Pengembang Ini Jual Rumah Dibawah Harga Pasar
27 September 2017
Jaringan Listrik Sistim Katulistiwa
4 October 2017

GCF Balikpapan Jadi Aksi Penyelamatan Lingkungan

NewsBalikpapan –

Governors Climate  and Forests Task Force (GCF) Annual Meeting 2017 menegaskan saat ini masuk masa implementasi penyelamatan lingkungan di masing masing negara. Meeting antar pemerintah provinsi diikuti 10 negara dunia menelorkan pernyataan sikap penyelamatan lingkungan di Forum Paris Agreement maupun Rio Branco Brazil Declaration.

“Sudah saatnya maju kedepan dari komitmen deklarasi menjadi implementasi dan aksi,” kata GCF Task Force Lead Project, William Boyd di Balikpapan, Rabu (27/9).

William mengatakan, GCF Task Force sudah kerap mendeklarasikan seruan penyelamatan lingkungan dalam upaya mengerem laju deforestasi hutan tropis dunia. Soal isu mereduksi emisi karbon hingga perubahan iklim extreme sudah menjadi komitmen 38 provinsi di 10 negara dunia.

Deklarasi Rio Branco Brazil, kata William secara tegas berkomitmen menekan laju deforestasi dunia sebesar 80 persen pada tahun 2020 mendatang. Negara negara maju berkomitmen menjadi donor skema penyelamatan hutan tropis yang terutama ada di Brazil dan Indonesia.

Forum ini segera menelorkan Balikpapan Statment guna mensinerjikan antara kepentingan pemerintah, swasta dan masyarakat sipil.  Penyelamatan hutan dengan mengikutsertakan kelompok masyarakat adat sebagai pihak paling berkepentingan.

Tuan rumah, Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak berharap pertemuan ini mampu menghasilkan kolaborasi antar negara bagian dalam tujuan pembangunan ekonomi hijau di wilayah masing masing. Dia bersemangat turut serta dalam diskusi berkenaan menstop laju deforestasi dalam upaya mendukung pencegahan perubahan iklim dunia.

“Saya menantikan diskusi yang kuat yang akan terjadi dalam dua hari ke depan. dan berharap bahwa mereka akan menjadi fondasi yang kokoh,” ujarnya.

Awang mengaku sudah menerbitkan moratorium izin perkebunan kelapa sawit maupun pertambangan yang memanfaatkan kawasan hutan primer. Target pengembangan perkebunan sawit seluas 2 juta hektare, menurutnya hanya memanfaatkan kawasan kritis luar area konservasi.

“Perizinan area perkebunan kelapa sawit diutamakan di wilayah wilayah kritis dan tidak mempergunakan kawasan hutan konservasi dan lindung,” paparnya.

Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, Ujang Rachmad menambahkan, area perkebunan eksisting saat ini selas 1,3 juta hektare tersebar di kota/kabupaten setempat. Total keseluruhan perkebunan di Kaltim, menurutnya mayoritas adalah kelapa sawit mencapai luasan 1,1 juta hektare.

“Pertumbuhan perkebunan di Kaltim mencapai 7,7 persen per tahun dari total cakupan wilayah sudah ada,” paparnya.

Industri perkebunan sawit, kata Ujang, menghidupi hajat 400 ribu pekerja pekerja inti perusahaan maupun plasma. Menurutnya, industri perkebunan sawit menjadi masa depan tumpuan perekonomian Kaltim yang tidak lagi mengandalkan batu bara dan migas.

“Perkebunan sawit Kaltim menghasilkan produksi crude palm oil  (CPO) sebanyak 2,5 juta ton per tahunnya,” ungkapnya.

Ujang mengatakan, pihaknya berkomitmen dalam penerapan Kaltim green lewat peningkatan kualitas produksi CPO. Peningkatan produksi lewat pemanfaatan lahan tidur maupun kualitas bibit tanaman sawit dibandingkan sebelumnya.

“Targetnya memang 2 juta hektare area perkebunan sawit, namun saat ini langkah pertama dengan peningkatan kualitas bibitnya agar mengasilkan CPO yang maksimal,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *