PT Badak NGL BontangNewsBalikpapan –

PT Badak NGL Bontang diprediksi akan mengalami penyusutan drastis produksi  LNG menjadi 2,8 juta ton meter kubik (MPTA) per tahun pada tahun 2020 mendatang. Penyusutan produksi disebabkan penurunan distribusi gas yang bisa diolah hasil eksploitasi Total E&P Indonesie, Vico Indonesia dan Chevron di Kalimantan Timur.

“Kami prediksi pada tahun 2020 produksinya hanya sebanyak 1 Train saja dari kemampuan kami sebanyak 8 Train. Itu bisa terjadi bila tidak ditemukan sumber sumber gas baru di Kaltim,” kata Manager Senior Corporate Communication PT Badak NGL, Feri Sulistyo Nugroho, Sabtu (4/7).

Feri mengatakan masa keemasan Badak terjadi pada tahun 2011 silam dimana produksinya mencapai 22,5 juta ton meter kubik LNG per tahunnya. Badak mengoperasikan maksimal fasilitas 8 Train kilang produksi gasnya.

Feri mengungkapkan produksi gas LNG Badak sebanyak 11 juta ton meter kubik per tahunnya pada tahun 2014 lalu. Badak pun terpaksa hanya mengoperasikan 6 Train fasilitas pengolahan gasnya hasil eksploitasi di Kaltim.

“Karena memang fasilitas gas yang bisa diolah hanya sebanyak 6 Train saja,” tuturnya.

Badak memang hanya mengandalkan hasil eksploitasi gas tiga perusahaan migas komposisi Total E&P Indonesie (81 persen), Vico Indonesia (16 persen) dan Chevron (3 persen). Penurunan produksi gas tiga perusahaan migas ini memang berdampak langsung terhadap pengolahan Badak.

Feri tidak menampik nasib PT Badak tidak jauh berbeda dengan PT Arun NGL yang kondisinya sudah berhenti produksi sejak lama. Menurutnya gas adalah sumber daya alam (SDA) yang suatu saat akan habis keberadaanya dari dalam bumi.

“Seperti halnya PT Arun saat gasnya dilokasi eksploitasi sudah habis tentunya berdampak langsung terhadap pengolahannya. Ini suatu saat akan terjadi pula pada PT Badak,” ungkapnya.

PT Badak saat ini hanya menargerkan mampu memiliki setidaknya 45 ribu karyawan professional yang handal dalam pengoperasian pengolahan gas. Karyawan karyawan ini bisa dikirim ke seluruh dunia guna membantu pengolahan gas negara negara lain.

“Statusnya masih karyawan PT Badak namun bekerja mengolah gas di negara lain,” tuturnya.

PT Badak saat ini diakui sebagai salah satu perusahaan terbaik dunia dalam pengolahan gas LNG dan LPG. Perusahaan migas seluruh dunia sudah belajar dalam mengolah gas bersama 900 karyawan PT Badak.