NewsBalikpapan –

PT PLN Kalimantan Timur – Utara memastikan proses elektrifikasi Provinsi Kalimanta Utara telah mencapai 84 persen penghujung akhir tahun ini. Provinsi pemekaran berbatasan langsung dengan Malaysia ini terus memperoleh perhatian mengingat kondisi geografisnya yang sulit dijangkau pembangunan.

“Kami targetkan proses elektrifikasi Provinsi Kaltara bisa mencapai 84 persen akhir tahun ini,” kata Direktur Bisnis PLN Regional Kalimantan, Machnizon saat mendampingi kunjungan Komisi VII DPR RI, proyek PLTU Gunung Seriang kapasitas 2×7 MW di Tanjung Selor Bulungan Kaltara, Rabu (21/2).

Machnizon mengatakan, pembangunan elektrifikasi Kaltara menyentuh 75 persen akhir 2017 silam. PLN giat membuka sejumlah blank area yang dulunya belum terjamah aliran listrik.

Selama tiga tahun terakhir ini, Machnizon memfokuskan pembangunan power plan seperti PLTU maupun PLTD di sejumlah kota/kabupaten Kaltara. PLN juga menggenjot jaringan listrik agar menembus seluruh kawasan pedesaan di Kaltara.

“Fokus kami tahun ini salah satunya adalah memperkuat sistem kelistrikan dan meningkatkan rasio elektrifikasi di Provinsi Kaltara, seperti PLTU, PLTD dan jaringan pedesaan,” ujarnya seraya menambahkan targetnya elektrifikasi desa Kaltara mencapai 100 persen.

Pembangunan PLTU Gunung Seriang menjadi salah satu upaya pengembangan daya listrik di Kaltara. Presiden Joko Widodo mendorong kembali penyelesaian pembangunan proyek listrik yang sempat mangkrak beberapa tahun sebelumnya.

Aliran listrik PLTU Gunung Seriang sangat diharapkan masyarakat Bulungan yang memang masih kekurangan suplai listriknya. Keberadaan listrik diperlukan sebagai sarana penggerak instalasi pengolahan air (IPA) masyarakat setempat.

Machnizon mengatakan, Provinsi Kaltara sangat serius membangun infrastruktur pendukung pertumbuhan perekonomian daerah. Rasio elektrifikasi menjadi salah satu perhatian utama Pemerintah Provinsi Kaltara.

Belum lama ini, PLN Kaltimra sukses mengoperasikan enam unit mesin Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Sei Bilal Nunukan. Masing masing pembangkit ini punya kapasitas daya 1.000 kW hingga totalnya sebesar 6.000 kW.

Pembangkit listrik ini nantinya melebur dalam sistim kelistrikan Nunukan berdaya mampu 11 MW dengan beban puncak 10,5 MW. Atas beroperasinya tambahan pembangkit ini, Sistem Nunukan bertambah kapasitas 6 X 1000 kW, atau setara dengan 6 MW.

Enam unit mesin diesel ini merupakan upaya PLN dalam memperkuat pasokan listrik di Nunukan, yang merupakan salah satu wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.

Bukan berhenti disitu, PLN segera mengoperasikan pembangkit listrik Sebatik daya 2 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Nunukan berkapasitas 10 MW.

“Langkah demi langkah akan ditempuh guna meningkatkan rasio eletrifikasi di Kaltara yang saat ini pada kisaran 78,81persen,” tuturnya.

Pada 2020 nanti diharapkan sudah terintegrasi dengan sistem Kaltara dan Kaltim. Interkoneksi dua provinsi menjadi skenario jangka panjang membangun Sistim Khatulistiwa mencakup seluruh provinsi Kalimantan.

PLN punya rencana menggabungkan dua sistim utama sudah berdiri yakni Sistim Mahakam (Kaltim, Kaltara) dan Sistim Barito (Kalteng, Kalsel). Sementara ini, PLN dalam proses pembangunan infrastruktur listrik Kaltara agar terkoneksi dengan Sistem Mahakam. Interkoneksi lewat pembangunan infrastruktur jaringan listrik menghubungkan dua kota terpisah, yaitu Tanjung Redeb Berau (Kaltim) dan Tanjung Selor Bulungan (Kaltara).

Dalam prosesnya, Sistem Mahakam akan punya kapasitas sumber daya listrik sebesar 760 MW penggabungan dua provinsi Kaltim dan Kalimantan Utara (Kaltara). Sistem Mahakam berkapasitas daya 560 MW, sedangkan Kaltara berkapasitas 200 MW.

Saat bersamaan, PLN sedang proses pembebasan lahan kawasan Batu Kajang untuk menghubungkan Kaltim dan Kalsel. Area sepanjang 30 kilometer ini untuk pembangunan sejumlah tapak tower jaringan listrik dua provinsi.

PLN menamakan jaringan tersambung ini dengan nama Sistem Khatulistiwa menjadi peleburan antara Sistem Mahakam dan Sistem Barito. Sistem Khatulistiwa berkemampuan daya 1.560 MW yang berfungsi mengaliri empat provinsi di Kalimantan.

Sistem Khatulistiwa punya kemampuan daya surplus listrik hingga 450 MW dari kapasitas beban puncak sebesar 1.000 MW. Surplus daya ini nantinya dipergunakan menjangkau sejumlah area belum teraliri listrik di beberapa kota perbatasan Kalimantan.

PLN Kaltimra mengumumkan, ratio elektrifikasi sebesar 88,8 persen dengan wilayahnya didominasi kota/kabupaten Kaltara. Pembangunan infrastruktur listrik seiring dengan persiapan Sistem Khatulistiwa yang ditargetkan selesai akhir 2018 mendatang.