NewsBalikpapan –

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa, Muhaimin Iskandar alias Cak Imin serius mengejar ambisinya menjadi calon wakil presiden pemilihan 2019 nanti. Sebulan terakhir, Panglima Santri ini safari ke sejumlah pondok pesantren  beberapa kota di Indonesia.

“Suara saya sampai serak akibat sebulan terakhir berkunjung ke sejumlah pondok pesantren,” katanya saat berkunjung di Ponpes Al Izzah Kelurahan Karang Joang Balikpapan  Kaltim, Selasa (3/4).

Muhaimin mengatakan, sekarang adalah saatnya yang tepat membuka silaturahmi yang intensif menyusul dukungan kyai Nahdlatul Ulama agar meramaikan pemilihan presiden dan wakilnya nanti. Wakil Ketua MPR RI ini anjang sana ke sejumlah pondok pesantren di Jawa Barat, Depok, Tasikmalaya, Sidoarjo, Yogjakarta, Nusa Tenggara Barat dan Balikpapan ini.

“Asal usulnya anak santri tentunya perginya juga ke pondok pesantren saja,” selorohnya.

Bukan tanpa alasan pula, Muhaimin hanya membidik kursi calon wakil presiden. PKB sebagai salah satu partai pendukung pemerintah, menurutnya tetap wawas diri sebagai pengusung pasangan Joko Widodo – Jusuf Kalla, pemilihan lalu.

“Kita juga harus wawas diri sebagai partai pendukung pemerintah. Jangan sampai ada yang menilai macam macam tentang PKB. Apalagi Pak Jokowi pastinya akan maju lagi dalam pemilihan nanti,” ungkapnya.

Selain itu, Muhaimin menyadari kekuatan PKB sebesar 9,5 persen kurang cukup mengusung seorang calon presiden. PKB setidaknya harus berkoalisi dengan partai politik lain guna memenuhi persyaratan minimal pencalonan sebesar 20 persen suara.

“Kita harus koalisi dengan partai lain agar bisa mengusung seorang presiden. Perlu usaha yang keras untuk itu,” ungkapnya.

Sementara ini, Muhaimin menyebutkan, PKB memasang target agar setidaknya bisa mengusung seorang calon wakil presiden pemilihan nanti.  Langkah penjajakan sudah dilakukan dengan mendekati dua kandidat kuat yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

“Sudah ada penjajakan terhadap keduanya, namun memang komunikasi masih dinamis. Belum ada aksi nyata,” ungkapnya.

Muhaimin menyadari, presiden incumbent Jokowi merupakan kandidat terkuat mampu memenangkan pemilihan presiden nanti. Sehingga tidak mengherankan saat banyak tokoh nasional berniat mendampinginya menjadi wakil presiden.

Meski demikian, Prabowo Subianto adalah seorang Ketua Umum Partai Gerindra yang mengantongi 11,8 persen suara pemilu legeslatif 2014 silam. Koalisi Gerindra dan PKB, menurutnya akan membuka peluang memenangkan pemilihan presiden dan wakil presiden.

“Semuanya sudah dilakukan pendekatan secara intensif. Kita lihat saja nanti hingga bulan Agustus nanti seperti apa perkembangannya,” tegasnya.

Satu hal yang pasti, Muhaimin mengisyaratkan pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 menjadi momentum kebangkitan kaum Nahdliyin.  Selama bertahun tahun sejak berdirinya Indonesia, menurutnya warga NU tidak pernah mengeluh ketika aspirasinya tidak pernah tersalurkan.

“Orang NU kalau punya mau, kalau punya keluhan, biasanya susah ngomong. Karena terlalu tawaddu, terlalu sopan, terlalu ikhlas. Sehingga berpuluh-puluh tahun ya menunggu saja,” ujarnya.

Padahal umat Islam Indonesia ditunggu kiprahnya di pergaulan dunia internasional. Tantangan kedepan semakin berat adanya krisis energi, air dan kemanusiaan.

“Tinggal kita mau ambil peran itu atau tidak,” paparnya.

Sebanyak 300 kyai dan ustadz Kaltim memberikan mandat Muhaimin Iskandar agar maju sebagai calon wakil presiden.  Cak Imin dipercaya mempersatukan umat Islam Indonesia menghadapi tantangan ekonomi dan politik.

Sejumlah kyai besar terlihat hadir memberi dukungan. Selain Habib Yahya al Muhdhor, juga KH Muslich Umar, KH Muhammad Razid ketua PWNU Kaltim dan KH Muhammad Mukhlasin.