Barito PutraBalikpapan –

Pengurus Barito Putera Banjarmasin akan mengevaluasi sikap para pemainnya agar kejadian dihukum kartu merah oleh wasit tidak terulang lagi. Karena protes berlebihan atas keputusan wasit menghukum dirinya dengan kartu kuning, kapten tim Barito asal Turkmenistan Mekan Nasyrov malah akhirnya diganjar kartu merah olehh wasit Jerry Elly.

“Kami segera evaluasi, karena kalau sampai dikartu merah seperti itu kan akhirnya merugikan tim,” kata Asisten Manajer Barito Putera Muhammad Arifin di Balikpapan, Jumat (29/3).

Hasilnya, Laskar Antasari kehilangan playmaker. Lini tengah pun dikuasai Persiba. Gol Beruang Madu dimulai dari proses di lini tengah ini, dimana Luka Savic bisa bebas mengumpan kepada Moustapha El Kassa yang bola liar hasil sundulannya disambar Syakir Sulaiman di menit ke-43.

Menurut Arifin usai pertandingan, ia tidak tahu apa masalah yang dialami Nasyrov sehingga begitu berang memprotes wasit. Begitu pula dengan kartu merah yang dijatuhkan kepada Henry Njobi Elad, dimana sebelumnya bek asal Kamerun ini sengaja menginjak kaki striker Persiba Johan Yoga Utama.

“Apa pun, karena ulah seperti itu, tim dirugikan,” sambungnya.

Pengamat sepakbola local Balikpapan Amir Syarifuddin mengatakan pemain asing terutama, mestinya menjadi contoh profesionalisme bagi pemain-pemain lokal. Satu hal dalam profesionalisme sepakbola adalah menerima apa pun keputusan wasit.

“Protes boleh, sekedar menyampaikan pendapat kepada wasit, tapi cukup sampai di situ. Kan kemudian wasit juga dievaluasi oleh Komisi Wasit. Di liga-liga Eropa, bahkan menyentuh wasit pun haram, apalagi sampai protes berlebihan dan memukul,” kata Amir.

Di sisi lain, di liga yang sudah sangat modern seperti liga di Eropa, pemain menjadi disiplin karena bila mereka bersalah, selalu diikuti hukuman denda yang besarnya signifikan.

“Padahal gaji pemain di Eropa luar biasa besarnya yang kalau hanya bayar denda mungkin tak terasa,” kata Amir.

Amir juga melanjutkan, perbuatan sengaja menginjak kaki pemain lain seperti yang dilakukan Njobi Elad sudah sepantasnya dihukum berat. Menurutnya, tidak cukup hanya larangan 2 kali main pada pertandingan berikutnya, tapi harus ada sanksi yang lebih tegas.

“Mungkin Komisi Disiplin bisa tambah hingga 5 pertandingan plus denda atau lebih lagi. Indonesia tidak perlu pemain seperti itu yang tidak bisa menguasai dirinya dan tidak bisa bermain sportif. Yang Elad mau cederai itu kan pemain juga, sama seperti dirinya, dimana kaki adalah perangkat utamanya,” tuturnya.