Pensiunan Pegawai Migas Tertipu Investasi Pulsa
6 March 2018
Nasib Sumur Sumur Tua Kaltimra
6 March 2018

Dilema Berakhirnya Kontrak Chevron dan Vico

NewsBalikpapan –

Pemerintah Indonesia masih menjajakan dua blok migas yang berakhir masa kontraknya di Kalimantan Timur penghujung akhir 2018 nanti. Dua blok migas tersebut adalah Attaka (Chevron Indonesia) dan Sangasanga (Vico Indonesia).

“Ada dua yang berakhir kontraknya yakni Vico dan Chevron,” kata Kepala SKK Migas Kalimantan Sulawesi, Nazvar Nazar.

Nazvar mengatakan, dua perusahaan migas asal Amerika Serikat ini dipastikan tidak memperpanjang kontrak operasi blok berakhir 2018. Kontrak Vico Indonesia berakhir bulan Agustus sedangkan Chevron berakhir bulan Oktober nanti.

Permasalahan baru muncul kala perusahaan migas berakhir kontraknya. Pemerintah Indonesia harus menanggung secara penuh kewajiban pemulihan lahan area eksploitasi di bekas lokasi blok migas. Termasuk pula pembersihan lapangan dari seluruh peralatan sisa sisa eksploitasi offshore maupun onshore.

“Sesuai klausul kontrak memang tidak ada kewajiban perusahaan migas saat itu untuk mengembalikan pemulihan lahan area eksploitasi dan pencabutan peralatan migas. Itu kelemahan kontrak saat itu yang baru bisa diperbaiki bila ada kontrak baru,” ujarnya.

Nazvar mengatakan, proses pemulihan lahan dan pencabutan peralatan membutuhkan biaya besar yang diperkirakan senilai investasi eksploitasi. Investasi eksploitasi migas area lepas pantai minimal bisa menyentuh angka 130 juta US dolar atau sekitar Rp 1,7 triliun.

Sebagai perbandingan, Pertamina Hulu Mahakam menanamkan investasi eksploitasi di Blok Mahakam sebesar 1,7 miliar US dolar atau sekitar Rp 22,1 triliun. Besaran investasi sebesar tersebut peruntukannya dialokasikan berbagai kegiatan eksplorasi, pengembangan dan produksi.

Ini pula yang menyebabkan hingga kini belum ada perusahaan migas tertarik melanjutkan kontrak operasi blok offshore Attaka ini. Mereka tentunya dibebani kewajiban pemulihan lahan bekas operasi dan pembersihan peralatan yang harus dibayar dimuka.

“Produksi Blok Attaka juga makin menyusut sebesar  20 MBOPD,” ungkapnya.

Beda halnya dengan area operasi Vico Indonesia yang ada di area onshore Sangasanga Samboja Kutai Kartanegara. Pertamina EP Sangasanga dikabarkan tertarik melanjutkan kontrak operasi Vico ini.

“Biaya pemulihan lahan dan pencabutan peralatan sumur tua onshore tidak semahal offshore. Kebetulan pula wilayah kerja Pertamina EP berdekatan dengan area Vico. Sehingga mereka kolaborasikan saja lokasi operasinya menjadi lebih besar sekarang ini,” papar Nazvar.

Nazvar menilai Blok Sangasanga masih ekonomis selama kurun waktu 10 tahun kedepan. Sebelumnya, Vico Indonesia mampu menjaga produksinya sebesar 376 MMSCFD (million metric standard cubic feet per day) dan 11 ribu barrel of oil per day (BOPD).

Adapun produksi Pertamina EP Sangasanga  mencapai 15 ribu barrel of oil per day (BOPD). Produksi minyak mentah lapangan Sangasanga meningkat signifikan sejak 2008 (3.900 BOPD), 2009 (4.704 BOPD), 2010 (4.911 BOPD), 2011 (7.001 BOPD) dan 2012 (7.300 BOPD).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *