Andi Burhanuddin Solong di TPSBalikpapan –

Antusiasme pemilih pilgub Kaltim mengkhawatirkan di Balikpapan. Sejumlah tempat pemungutan suara minim aktifitas pemilih Balikpapan yang terdapat 406.526 pemilih.

Sedikitnya pemilih terlihat Seperti saat Ketua DPRD Balikpapan Andi Burhanuddin Solong mencoblos di TPS 18 Karang Rejo, Balikpapan Tengah, Balikpapan, Kaltim. Saat datang pukul 9.15 wita, banyak kursi yang kosong, bahkan terlihat hanya 2-3 warga yang mencoblos.

Di TPS ini terdapat 455 DPT namun yang menyalurkan hak pilihnya hanya 263 orang.

Hasilnya pasangan nomor urut  1 Awang-Mukmin unggul tipis dengan raihan 120 suara, nomor  2 mendapat 20 suara dan nomor 3 Imdaad -Ipong memperoleh 109 suara. Suara tidak sah 14 suara.

Andi Burhanuddin Solong yang juga Ketua DPD Golkar Balikpapan cukup prihatin dengan partisipasi pemilih.

“ Mungkin ini masih pagi. Mudah-mudahan jelang siang bisa banyak yang datang. Kalau sepi ini perlu dipikirkan soal eksistensi pemilihan gubernur sekarang ini. Karena biaya mahal namun hasil partisipasi tidak seperti diharapkan. Sekarang di pusat, Mendagri ada rencananya untuk mengembalikan pemilihan melalui perwakilan rakyat,” tandasnya.

Padahal ia memperkirakan setidaknya tingkat partisipasi minimal 60 persen dari DPT yang ada sekitar 2,7 juta. Atau DPT Balikpapan sekitar 417 ribu pemilih.

Direktur Citra Publik Indonesia-Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Network, Hanggoro Doso Pamungkas memperkirakan golput naik 3 persen dari pilgub periode lalu.

“Angka Golputnya itu di 45 persen hampir di 46 persen, padahal dari survey kita awalnya minimal itu golput 35 persen, tapi ini justru lebih tinggi. Periode  lalu sekitar 43 persen,” katanya.

Diketahui, hasil hitung cepat untuk Awang-Mukmin memperolehan suara 42,49 persen. Kemudian disusul pasangan nomor urut 3 Imdaad Hamid-Ipong Muchlissoni, meraih 36,73 persen. Lalu pasangan nomor urut 2 Farid Wadjdy-Sofyan Alex dengan presentase suara 20,78 persen.

Menurutnya ada beberapa faktor  yang menyebabkan animo masyarakat untuk berpartisipasi dalam pilgub begitu rendah.

“Public enggan datang ke TPS karena merasa in bukan bagiannya, ini bukan kepentingannya, mereka menganggap ini merupakan kepentingan elite. Public tidak optimesme untuk memilih di daerah,” jelasnya.

Selain itu kata dia, penyelenggara pemilu harusnya tidak hanya sekedar menyampaikan undangan saja. Tapi juga memberikan pendidikan politik ke masyarakat.

“Seperti yang kita lihat selama ini sekadar hanya mepublikasi saja, tapi sebenarnya harus ada pendidikan bagi pemilih masyarakatnya,” ucapnya.

“Disadarkan bahwa masyarakatlah penentu, pembangunan daerah ini. Saya rasa ini yang harus ditekankan penyelenggara pemilu bahwa keterlibatan masyarakat itu pengting dalam pikada. Jadi bukan alasan kalau menyebutkan mereka tidak tahu, hanya karena memang enggan datang,”sambungnya.

Trend golput bukan hanya terjadi di Kaltim tetapi daerah lain khususnya diwilayah perkotaan. “Ini cenderung karena trend nasional yang lebih apatis, tidak hanya di Kaltim, saya rasa ini PR bagi penyelenggara,” pungkasnya.