Mangrove Center BalikpapanBalikpapan –

Seluas dua hektare lahan mangrove center di Kelurahan Graha Indah Balikpapan Kalimantan Timur dibabat warga yang sedang membangun perumahan. Rusaknya hutan mangrove mengancam kawasan ini yang rawan banjir luapan air sungai Balikpapan.

“Dalam kawasan 2 hektare itu ada sekitar 20 ribu pohon. Itu hutan yang rapat dan bagus sekali,” kata pengelola Mangrove Center Balikpapan, Agus Bei, Jumat (24/5).

Agus mengatakan perambah hutan mangrove ini adalah warga Balikpapan yang berniat pengembangan kawasan perumahan. Mereka menggunakan berbagai peralatan gergaji mesin sehingga dalam sekejap mampu membabat mangrove yang sudah berumur 25 – 50 tahun.

Kawasan tersebut menjadi habitat alam berbagai satwa seperti primate bekantan, biawak, burung hingga buaya. Wilayahnya adalah hutan bakau primer yang garis tengahnya bisa mencapai 30 centimeter.

“Keadaan juga lebih senyap karena biasanya ada saja suara burung atau satwa lain. Setelah kami datangi, benarlah, pohon-pohon sudah ditebang sedemikian luasnya,” cerita Agus.

Saat melakukan cek lapangan, Agus mendapati enam orang yang melakukan pembabatan mangrove dengan tujuan pengembangan perumahan.  Agus dan warga segera menghentikan penebangan dan menjelaskan bahwa kawasan itu termasuk dalam Mangrove Center, kawasan hutan mangrove atau hutan bakau yang dilindungi.

Meskipun aksi orang orang ini bisa dihentikan, Agus menyesalkan kerusakan sudah terlanjur terjadi. Padahal bila diibaratkan sebagai rumah, menurutnya mangrove bisa diartikan sebuah pagar dari pelindung terjangan alam.

Dahulunya kawasan ini langganan banjir di setiap tahunnya akibat luapan air sungai sekitar plus angin putting beliung dari arah Teluk Balikpapan. Namun hutan mangrove mulai tumbuh, katanya berangsur angsur ancaman banjir terus berkurang.

“Sudah tidak ada lagi banjir dari kawasan ini,” ujarnya.

Namun dengan adanya kerusakan ini, Agus menilai akan berdampak pada perubahan alam kawasan mangrove center Balikpapan. Dia hanya berharap kerusakan alam tidak terlalu parah sehingga berdampak langsung pada kehidupan masyarakat sekitar.

“Kami akan berusaha menanam kembali mangrove yang rusak itu, meskipun butuh waktu untuk besar lagi seperti dulu,” ungkapnya.