Kalimantan Timur, kata Gusmardi mengandalkan ekspor batu bara yang nilai totalnya diperkirakan mencapai 28,5 miliar US dolar pada tahun 2011 lalu. Nilai ekspor Kalimantan Timur diprediksi tidak banyak mengalami perubahan dibandingkan tahun lalu.

Ekspor Indonesia sudah didominasi barang barang produksi sebesar 75 persen disusul sector pertambangan 21 persen dan pertanian 3,2 persen. Total ekspor Indonesia sudah mencapai nilai 203 miliar US dolar yang terjadi pada 2011 lalu.

Gusmardi optimis mampu mencapai target pencapaian nilai ekspor sudah ditetapkan pemerintah pada akhir tahun 2012 nanti. Meskipun pertumbuhan nilai ekspor masih rendah selama empat bulan terakhir, menurutnya masih cukup memadai untuk mengejar selama enam bulan kedepan nanti.

“Saat ini nilai ekspor sudah mencapai 64 miliar US dolar sehingga masih bisa mengejar hingga mencapai 203 miliar US dolar.

Kondisi tersebut, bukan hanya di Indonesia saja. Karena negara lain mengalami hal yang sama. Jepang tahun lalu tumbuh sekitar 9 persen, sekarang hanya sekitar 3 persen. China tahun lalu tumbuh 31 persen, sekarang hanya 6 persen. Begitu juga Korsel tahun lalu tumbuh 27 persen, sekarang hanya 0,7 persen. Brasil tahun lalu 31 persen, sekarang hanya 4,5 persen.

Perusahaan di Indonesia musti melakukan diversifikasi produknya agar mampu bersaing memperebutkan konsumen di Afrika, Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tengah dan Amerika Latin. Namun selama ini, produk Indonesia lebih unggul dengan memaksimalkan konten ciri khas bangsa Indonesia.

Jenis ekspor Indonesia sebanyak 75 persen sudah didominasi produk produk industry seperti alat rumah tangga, konveksi, pakaian, elektronik, sepatu disusul pertambangan 21 persen dan sisanya pertanian 3,2 persen.