Pangsa pasar ekspor baru ini, kata Gusmardi diharapkan mampu meningkatkan prosentasi pertumbuhan nilai ekspor Indonesia sebesar 30 persen per tahun atau senilai 203 miliar US dolar. Ini menjadi asumsi perkiraan dibandingkan nilai ekspor tahun 2011 lalu.

“Sama dengan nilai ekspor tahun lalu saja sudah bagus mengingat kondisi ekonomi dunia saat ini,” ujarnya.

Gusmardi optimis mampu mencapai target pencapaian nilai ekspor sudah ditetapkan pemerintah pada akhir tahun 2012 nanti. Meskipun pertumbuhan nilai ekspor masih rendah selama empat bulan terakhir, menurutnya masih cukup memadai untuk mengejar selama enam bulan kedepan nanti.

“Saat ini nilai ekspor sudah mencapai 64 miliar US dolar sehingga masih bisa mengejar hingga mencapai 203 miliar US dolar.

Kondisi tersebut, bukan hanya di Indonesia saja. Karena negara lain mengalami hal yang sama. Jepang tahun lalu tumbuh sekitar 9 persen, sekarang hanya sekitar 3 persen. China tahun lalu tumbuh 31 persen, sekarang hanya 6 persen. Begitu juga Korsel tahun lalu tumbuh 27 persen, sekarang hanya 0,7 persen. Brasil tahun lalu 31 persen, sekarang hanya 4,5 persen.

“Jadi kita tidak sendiri semua Negara terkena imbasnya, dari penurunan ekonomi dunia,” tandasnya.

Namun demikian, Gusmardi mengakui bahwa Indonesia akan memperoleh tantangan dari negara negara lain yang juga mengalihkan tujuan pangsa ekspornya ke Afrika, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Selatan dan latin. Negara negara ini menjadi primadona baru menyusul lesunya perekonomian Amerika Serikat dan sebagian Uni Eropa.

Perusahaan di Indonesia musti melakukan diversifikasi produknya agar mampu bersaing memperebutkan konsumen di Afrika, Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tengah dan Amerika Latin. Namun selama ini, produk Indonesia lebih unggul dengan memaksimalkan konten ciri khas bangsa Indonesia.

“Contohnya untuk kain batik tentu kita lebih unggul, seperti juga produk alat rumah tangga mempergunakan bahan dasar kayu maupun rotan,” ungkapnya.

Jenis ekspor Indonesia sebanyak 75 persen sudah didominasi produk produk industry seperti alat rumah tangga, konveksi, pakaian, elektronik, sepatu disusul pertambangan 21 persen dan sisanya pertanian 3,2 persen.