Satu emas Jawa Barat lagi didapat dari nomor seni gerak yang diikuti sepuluh regu dari sepuluh daerah.

“Meski sudah mulai merata, kekuatan Jawa Barat sebagai tempat asal tarung derajat masih luar biasa, terutama di kelas-kelas bawah,” komentar Muhammad Adam, ketua panitia event yang juga disebut Pra PON itu.

Medali emas terbanyak kedua disikat Jawa Tengah dengan 2 emas, 2 perak, dan 2 perunggu. Dua emas tersebut atas nama Tarjuman yang juara di kelas 55,1-58 kg dan Subagja, kampiun kelas 61,1-64 kg.

Sebagai tuan rumah, Kalimantan Timur ternyata harus puas dengan satu emas dari Nur Fajeriah yang menguasai kelas 52 kg di bagian wanita. Para petarung Kaltim lainnya di bagian pria, gagal menyumbangkan emas. Selain Gabriel satu perak juga disumbangkan Bernardus Nico di kelas 55,1-58, dan M Saleh (61,1-64 kg) yang mendapatkan perunggu.

“Meski target meleset, dimana kami sebelumnya berhitung bisa dapat dua emas, anak-anak tetap dapat bonus. Saya sediakan Rp100 juta buat seluruh tim tarung derajat Kaltim,” kata Adam pada acara makan malam perpisahan, Minggu malam 18/12.

Daerah-daerah lain yang juga meraih 1 emas adalah Sumatera Barat, Jambi, dan Nusa Tenggara Barat. Rambo Sugihanto dari Sumatera Barat mengatasi I Nengah Sudika dari Bali untuk emas kelas 64,1-67 kg. Petarung Jambi Asep Sudrajat mengalahkan John Peromo dari DKI untuk emas kelas 67,1-70 kg, dan petarung wanita NTB Rissa Septya Rini menang dari petarung Jateng Noer Faijah Achmawati.

Pra PON Tarung Derajat ini meloloskan 90 petarung ke PON XVIII Riau selain dari para petarung tuan rumah nantinya. Mereka yang lolos adalah petarung yang mencapai babak perdelapan final atau telah mencatatkan minimal sekali kemenangan. Karena itu, Kaltim sukses menempatkan 5 petarung ke PON nanti. Selain dari mereka yang meraih medali, ada juga Ronald Rori (58-61 kg) dan Komaruddin yang bahkan tak mengelurkan keringat sama sekali. Komar menang mutlak atas petarung Papua Arensdolvinus di kelas 52-58 kg.