NewsBalikpapan –

Buka puasa bersama di Masjid Abdullah Quilliam, Liverpool, Inggris, dua pekan lalu didominasi obrolan tentang Mohamed Salah. Bintang asal Mesir itu menjadi pahlawan setelah mencetak 44 gol dan membawa Liverpool FC ke final Liga Champions Eropa. Pemain sepak bola terbaik Inggris musim 2017/2018 itu juga menyumbangkan lima gol dan mengantar negaranya ke Piala Dunia 2018-penampilan pertama mereka setelah 28 tahun.

Setelah menghabiskan samosa-kue goreng-seorang anggota jemaah, Rifat Khan, berbicara lebih jauh ketimbang sekadar gol. Seperti ditulis harian Inggris, Mirror, suporter Liverpool itu menilai Salah mengikis pandangan buruk masyarakat Inggris terhadap Islam. “Ketika para fan meneriakkan yel-yel tentang Salah sebagai muslim, saya merasa lebih diterima. Tidak lagi dilihat sebagai pendatang, karena saya juga muslim,” kata Khan, 25 tahun, korban kekerasan rasial saat remaja.

Dengar saja pekikan girang para penggemar The Reds-julukan Liverpool-saat Salah mencetak gol. “If he’s good enough for you, he’s good enough for me. If he scores another few, then I’ll be muslim too.” Gubahan Good Enough milik Dodgy itu diakhiri “Sitting in the mosque, that’s where I wanna be.”

Salah, 25 tahun, muncul sebagai fenomena di waktu yang tepat. Rentetan serangan teroris, termasuk pengeboman di London dan di Manchester tahun lalu, membuat angka islamofobia di Inggris mencapai 47 persen. Situs Football Against Racism in Europe menempatkan stadion-stadion di Inggris sebagai tempat insiden rasisme dan islamofobia terbanyak di Eropa selama 2014-2017.

Pada Maret 2015, saat jeda laga Liverpool versus Blackburn, Abubakar Bhula dan Ashif Bodi menunaikan salat magrib di kolong tangga di salah satu sudut Stadion Anfield. Seseorang mengunggah foto mereka di Twitter dengan tulisan “memalukan”.

Express memberitakan bahwa insiden yang sama terjadi pada 2013, saat sekelompok penonton yang sedang beribadah salat magrib berjemaah diintimidasi sesama suporter di Stadion Boleyn Ground, London, kandang West Ham United. Di Nice, Prancis, wali kota dan pengurus federasi sepak bola mengancam akan memotong subsidi bagi klub yang melanggar “Aturan Sekularisme”, termasuk salat di stadion. Alasannya, seperti ditulis situs The Local, sepak bola adalah olahraga universal yang tak boleh dicampuradukkan dengan praktik religi.

Salah, yang hijrah dari AS Roma di Italia ke Liverpool pada Juni tahun lalu, menyatakan identitas keagamaannya secara terang-terangan. Sebelum kick-off, dia selalu menengadahkan tangannya. Juergen Klopp, Manajer Liverpool, mengatakan pemainnya itu selalu khusyuk berdoa setiap kali hendak memulai laga. “Termasuk berwudu dan hal-hal lainnya,” ucap pelatih asal Jerman itu. Setelah menjebol gawang lawan, Salah memilih bersujud syukur ketimbang jejingkrakan.

Ashif Bodi mengatakan aksi itu membuat suporter, baik di stadion maupun pemirsa televisi, lebih menerima cara umat Islam beribadah. Dia menyebutnya “Efek Salah”. Meski Anfield telah memiliki ruang sembahyang sejak 2016, dia masih menunaikan salat di kolong tangga sesekali. “Tapi tidak ada lagi yang memberikan pandangan aneh,” kata warga Liverpool itu kepada Middle East Eye. Kebiasaan sujud sebagai perayaan gol pun menular ke bocah-bocah di Inggris.

Mengapa Salah bisa menjungkirbalikkan persepsi dalam tempo kurang dari setahun? “Karena gol-golnya, tentu saja, ha-ha-ha…,” ucap Chris Pajak, analis di The Redmen TV, kanal penggemar independen Liverpool. Dengan 44 gol dalam satu musim, pemain kidal itu hanya kalah dibanding Ian Rush, legenda The Reds yang mencetak 47 gol pada musim 1983/1984.

Perilaku Salah di luar lapangan juga membuat penggemar seperti Pajak jatuh hati. Salah adalah antitesis dari kebanyakan bintang sepak bola, yang hedonistis, doyan gonta-ganti pacar, dan gila pesta. Selain di lapangan, Salah biasa ditemui di masjid saat salat Jumat. Biasanya dia bersama Sadio Mane, tandemnya di lini depan Liverpool, asal Senegal. Keduanya selalu membalas sapaan para penggemar dengan ramah. Abdullah Quilliam, masjid tertua di Inggris yang dibangun pada 1887, menikmati 10 persen kenaikan anggota jemaah sejak Salah kerap Jumatan di sana.

Di Mesir, Salah membangun stasiun ambulans dan pusat pendistribusian makanan bagi warga miskin. Saban bulan, dia menyalurkan bantuan kepada 400 keluarga miskin dan madrasah yang diikuti seribuan anak, yang mengajarkan Islam moderat serta menjauhkan mereka dari ekstremisme. Saking cintanya kepada pemain itu, lebih dari sejuta warga Mesir menulis “Mohamed Salah” di kertas pemilihan umum, meski jelas-jelas Salah bukan calon presiden. April lalu, Kerajaan Arab Saudi menghadiahinya sebidang tanah di Kota Suci Mekah. Aidh al-Qarni, cendekiawan Arab Saudi dan penulis La Tahzan, mengatakan Salah telah merepresentasikan Islam dengan cara terbaik. “Mungkin lebih baik dari seratus atau seribu khotbah,” tulis Al-Qarni di akun Twitternya.

Sebelum Salah menjadi ikon, dalam skala lebih kecil, sejumlah pemain sepak bola muslim merebut hati Eropa. Rabah Madjer asal Aljazair mengawalinya pada 1980-an, lalu ada megabintang Prancis, Zinedine Zidane, pada 1990-an. Pemain muslim mulai bertebaran di Benua Biru pada pertengahan 2000-an. Mereka memiliki kelebihan karena pantang menyentuh alkohol dan judi. “Intinya, jauh dari masalah,” ujar Sam Cunningham, penulis artikel sepak bola di situs I News.

Contohnya saat Sam Allardyce mendatangkan Ali al-Habsi ke klub Liga Primer Inggris, Bolton Wanderers, pada 2006. Dia kerap mendampingi kiper Oman tersebut ke masjid. Paul Pogba di Manchester United, Mesut Oezil dan Shkodran Mustafi di Arsenal, serta Edin Dzeko di AS Roma adalah segelintir contoh bintang yang aktif saat ini.

Perubahan pun datang mengikuti. Tempat latihan Arsenal dan Liverpool hanya menyediakan makanan halal. Musala dibuka di berbagai stadion, seperti Saint James Park di Newcastle dan Emirates di London. Bahkan Allianz Arena, kandang Bayern Muenchen, punya masjid. Rumah ibadah yang juga memiliki imam tetap dan perpustakaan itu dibangun atas usul dan urunan para pemain Muenchen, di antaranya Franck Ribery. Liga Primer Inggris sampai mengganti kebiasaan memberikan sampanye kepada man of the match karena Yaya Toure, gelandang muslim Manchester City asal Pantai Gading, kerap merebut gelar itu dan selalu mengoper hadiah minuman beralkohol tersebut kepada rekannya.

WAJAH Islam di kancah sepak bola tidak seindah gol-gol Mohamed Salah. Tiga tahun lalu, 13 remaja di Mosul ditembak mati oleh pasukan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Penyebabnya, mereka menonton tayangan Piala Asia yang menampilkan laga antara Irak-negeri mereka-dan Yordania. Setelah memberondong mereka dengan senapan mesin, eksekutor baru menyatakan bahwa para remaja itu melanggar aturan agama dengan menonton sepak bola.

Setahun sebelumnya, Boko Haram meledakkan bom di arena nonton bareng laga Piala Dunia 2014 di Nayi-Nama, Damaturu, Nigeria. Akibatnya, 21 orang tewas saat menyaksikan pertandingan Brasil melawan Meksiko itu. Abubakar Shekau, pemimpin organisasi militer tersebut, mengatakan sepak bola adalah musuh Islam. Dalam pergelaran Piala Dunia tahun ini, ISIS menyatakan akan membunuh Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Ancaman itu dilengkapi poster bergambar eksekusi dua megabintang tersebut dengan latar belakang Stadion Luzhniki, Moskow.

Banyak dalil yang mengharamkan sepak bola. Misalnya dalam kitab Inarotud Duja karya Syekh Muhammad al-Maliki, yang menyamakan bola sepak dengan kepala Husein, cucu Nabi Muhammad, yang dipenggal dan ditendang-tendang dalam Peristiwa Karbala. Alasan lain, menurut sebagian orang, adalah pemain mengumbar bagian badan yang tak boleh kelihatan. Menurut hadis riwayat Bukhori, “paha adalah aurat”.

Ada juga yang mengaitkannya dengan larangan penerimaan hadiah. Dalam hadis riwayat Ahmad, Tarmizi, dan Abu Daud disebutkan, “Tidak ada hadiah perlombaan kecuali dalam balapan unta, memanah, atau pacuan kuda.” Yang terbaru, pada 2003, seperti ditulis Washington Post, ulama Arab Saudi, Syekh Abdullah al-Najdi, mengharamkan sepak bola, kecuali dimainkan sebagai latihan berjihad.

Al-Shabaab, kelompok militan yang berafiliasi dengan Al-Qaidah di Somalia, mencoba memberi gambaran sepak bola halal versi mereka. Wartawan Al Jazeera, Hamza Mohamed, menuliskannya dari Barawe, wilayah yang dikuasai kelompok pemberontak itu, pada Juli 2014, saat seluruh kolong langit menikmati Piala Dunia.

Pemain boleh mengenakan jersey klub-klub Eropa, asalkan berlengan panjang. Seragam merah-putih Arsenal menjadi pilihan terbanyak di antara 40-an kombatan Al-Shabaab. Celana wajib menutupi lutut. Berapa pun waktu tersisa, peluit panjang bertiup 15 menit menjelang azan. Saat terjadi gol, selebrasi yang diizinkan adalah takbir dengan telunjuk teracung. Buka baju dan pamer otot ala Mario Balotelli dianggap sebagai pornoaksi dan pelakunya dikenai sanksi larangan bermain seumur hidup. Pemain yang bergoyang pinggul ala Roger Milla dihukum cambuk.

Wasit, selain tidak menggunakan kartu dan berwenang memberikan hukuman di tempat, anti-omongan jorok. Pemain yang kedapatan berkata kasar ditarik dari garis depan. Kalau pemain itu anggota brigade bom bunuh diri, namanya dihapus-hukuman yang dinilai paling memalukan karena menunda perjalanan menuju janah.

Tentu saja banyak ulama berpendapat lain. Mufti Arab Saudi, Syekh Abdul Aziz bin Abdullah al-Sheikh, mengatakan fatwa Al-Najdi ngaco dan harus dituntut ke pengadilan syariah. Bahkan akhir tahun lalu Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman mencabut larangan keberadaan perempuan di stadion. Keputusan ini menyusul diizinkannya perempuan mengendarai mobil.

Adapun, seperti dikutip dari Arab News, Mufti Besar Mesir Shawki Allam membolehkan pemain tim nasionalnya tidak berpuasa selama Ramadan tahun ini untuk berkompetisi di Piala Dunia. Mereka disamakan dengan musafir, yang boleh menunda puasa hingga kembali ke rumah. “Namun tetap lebih baik jika mereka berpuasa,” kata Allam.

Mesir akan melakoni laga perdana di Piala Dunia 2018 bertepatan dengan Idul Fitri, 15 Juni, melawan wakil Amerika Latin, Uruguay. Kabar buruknya, Raja Mesir-julukan Mohamed Salah-masih dirawat di Spanyol untuk menyembuhkan cedera bahu kiri yang ia peroleh saat Liverpool ditaklukkan Real Madrid di final Liga Champions Eropa, 27 Mei lalu. Di Twitter, dia mengunggah foto dirinya sedang melatih otot bahu. “Meski sulit, saya yakin bisa tampil di Rusia dan membuat kalian semua bangga,” ujar Salah.