Sumur East Mandu South MahakamNewsBalikpapan –

Komite Eksplorasi Nasional (KEN) menyatakan perusahaan sector minyak gas malas dalam pengembangan eksplorasi potensi cadangan migas di wilayah blok operasinya. Setidaknya ada sebanyak 12 perusahaan migas yang dipanggil KEN karena dianggap menelantarkan blok migas sudah dikuasainya.

“Kami panggil 12 perusahaan migas untuk menjelaskan permasalahannya. Kenapa blok migas di wilayahnya tidak dikerjakan,” kata Ketua KEN, Andang Bachtiar di Balikpapan, Rabu (7/10).

Andang mengungkapkan sebanyak 5 perusahaan ini terang terangan alasan utamanya adalah soal izin kontrak konsesi blok migas yang akan selesai dalam kurun waktu 2 hingga 5 tahun kedepan. Perusahaan migas ini enggan menanamkan investasi puluhan juta dolar Amerika Serikat saat kelangsungan pengelolaanya belum ada kejelasan.

KEN sendiri sudah mengidentifikasi setidaknya ada temuan 5,2 miliar barrel minyak equivalen yang tersebar di 108 struktur blok di Indonesia. Rata rata masing struktur ini setidaknya menyimpan 40 hingga 50 juta barrel minyak equivalen untuk memenuhi kebetuhan nasional.

Andang mencontohkan eksplorasi minyak PT Pertamina (Persero) yang menemukan 500 juta barrel minyak equivalen di wilayah Subang – Indramayu Jawa Barat. Demikian pula adanya temuan minyak di wilayah West Natuna dan wilayah timur Indonesia yang menyimpan 400 juta minyak dan 1 – 2 Tcf gas.

Selain itu, Andang menyampaikan adanya potensi sebanyak 16.6 miliar  barrel minyak equivalen  tersebar di 120 struktur migas di seluruh Indonesia. Dia memperkirakan minimal sebanyak 10 persen atau 2 miliar barrel minyak equivalen mampu diangkat guna dalam kurun waktu lima tahun mendatang.

“Sudah cukup lumayan saat mampu dikerjakan 10 persen saja,” ujarnya.

Sehubungan itu, Andang menyatakan segera merekomendasikan pada Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) guna memastikan kelangsungan blok blok migas yang kini dikuasai operator malas. Dia akan memberikan sejumlah pilihan kebijakan pemerintah sehubungan pengelolaan blok blok sudah terkendala.

“Blok migas ini mau di apakan sekarang ?  Dikerjakan sekarang atau tidak. Nanti kami akan ekspos kepastiannya,” tegasnya.

Vice President HR Communication General Service Total E&P Indonesie, Arividya Noviyanto membantah menjadi salah satu perusahaan migas yang masuk katagori malas seperti disebutkan KEN. Perusahaan migas Perancis ini memang memasuki masa habis kontrak pengelolaan Blok Mahakam pada tahun 2017 mendatang.

“Tidak lah benar bila kami disebut tidak berupaya keras mencari potensi sumber migas di wilayah kami,” paparnya.

Total sudah mengupayakan proses ekplorasi potensi mencari sumber sumber migas baru di Blok Mahakam. Permasalahan utama adalah usia Blok Mahakam yang mencapai 30 tahun memasuki fase penurunan produksi liquid maupun gasnya.

“Sekarang posisinya adalah mempertahankan agar produksi tidak terlalu mengalami penurunan drastic. Tidak ada hubungannya proses eksplorasi dengan habisnya masa kontrak kami di Blok Mahakam,” tegasnya.