Sebab itu ia sangat menyayangkan dikeluarkannya Kaltim dari daftar daerah tujuan wisata nasional.

Obyek-obyek wisata yang dimaksud jenderal berbintang dua ini antara lain taman-taman nasional dan hutan-hutan lindung yang dimiliki Kalimantan Timur.

Di Kalimantan Timur ada Taman Nasional Kutai yang wilayahnya meliputi Bontang, Kutai Timur, dan Kutai Kartanegara. Di utara Kaltim, ada Taman Nasional Kayan Mentarang di Malinau. Di Kutai Timur juga ada Hutan Lindung Wehea, di Balikpapan ada Hutan Lindung Sungai Wain, dan Kebun Raya Balikpapan, dan Kawasan Pendidikan Wisata Lingkungan Hidup.

Kutai Barat yang juga menjadi tujuan Ekspedisi Khatulistiwa memiliki Taman Nasional Kersik Luwai dimana tumbuh bunga anggrek hitam yang langka.

Ekspedisi Khatulistiwa terutama melintas Taman Nasional Kayan Mentarang di Malinau, selain juga Taman Nasional Betung Kerihun di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Tim ekspedisi terdiri dari anggota-anggota pasukan khusus dari ketiga angkatan, yaitu Kopassus dan Raider dari Angkatan Darat, Marinir dari Angkatan Laut, dan Kopaskhas Angkatan Udara. Turut bersama tim dosen dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Mereka dibagi dalam tim penjelajah, tim peneliti, dan tim komunikasi sosial.

“Kita dapat menggunakan laporan-laporan dari tim penjelajah, juga tim peneliti, tentang keadaan taman nasional. Dari laporan tersebut tentu dapat disusun langkah dan perencanaan wisata Kalimantan Timur, khususnya dengan obyek wisata taman-taman nasional tersebut,” papar Panglima.

Terlepas dari itu semua, Panglima Subekti menggarisbawahi bahwa pengadaan infrastruktur tetap menjadi syarat utama pengembangan perbatasan, termasuk dalam industri pariwisata.

“Ya kita perlu jalan, sarana transportasi, sarana komunikasi, penginapan. Ke depannya juga publikasi,” sambung Panglima.

Bila infrastruktur sudah ada, bisnis dengan sendirinya akan jalan. Di kota atau desa terdekat taman nasional misalnya, bisa berkembang bisnis penjualan atau penyewaan peralatan hidup di alam bebas semacam tenda dan sebagainya, biro perjalanan pun menyediakan pemandu lokal, hingga bisnis-bisnis yang lazim di daerah wisata seperti suvenir khas.

“Jadi pariwisata itu bisa jadi jalan menyejahterakan warga perbatasan,” demikian Panglima Subekti.