Masjid Hasanuddin

Masjid Hasanuddin

Tenggarong –

Selama puluhan tahun silam, Masjid Hasanuddin sempat ditutup dari segala kegiatan ibadah sholat Jum’at. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara berencana membangun masjid Agung Sultan Sulaiman yang lokasinya berdekatan dengan Masjid Hasanuddin. Sehingga ada niatan untuk meniadakan bangunan masjid yang dianggap sudah terwakili dengan keberadaan Masjid Agung Sultan Sulaiman.

“Saya sudah bertanya ke berbagai ulama sampai ke Banjarmasin, semua tidak membenarkan penutupan masjid. Masjid yang tua adalah Masjid Jami’ Hasanuddin, jadi pemerintah mau membongkar tapi Sultan tidak mau karena itu aset negara,” ungkap H. Masrani, tokoh agama Islam Tenggarong.

Sehingga, sejumlah pengurus masjid kemudian berusaha mengaktifkan kembali bangunan ibadah yang dulunya dikenal dengan nama Masjid Sultan dan Masjid Tenggarong. Atas usahanya ini, mereka sempat berurusan dengan aparat kepolisian atas tuduhan membuka masjid tanpa izin pemerintah daerah setempat. Namun akhirnya polisi melepaskan pengurus masjid dari segala tuduhan saat menunjukan surat keterangan dari Sultan Kutai atau Aji Pangeran Prabu Anum Surya Adiningrat. Akhirnya Masjid Jami’ Hasanuddin kembali berfungsi pada tanggal 4 April 2004.

Setelah lama tidak dipergunakan, pengurus masjid terpaksa melakukan sedikit perbaikan bagian atas bangunan, lantai, memperbesar lokasi salat dan ruang sekretariat.

Demikian pula beberapa barang peninggalan sejarah masjid turut jadi perhatian utama pengurus. Sebagai saksi sejarah keberadaan kesultanan Islam di Kalimantan – Masjid Hasanuddin menyimpan benda antic seperti mimbar dan sungkul atau hiasan pada puncak mihrabnya. Sungkul yang berbentuk khas dengan hiasan bulan sabit dan bintang ini terbuat dari tembaga.

Sungkul tersebut sumbangan warga kebangsaan asing asal Inggris, A Gray yang saat itu sedang berdagang di Samarinda. Sungkul ini akhirnya jadi kebanggaan Kesultanan Kutai sehingga mengaraknya secara meriah dari kota Samarinda hingga Tenggarong.