Yuni dalam perawatanBalikpapan –

Seorang wartawati Paser TV, Normila Sariwahyuni  usia 23 tahun harus keguguran janinnya setelah digebuki sedikitnya 16 orang  yang satu diantaranya diketahui adalah Kepala Desa Rantau Panjang, Ilyas. Wartawati ini sedang melaksanakan tugas peliputan kasus sengketa tanah sekaligus pemukulan warga oleh salah satu pihak bersengketa.

“Usia kandungan saya baru sebulan dan keguguran akibat peristiwa ini,” kata wartawati yang akrab disapa Yuni, Minggu (3/3).

Yuni mengatakan kejadian tersebut terjadi di Desa Rantau Panjang Kabupaten Paser Kalimantan Timur pada hari Sabtu (2/3) lalu. Dirinya mendengar ada kasus pemukulan sekaligus perusakan rumah diatas lahan sengketa.

“Pelakunya adalah Kades Rantau Panjang serta premannya,” paparnya.

Setibanya dilokasi, Yuni langsung mengambil gambar sejumlah lokasi lahan sengketa serta massa pelindungnya. Baru saja melaksanakan tugas jurnalistik, dia langsung ditampar Kades Rantau Panjang sekaligus rambutnya dijambak dari belakang.

“Saya sampai terjatuh akibat serangan ini. Alat kerja saya berupa camera juga diinjak injak oleh mereka,” ungkapnya.

Bukan hanya sebatas itu, puluhan orang langsung menginjak injak tubuh mungil wartawati ini tanpa memperdulikan permohonan ampunnya. Nyawa Yuni akan terancam bila saat itu tidak segera diselamatkan polisi yang bertugas di lapangan.

“Saya sudah bilang, saya wartawan dan juga sedang hamil. Mereka tidak memperdulikan sama sekali,” sesalnya.

Pihak kepolisian langsung mengamankan korban agar segera mendapatkan pertolongan medis secepatnya. Pasalnya, korban sempat tidak sadarkan diri setelah mengalami pendarahan akibat kejadian ini.

“Saya pingsan dari pukul 19.00 hingga 21.00 Wita dan dokter memutuskan saya keguguran anak ketiga saya,” ujarnya.

Akibat kejadian ini, Yuni mengaku sudah melakukan visum sekaligus melaporkan kejadian ini pada Polres Paser. Dia menuntut agar pelaku memperoleh tindakan tegas sesuai ketentuan hukum berlaku.

“Informasinya, polisi memanggil para pelaku untuk diperiksa,” ungkapnya.

“Saya tidak terima anak saya sampai keguguran,” katanya.

Kepala Bidang Humas Polda Kalimantan Timur, Komisaris Besar Wisnu Sutirta membenarkan adanya kejadian ini dimana korbannya adalah wartawati Paser TV. Dia masih menunggu laporan proses penyidikan kasusnya dari penyidik Polres Paser.

“Saya masih menunggu laporannya, tapi memang ada kejadian ini,” tegasnya.