

“Penurunan angka inflasi ini menjadi hal yang cukup bagus bagi pertumbuhan ekonomi Kota Balikpapan. Angka pertumbuhan ekonomi 2011 mencapai 9,5% tanpa migas dan 5,5% dengan memasukan sektor migas,” kata Tutuk. 

Sedangkan pada 2010, pertumbuhan ekonomi Balikpapan mencapai 8,79% tanpa migas dan 5,19% dengan migas. Lambatnya pertumbuhan ekonomi di sektor migas terjadi karena adanya beberapa perbaikan pada unit pengolahan pertamin ayang mengurangi kapasitas produksi.

“Sektor migas sebenarnya cukup volatil pertumbuhan perekonomiannya karena mengandalkan kesiapan dalam pengolahan. Namun angka pertumbuhan tanpa migas bisa menjadi acuan bahwa perekonomian di Balikpapan bisa tumbuh cukup baik,” tandasnya.