“Daerah yang kerusakannya paling parah terjadi di Kabupaten Kutai Kertanegara dan Kabupaten Kutai Barat. Terutama saat masuk jalur Sungai Mahakam. Di Kutai Kertanegara bahkan jalur sungai Mahakam ponton pengakut batubara yang terlihat,” kata Joko, siang tadi.

Begitu juga kata Joko, saat menempuh jalan darat, para wisatawan banyak menemukan hal yang sama. Eksplorasi batubara yang menyebabkan kerusakan lingkungan karena berlubang-lubang tanpa adanya reklamasi juga sangat disayangkan.

“Itu betul-betul pengerusakan lingkungan yang sangat berat,” imbuhnya.

Menurut Joko, selama ini pihaknya hanya bisa menghimbau agar lingkungan tetap terjaga. Pasalnya, semua merupakan kewenangan pemerintah. Karena hanya pemerintah yang bisa  mengeluarkan kebijakan.  

“Kebijaksanaan itu adalah pemerintah. Dan kami pelaku pariwisata hanya bisa menghimbau, kalau pun sudah di eksplorasi, segera di reklamasi sehingga tidak menimbulkan kerusakan alam yang cukup parah. Kalau di tinggalkan begitu saja akan menimbulkan dampak yang begitu luas,” tukasnya.

Salah satu yang berdampak akibat menurunnya jumlah wisatawan ekowisata adalah pemilik-pemilik kapal diwilayah pedalaman yang selama ini mengantar para wisatawan mengunjungi obyek wisata yang ada dipedalaman.

“Pemilik-pemilik kapal merasakan sangat sepi dan berharap pemerintah mau membenahi hal tersebut. Ekowisata di Kaltim banyak khususnya di pedalaman seperti taman anggrek, rumah-rumah, adat, riam-riam di sungai Mahakam dan tanabang,” imbuhnya.

Dia menambahkan, jika kondisinya terus begini tanpa ada reaksi dari pemerintah kemungkinan para wisatawan bisa beralih ke daerah lain, seperti di Kalimantan Tengah, yang menjual orangutan. Karena potensinya cukup bagus.

“Dari pada mereka datang kesini yang ditemukan kekecewaan. Kalau orang kecewa nulis dan bicara kemana-mana akan menjadi boomerang bagi kita (Kaltim),”.tandasnya.