NewsBalikpapan –

Pemerintah berniat mendorong diversifikasi ekonomi di seluruh wilayah Kalimantan. Pertumbuhan ekonomi Kalimantan jauh tertinggal dibandingkan wilayah lainnya terutama di di Jawa dan Sumatera.

“Pertumbuhan ekonomi seluruh Kalimantan berkisar 2 persen selama beberapa tahun terakhir,” kata Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo di Balikpapan, Jumat (14/7).

Agus mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi masih jauh dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat di angka 4,9 persen di 2016 lalu. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi nasional terus mengalami tren peningkatan dibandingkan tahun tahun sebelumnya.

Memasuki kuartal I ini, Agus menyebutkan pertumbuhan ekonomi nasional sudah mencapai 5,01 persen. Angka pertumbuhan ekonomi diyakini akan semakin meningkat menyusul adanya kemudahan investasi menjadi kebijakan pemerintah.

Sebaliknya, realisasi pertumbuhan seluruh provinsi Kalimantan hanya berkisar 2 persen pada 2016 lalu. Kontribusi pertumbuhan ekonomi Kalimantan terhadap nasional hanya 8 persen.

“Kontribusi Kalimantan didominasi Kaltim yang mencapai 4 persen dari total keseluruhan 8 persen,” ujarnya.

Agus mengatakan, pertumbuhan ekonomi nasional masih didominasi Jawa dan Sumatera yang berkontribusi hingga 81 persen. Adapun Kalimantan masih tergantung komoditas bahan baku mentah batu bara, crude palm oil dan migas yang tergantung pasar dunia.

“Sehingga saat harga bahan baku row materials ini jatuh di pasaran, berdampak langsung pada ekonomi daerah,” paparnya.

Sehubungan itu, Agus menyebutkan niatan pemerintah mendorong diversifikasi ekonomi Kalimantan baik secara vertikal maupun horizontal. Diversifikasi vertikal dengan membangun industri turunan produk mentah Kalimantan dan horizontal lewat pengembangan sektor industri lainnya diantara pariwisata dan jasa.

Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar mengungkapkan, tren penurunan minar investasi sektor energi dunia hingga 12 persen. Investasi sektor minyak dan gas paling terdampak dengan penurunan hingga 26 persen.

“Industri migas Indonesia memang masih terpengaruh pada asing. Paling gampang menjual komoditas dapat revenue dan sudah selesai,” ujarnya.

Arcandra menyebutkan, Kalimantan membutuhkan indutri petrochemical untuk mengolah sumber daya alam (SDA) fosil di dalamnya. Kalimantan saat ini masih kaya akan potensi alam migas maupun batu bara di Kaltim, Kaltara, Kalsel dan Kalteng.

Dalam beberapa waktu nanti, Pertamina segera merealisasikan pembangunan industri kilang pengolahan minyak mentah yang ada di Balikpapan dan Bontang. Kilang minyak Balikpapan ditingkatkan kemampuan mengolah 360 ribu barrel minyak per hari sedang kilang Bontang 260 ribu barrel per hari.

“Kemampuan produksi kilang minyak nasional hanya 800 ribu barrel per hari sedangkan kebutuhan bisa mencapai 1,6 juta barrel BBM per hari. Itu kenapa kita masih sering impor BBM dari luar,” paparnya.

Hingga saat ini, Pertamina masih negosiasi pengelolaan Blok Mahakam dengan operator industri migas asing Total dan Inpex. Pertamina menawarkan partisipasi pengelolaan sebesar 30 persen bagi perusahaan asal Perancis dan Jepang ini.

Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan menambahkan, pemerintah daerah memegang kunci penting dalam masuknya investor luar. Menurutnya, investor asing membutuhkan kepastian kemudahan birokrasi dalam menanamkan modalnya.

Purnawirawan jenderal bintang tiga ini mencontohkan pengembangan kawasan industri Morowali Sulawesi Tengah dan Konawe Sulawesi Tengah yang menarik minat investor. Kepastian investasi membuat investor punya keyakinan return modal dalam kurun waktu 5 hingga 8 tahun.

“Investasi di Morowali bisa US$ 7,5 miliar dan Konawe sebesar US$ 1,5 miliar,” ungkapnya.

Pemerintah sehubungan hal ini sebatas menyiapkan payung hukum investasi di daerah daerah. Adanya kekayaan sumber daya alam Kalimantan diyakini akan menarik minat investor untuk menanamkan modalnya.

“Hilirisasi sektor industri saat ini mutlak dibutuhkan di setiap tempat,” ungkapnya.

Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak menyebutkan, daerahnya membutuhkan investasi turunan pengolahan bahan mentah batu bara dan CPO. Hingga saat ini, industri pengolahan perkebunan kelapa sawit hanya sampai menyentuh proses CPO.

“Kami membutuhkan industri pengolahan CPO menjadi minyak goreng, margarin hingga komestik. Adapun batu bara bisa untuk industri pembuatan amonium nitrat, pupuk dan NPK,” tuturnya.

Awang menyebutkan tingginya potensi perkebunan kelapa sawit terhampar hingga 3 juta hektare di Kaltim. Demikian pula eksploitasi tambang batu bara yang tersebar di Penajam Paser Utara, Paser, Kutai Kartanegara, Samarinda, Kutai Timur, Kutai Barat hingga Berau.