Aku terlahir dari keluarga menengah tingkat taraf perekonomiannya. Kedua orang tuaku bekerja dengan tekun, demi menghidupi kebutuhan keluargaku yang sangat mereka cintai. Sebagai keturunan darah campuran suku Banjar dan Bugis, aku sungguh beruntung memperoleh anugerah kecantikan fisik yang membanggakan. Tidak kurang, banyak pria yang jatuh hati hingga nekat meminang aku untuk dijadikan istrinya.

Tapi semua itu aku tolak. Hatiku sudah tertambat sepenuhnya bagi seorang pria istimewa yang sudah jadi teman sekolahku sejak masih taman kanak kanak. Orang bilang, itu cuma cinta monyet yang tidak akan bertahan lama. Tapi hubungan kami terus terjalin hingga masing masing dari kami meneruskan ke jenjang perguruan tinggi. Aku meneruskan sekolah di akademi sekretaris di Surabaya, sedangkan dia lebih memilih mengambil jurusan kedokteran. Calon dokter ceritanya pacarku ini.

Hari demi hari kulalui dengan begitu bahagia – hingga usiaku menginjak umur 21 tahun. Akhirnya segala bentuk penderitaan dunia ini kemudian menerpaku. Nenek menjodohkan aku dengan saudara jauhnya di Makassar Sulawesi Selatan. Calon suamiku ini terbilang masih bisa disebut om dari garis keturunan ibu di Makassar. Ternyata di zaman dahulu, ada satu perjanjian diantara keluarga yang hingga kini juga masih belum bisa aku mengerti. Sebagai keturunan suku Bugis – Makassar, aku diwajibkan musti kembali dalam garis darah asal usulku.

Calon suamiku ini seorang duda tanpa anak yang usianya 10 tahun lebih tua dibandingkan aku yang baru menginjak 21 tahun. Dia merupakan seorang pengusaha sukses yang bergerak di bidang usaha ekspor – impor. Mitra usahanya tersebar di antero dunia, dari Jakarta, Singapura, Jepang bahkan hingga Amerika Serikat. Tapi demi Tuhan, bukan itu akhirnya yang membuatku menuruti keinginan keluargaku untuk menikahi pria yang tidak pernah aku cintai ini. Aku hanya tidak kuasa menolak keinginan nenek yang begitu berharap agar aku mau menikah dengan pria pilihannya ini.

Saking putus asanya, aku bahkan sampai berniat melakukan perbuatan nista dengan menyerahkan kesucianku pada pacarku. Seluruh bajuku sudah aku lepas hingga bugil layaknya bayi yang baru dilahirkan. Namun pacarku itu memang pria yang baik. Dia tidak berusaha mengambil kesempatan, disaat aku sudah benar benar pasrah menyerahkan tubuhku padanya. Satu demi satu, seluruh bajuku dikenakan kembali olehnya. Dengan lemah lembut, dia saat itu berusaha menghiburku dengan mengatakan cinta kami berdua tetap akan ada meskipun tidak mungkin bisa bersama.

Hari pernikahan itu akhirnya tiba juga. Masih terbayang bayang dalam ingatanku, saat duduk di pelaminan perkawinan yang waktu itu mengkombinasikan antara budaya Banjar dengan Bugis – Makassar, tepatnya bulan Juli 1990 silam. Pesta perkawinan kami yang cukup mewah dengan menghadirkan seluruh keluarga dari kedua mempelai. Bahkan saking meriahnya, suamiku sampai menyewa pesawat dan kapal hanya untuk mendatangkan keluarganya dari Makassar agar bisa menghadiri pesta pernikahan kami di Banjarmasin.

Total uang yang dihambur hamburkan konon mencapai Rp 50 juta. Bayangkan saja, nilai uang sebesar itu di tahun 90 an – disaat nilai tukar mata uang 1 dolar Amerika Serikat hanya Rp 2 ribu. Bisa jadi dibandingkan saat ini, nilainya mungkin mencapai Rp 250 juta.

Usai pesta pernikahan, suami memboyongkanku untuk pindah ke Makassar. Aku ditempatkannya di salah satu kamar hotel milik keluarga besarnya. Suamiku saat itu terlihat menyayangiku dengan selalu memenuhi segala permintaanku. Demikian pula aku yang juga berusaha melupakan masa lalu serta mencoba menerima takdirku sebagai istri sah orang. Disaat usia kandungan anak pertamaku sudah memasuki bulan ke enam. Iya benar, aku sudah hamil dari buah pernikahan dengan suamiku ini. Aku sempat bermimpi, kehamilanku ini akan makin melengkapi kebahagian hidupku nantinya.

Namun badai kegetiran itu akhirnya datang juga menerpa pernikahanku. Benih benih kebencian itu mulai terlihat dari para ipar iparku – saudara kandung dari suamiku sendiri. Aku sungguh tidak tahu, apa yang salah dari diriku sehingga mereka begitu membenci diriku. Setiap perbuatan, sikap dan perkataanku selalu disalahkan oleh mereka. Tanggapan suamiku sendiri ? Dia tidak pernah sedikitpun berani membela perlakuan kasar keluarga besarnya padaku. Oh ya, suami sendiri adalah anak ke empat dari 13 bersaudara.

Kebencian ipar iparku makin menjadi hingga tidak jarang ditunjukan secara terang terangan lewat sikap. Jelang kelahiran anak pertama kami, suamiku membelikan kotak bayi sebagai hadiah kelahiran bagi si kecil. Entah kenapa, iparku mendadak datang terus menghancurkan kotak bayi tersebut dengan martil, tepat dihadapan kami berdua. Aku ketakutan sekali, sedangkan suamiku seperti biasa hanya bisa diam seribu bahasa.

Sehingga saat suami mengajak kami pindah ke Jakarta – hal itu terasa seperti sebuah anugerah bagiku. Kepindahan ini tentu saja bisa menjauhkanku dari pertengkaran pertengkaran dengan para iparku di Makassar. Namun sayangnya, aku tetap tinggal di rumah keluarga suamiku – artinya tetap berinteraksi dengan ipar ku yang lain.

Kekhawatiranku itu akhirnya terbukti juga. Keributan itu akhirnya pecah kembali. Salah satu adik ipar perempuanku sudah merendahkanku sebagai orang yang lebih tua dari dirinya. Saat sedang menyuapi anak pertamaku yang masih kecil – dia pulang dari kuliah dan langsung menendang piring makan yang sedang aku pegang. Alasannya sungguh tidak masuk akal, karena aku dituduh memasak bubur dengan mempergunakan beras milik keluarganya.

Disini kemarahanku sudah tidak terbendung lagi. Langsung saja aku gendong serta membawa masuk anakku yang menangis ke dalam kamar. Begitu keluar dari kamar – pertengkaran itu kembali terjadi bukan lagi dengan kata kata, namun sudah dengan kekerasan.

Aku sudah benar benar kalap, muka berdarah darah, baju sobek dan rambut awut awutan. Padahal saat itu, aku sedang hamil 4 bulan anak keduaku. Dengan kondisi masih seperti itu, sengaja kudatangi kantor suamiku di Jakarta untuk melaporkan perlakuan keluarganya pada diriku. Namun aku kembali kecewa, dia sepertinya tidak terlalu perduli dengan kondisiku itu, bahkan memulangkan aku kembali ke Makassar. Disini aku diperlakukan layaknya pembantu, untuk makan saja tidak boleh dilakukan di meja makan keluarga.

Memasuki kehamilanku yang ketiga pada tahun 1994 – suamiku mengajak ku kembali ke Bogor. Untuk mengambil hatiku, dia kemudian membelikan rumah di salah satu komplek elit Bogor yang harganya mencapai Rp 600 juta. Seluruh kebutuhan keluarga kami dipenuhi dari soal urusan rumah tangga, mobil hingga tenaga pembantu masak, baby sitter dan tukang kebun.

Tapi sungguh tak disangka, rumah itu yang kemudian menjadi saksi bisu kebejatan suamiku yang selama ini aku panggil dengan sebutan bapak. Pada suatu hari dengan berdalih kangen dengan anak anaknya, dia mengajak ketiga anakku jalan jalan ke Ancol. Anehnya lagi, semua pembantu hingga baby sitter diajak turut serta. Tinggalah aku sendirian di dalam rumah sebesar itu.

15 menit kemudian, datangkan seorang tamu yang aku kenal sebagai salah satu pimpinan bank swasta di tanah air yang kini sudah di likuidasi pemerintah. Dia mengaku mencari suamiku sehubungan pengajuan kredit atas proyek yang sedang ditangani suamiku. Namun ada yang aneh dari prilaku tamu yang satu ini.

Kendati sudah diberitahu bahwa suamiku sedang tidak berada di rumah, dia tetap saja ngotot ingin menungguinya di ruang tamu. Bahkan berdalih ingin melihat lihat, dia kemudian mengecek satu per satu ruangan serta fasilitas yang ada didalam rumahku. Hingga sampailah kami di kamar tidur utama dan tamu asing ini juga memaksa ingin melihat langsung konsep penataan ruangan kamar tidur kami.

Bodohnya lagi, dengan polosnya aku mau saja menuruti keinginannya dan mempersilakan dia masuk dalam ruangan paling pribadi keluarga kami. Ternyata itu semua hanya sebagai perangkap busuk. Sesampainya di dalam kamar, mendadak dia langsung berubah menjadi buas dan kesetanan. Ditangkap dan langsung dibantingnya aku di atas kasurku sendiri. Dengan sorot matanya yang tajam, dia kemudian memintaku melayaninya seperti layaknya suami istri. Katanya itu sudah menjadi perjanjian antara suamiku dengan dengan dirinya agar pihak bank mau mensetujui pengajuan kredit suamiku.

Duniaku seakan sudah kiamat saat mendengar suamiku sendiri tega menjual kesucian istrinya demi kelancaran bisnisnya. Aku hampir tidak percaya, imam keluargaku ini tega teganya menjebak istrinya sendiri demi kelancaran usaha perusahaannya. Sampai disini, aku enggan menyerah kalah oleh nasib.

Demi mempertahankan kesucianku, aku bahkan rela menyembahnya agar dia mengurungkan keinginan nafsu bejatnya. Entah setan apa yang berada di benaknya, dengan paksa direngutnya satu per satu baju yang aku kenakan. Hingga selembar benang terakhir garis pertahananku, kembali aku memohonnya agar menghentikan niatannya menggaliku.

“Aku bilang padanya, bagaimana perasaan bapak bila ini terjadi pada anak istri bapak,” kataku.

Tuhan ternyata masih berbelas kasihan padaku. Pria yang sebelumnya sudah kesetanan untuk melepas sahwatnya ini, mendadak tersadar serta mendudukanku kembali di pinggiran ranjang. Perlahan dia meminta maaf atas tindakannya tersebut yang diakuinya sudah atas persetujuan suamiku. Setelah kembali mengenakan pakaian,tanpa basa basi lagi dia langsung pergi meninggalkan rumahku.

Kejadian tersebut sepertinya menjadi puncak tragedi pernikahanku yang sudah berada di bibir takbir perceraian. Suamiku sepertinya sudah tahu bahwa siang itu tidak terjadi sesuatu antara aku dengan tamu asing tadi. Sikapnya mendadak menjadi dingin dan kami pun tidak tidur dalam satu ranjang lagi. Semua itu belum seberapa dibandingkan sikap selanjutnya yang sangat merendahkan derajat wanita maupun para istri lainnya.

Kami memang terkadang masih melakukan hubungan intim seperti layaknya suami istri pada umumnya. Namun disini letak perbedaanya. Setiap kali selesai berhubungan badan, suamiku pasti langsung mengambil gebokan lembaran uang dolar Amerika Serikat senilai Rp 10 juta dari kantongnya dan kemudian melemparkannya ke mukaku.

“Ini bagianmu,” katanya seolah olah aku ini seorang pelacur.

Aku sungguh kaget dan malu. Aku bukan pelacur !!!! Tapi ucapan itu hanya mampu aku teriakan dalam hati saja. Sebagai seorang perempuan lemah, aku hanya bisa menangis meratapi nasibku ini. Sikapnya itu sungguh merendahkanku sebagai seorang istri yang butuh perlindungan dari seorang suami. Tiga tahun sisa pernikahan kami bisa diibaratkan menjadi penderitaan luar biasa bagiku. Suamiku hanya menganggap diriku tiada bedanya dengan pelacur pelacur di jalanan.

Berjalannya hari, suamiku semakin menyibukan diri dengan akifitas bisnisnya di luar negeri. Aku beserta anak anakku kemudian menetap lagi di Makassar yang apesnya lagi berkumpul bersama para iparku. Komunikasi dengan suamiku makin jarang, karena dia lebih sering berada di luar negeri dibandingkan di Indonesia. Kalaupun pulang ke Makassar, dia sekedar memintaku memenuhi kebutuhan biologisnya saja. Hubungan dengan anak anaknya juga makin menjauh seiring waktu yang terabaikan.

Aku sadar, kondisi ini seperti halnya bom waktu yang tinggal menunggu kapan akan meledaknya saja. Para iparku yang kemudian akhirnya benar benar menjatuhkanku dalam lubang terdalam kehidupan. Lewat fitnah keji tuduhan perselingkuhan, aku diusir dari rumah keluarga suamiku ke jalan. Mereka menuduhku berselingkuh dengan teman anakku yang waktu itu masih bersekolah di SMP Makassar. Selingkuh dengan anak kecil ? Sungguh suatu tuduhan yang dibuat buat untuk menjatuhkanku.

Tepat pukul 12 malam, aku bersama ke empat orang anak anakku pergi meninggalkan rumah tanpa tahu tujuannya. Memang betul, anak ku seluruhnya berjumlah enam orang. Tapi satu orang sudah meninggal akibat sakit dan seorang lagi ikut neneknya di Banjarmasin. Saat itu, aku tidak tahu musti kemana. Uang, perhiasan, rekening bank hingga kartu kredit sudah langsung dibekukan. Praktis hanya buku dan baju sekolah anak anak ku yang boleh aku bawa waktu itu.

Untungnya, ada salah seorang kenalan keluargaku yang sudi mencarikan tempat bernaung bagiku dan ke empat anak anak ku. Dengan iklas, dia juga memberikan uang untuk kebutuhan sehari hari dan biaya sekolah bagi anak anak ku.

Memasuki bulan ke empat, aku sudah tidak punya muka lagi untuk terus membebani orang lain yang tentunya juga punya keluarga sendiri. Aku harus mulai belajar mandiri untuk menghidupi kebutuhan keluargaku. Suamiku sudah tidak mau tahu lagi akan nasib ku beserta anak anaknya.

Seluruh pekerjaan yang halal tidak lagi menjadi pantangan. Pernah dalam sehari aku menjalani dua profesi secara bergantian. Siang hari kerja di laundry dan malamnya menjadi penyanyi di café di salah satu hotel Makassar. Meskipun gajinya tidak seberapa, aku sangat mensyukuri hasil jerih payahku ini demi menghidupi keluargaku.

Memang dari segi ekonomi, kami terbilang masih kekurangan. Anak ku yang tertua bahkan terpaksa putus sekolah SMA demi membiayai adik bungsunya yang musti membayar uang pendaftaran masuk SD. Hancur hatiku disini. Aku merasa gagal sebagai orang tua dalam memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak anaknya. Untungnya mereka begitu dewasa dan tetap mencintai mamanya ini. Anak anak ku sebenarnya yang menjadi motivasi, sehingga aku masih kuat dalam mengarungi kehidupanku ini.

Enam bulan terakhir ini, aku memutuskan hijrah ke Balikpapan dan bekerja di salah satu hotel berbintang di bilangan Klandasan. Meskipun gaji tidak terlalu besar, namun lebih dari cukup untuk menghidupi kehidupanku serta satu orang anak ku yang masih kecil. Aku mulai membangun kembali kehidupanku yang hancur lebur oleh pria yang melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami.

Meskipun demikian, trauma getirnya perkawinan masih menghantuiku hingga kini. Padahal ada satu pria yang secara terang terangan memintaku untuk menjadi istrinya yang sah. Dia sudah tahu tentang masa laluku yang kelam dan berjanji untuk tidak mempermasalahkan. Meskipun dari segi ekonomi dan kepribadian sudah mapan, aku tetap saja tidak berani untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Aku sudah terlanjur terluka sebagai akibat gagalnya pernikahanku yang terdahulu.

Entah sampai kapan aku mampu menjalani hubungan tanpa kejelasan ini. Aku hanya berharap, teman dekatku ini masih memberikan kesempatan padaku untuk mengobati luka luka masa laluku ini. Namun kalaupun pada suatu hari dia pergi juga, akan kuterima dengan lapang dada. Aku sangat sadar bahwa dalam waktu dekat ini belum mampu mengabulkan apa yang menjadi keingiannya ini. Menikah lagi sama artinya membuka kenangan lama yang sudah aku coba untuk kubur dalam dalam. Aku masih menikmati kesendirianku bersama ke lima anak anak ku.

Pencarian Populer:

cerita dewasa, cerita dewasa jual istri, Cerita dewasa istri, cerita dewasa jual diri, aku dijual suamiku, kisah nyata istri dijual, cerita dewasa dijual, Cerita dewasa dijual suami, suami jual istri, aku di jual suamiku