Aksi dokter BalikpapanNewsBalikpapan –

Ratusan dokter Balikpapan Kalimantan Timur menggelar aksi mogok kerja di pertigaan Plaza Balikpapan, Rabu (27/11) pukul 08.00. Aksi solidaritas penahanan dokter Dewa Ayu Sasiary Prawani ini membuat arus trasportasi pengguna kendaraan bermotor jadi tersendat di kawasan pusat kota Balikpapan.

Personil medis  ini memadati pertigaan di pertemuan arus kendaraan sepanjang Jalan Ahmad Yani dan Jenderal Sudirman Balikpapan. Mereka membawa sejumlah spanduk yang berisi tuntutan agar rekannya dibebaskan dari segala tuduhan mal praktek.

Dalam pengawalan petugas kepolisian, para dokter ini beraksi nekat dengan berdiri di tengah persimpangan lampu penyeberangan jalan. Meskipun mereka berdiri pas lampu menyala merah, aksi ini membuat arus trasnportasi pengguna kendaraan bermotor tersendat.

Akibat aksi ini, sebagian pengguna kendaraan Balikpapan merasa terganggu dengan membunyikan klakson berulang kali. Keributan antara pengguna jalan dengan para dokter mampu dikendalikan petugas kepolisian.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Balikpapan, Wahyudi menegaskan aksi ini wujud solidaritas antara sesama profesi dokter di Indonesia. Dokter memprotes vonis bersalah dokter Dewa Ayu Sasiary Prawani.

“Aksi ini instruksi langsung dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pusat,” kata Ketua IDI Balikpapan, Wahyudi.

IDI menginstruksikan dokter dokter agar mogok kerja dari aktivitas kesehariannya. Namun instruksi ini tidak berlaku bagi dokter yang sedang bertugas di unit gawat darurat rumah sakit.

“Jadi itu intruksi langsung dari PB IDI Pusat. Pertama 27 November ini, kita dokter-dokter tidak praktek kecuali untuk yang sedang tugas digawat darurat. Itu tetap bekerja,” katanya.

Tim gabungan kejaksaan menangkap dokter Dewa Ayu di rumah sakit ibu anak Permata Hati Balikpapan. Jaksa mengeksekusi terpidana menyusul putusan MA yang menyatakan Dewa Ayu dan dua rekannya melakukan mal praktek.

Dokter ini dianggap jadi penyebab meninggalnya Sisca Makatey saat operasi caesar di RSUP Prof Dr Kandou Malalayang – Manado pada 2010.

Selain Dewa Ayu, MA memutuskan dua orang lain yakni dr Hendry Simanjuntak dan dr Hendy Siagian bersalah melakukan hal yang sama.