Sekretaris Apindo Kalimantan Timur, Herry Yohanes menambahkan diskusi Forum CEO ini nantinya menjadi masukan pada pemerintah daerah, pengusaha dan perbankan dalam menyikapi krisis berkepanjangan dunia. Secara tidak langsung, menurutnya krisis melanda dunia sudah mulai dirasakan dunia usaha Kalimantan Timur yang mengandalkan sector oil gas, pertambangan batu bara dan kelapa sawit.

“Sudah mulai dirasakan, pengusaha mengevaluasi produksi, alat berat banyak yang menganggur dan pendapatan menurun drastic,” paparnya.

Herry mencontohkan harga batu bara yang sekarang ini turun hingga 50 persen dari pasaran normal permintaan dunia. Demikian harga crude palm oil (CPO) yang turun jadi 2.600 ringgit / ton dari semestinya 3.000 ringgit / ton.

“Permintaan turun sehingga otomatis pasaran harganya juga turun,” ujarnya.

Sebagai contoh, Kaltim memproduksi batu bara sebanyak 210 juta metrix ton pada tahun 2011 lalu. Produksi batu bara ini menyumbang 56,8 persen produksi nasional yang diperkirakan mencapai 370 juta metrix ton. Penyumbang terbesar perekonomian Kaltim didominasi sector pertambangan (49,6 persen), pengolahan migas (18,9 persen), perdagangan/hotel (8 persen) dan pertanian (6 persen).

Negara Eropa dan Amerika Serikat, kata Herry melambat perekonomiannya akibat krisis di Yunani, SpanyoI, India dan China. Mereka juga mengurangi import beban sumber daya biaya produksinya seperti oil, gas, batu bara serta CPO yang jadi andalan ekspor Kalimantan Timur.

Sehubungan itu, lanjut Herry, Forum CEO akan merumuskan langkah antisipasi atas dampak negative krisis ekonomi terjadi di Uni Eropa dan Amerika Serikat. Rumusan ini akan menjadi pegangan bagi pemerintah pusat, daerah, pengusaha dan perbankan dalam memutuskan kebijakan kedepannya.

Wakil Ketua Apindo Kaltim, Dody Achadiyat menambahkan Forum CEO tersebut nantinya akan menghadirkan Ketua Apindo, Sofyan Wanandi, Menteri ESDM Jero Wacik, Duta Besar Uni Eropa Julian Wilson, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) Isran Noor, pakar ekonomi Hendri Suparni, motivator Ary Ginanjar Agustian dan perwakilan CEO se Indonesia.