PT Badak NGL BontangNewsBalikpapan –

PT Pupuk Indonesia menerapkan kebijakan diversifikasi produk dalam mensiasati mahalnya harga gas mencapai 6 US dolar per million british thermal unit (MMBTU). Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2016 menetapkan kontrak harga pembelian gas bumi bagi industri di Indonesia.

“Sementara ini, kami menetapkan kebijakan diversifikasi dalam mengurangi konsumsi gas dalam industri pupuk,” kata Direktur SDM & Tata Kelola PT Pupuk Indonesia, A Tossin Sutawikara di Balikpapan, Jumat (11/11).

Tossin mengatakan konsumsi gas menempati komposisi 70 persen dari total keseluruhan biaya produksi pupuk urea. Pasaran harga gas dunia saat ini berada di kisaran 4 US dolar per MMBTU.

Produksi pupuk dunia, lanjut Tossin saat ini sangat melimpah yang berujung rendahnya harga jualnya. Produksi pupuk nasional kesulitan untuk bersaing melawan perusahaan luar negeri yang membeli gas di kisaran harga 4 US dolar per MMBTU.

“Kalau idealnya agar kompetitif harga gas idealnya 3 US dolar per MMBTU. Itu keinginan kami, namun pemerintah sudah menetapkan harga gas sebesar 6 US dolar per MMBTU,” ujarnya.

Sehubungan itu, Tossin menyebutkan sejumlah langkah efisiensi produksi pupuk yang terpusat pada urea semata. Dia menyebutkan produksi pupuk NPK yang terdiri komposisi pupuk urea ditambahkan bahan bahan lain.

“Sehingga komposisi penggunaan gasnya akan lebih hemat,” tuturnya.

Selain itu, PT Pupuk Indonesia akan mengevaluasi sejumlah pabrik tua yang konsumsi gasnya terlalu boros. Menurutnya produksi pupuk pabrik ini harus dikurangi guna menekan total keseluruhan ongkos produksi.

“Jangan sampai banyak produksi sehingga makin merugi,” ungkapnya.

PT Pupuk Indonesia hanya berkonsentrasi memproduksi kebutuhan pupuk sektor pangan nasional yang diperkirakan sebanyak 4 juta ton per tahunnya. Sebagian dari harga jual pupuk ini memperoleh subsidi dari pemerintah.

“Kami dituntut untuk selalu memperoleh keuntungan. Saat ini memang harga gas tinggi dibantu subsidi dari pemerintah. Namun bila harga jual pupuk kompetitif tentunya juga mengurangi beban subsidi ditanggung negara,” ungkapnya.

Sejumlah industri pupuk nasional terang terangan meminta negosiasi ulang harga gas. Gas menjadi komponen utama dalam memproduksi pupuk urea dan amonia.

PT Pupuk Kaltim sempat mengeluhkan harga gas mencapai 6 US dolar per MMBTU untuk pasokan lima pabriknya di Bontang. PKT Bontang membutuhkan pasokan 360 MMSCFD gas sebagai bahan bakar produksi pupuk amonia dan urea.

Saat ini terjadi krisis global berdampak penurunan pasaran harga jual minyak dan gas dunia. Pasaran harga gas dunia saat ini menurun drastis di kisaran US$ 3.

Kontrak PKT Bontang dalam pembelian gas akan berakhir memasuki tahun 2017. PKT Bontang berkesempatan membuka negosiasi ulang dalam kerjasama pembelian gas dari perusahaan migas production sharing contract di Kaltim.

PKT merupakan perusahaan pupuk berdomisili di Bontang Kalimantan Timur. Perusahaan ini memproduksi pupuk urea 3,4 juta ton, amonia 2,8 juta ton dan NPK 3 ribu ton.