Masjid Al-Ula, Tertua Kota Balikpapan
3 August 2012
Kisah Sopir Balikpapan Sang Milyader
8 August 2012

Cicipi Tajil Masjid Jami As’ Suada Balikpapan

Menjelang sore menginjak senja, Wawan salah satu karyawan swasta perbankan di Balikpapan membenahi tali sepatu yang terlepas. Sambil duduk di emperan masjid Jami’ As’ Suada, pria lajang mengenakan satu per satu sepatunya. Wawan memang baru saja melaksanakan kewajiban sholat Ashar yang wajib hukumnya bagi setiap orang muslim.

Hampir setiap hari, masjid Jami’ As’ Suada menjadi lokasi favorit bagi Wawan dan rekan rekannya dalam melaksanakan kewajiban sholat. Bukan hanya karena lokasinya yang strategis berada di pusat kota Balikpapan – namun juga rasa adem setiap kali melaksanakan ibadah sholat di masjid ini.

 

 “Hampir setiap hari kalau melaksanakan sholat selalu disini. Dekat kantor dan enak suasananya,” katanya sambil tersenyum hangat.

 Rutinitas pekerjaan yang terkadang membuat karyawan swasta ini pulang kesoreaan hingga melaksanakan sholat magrib di masjid Jami’ As’ Suada. Terkadang kondisi seperti itu juga terjadi di kala berjalannya bulan Ramadhan.

 “Saya melaksanakan ibadah puasa dan jelang magrib masih di kantor, namun saya tidak mempermasalahkan,” paparnya.

 Wawan sadar ibadah puasa menjadi suatu keharusan bagi umat muslim memasuki bulan Ramadhan. Kesempatan seperti ini dimanfaatkan untuk mencicipi hidangan ringan ta’jil untuk berbuka puasa, sebelum melaksanakan sholat magrib.

 “Kalau terlambat pulang ke rumah bisa menikmati ta’jil berbuka puasa di masjid ini,” tuturnya mengenang masjid yang terlihat sedang dalam tahap renovasi bangunannya.

 Masjid Jami’ As’ Suada memang sering jadi penyelamat bagi para musafir dan dhuafa yang sedang menjalankan kewajiban puasa. Ini mungkin yang menjadi salah penyebab, kenapa masjid ini tidak pernah sepi setiap kali adzan magrib sudah berkumandang.

 Saat ini, fisik bangunan masjid di Jalan Blora RT 26 Klandasan Ilir Balikpapan Selatan saat ini sedang dalam renovasi total. Pemugaran bangunan masjid dimaksutkan untuk memperbesar area tempat sholat dan meninggikan menara masjid menjulang hingga ketinggian 40 meter. Lantai masjid juga makin mengkilat dengan lapisan tekel marmer putih menggantikan porselin lama yang kini sudah terlihat kusam.

 Padahal dulunya, masjid ini termasuk yang bangunan tertua di Kota Balikpapan. Bahkan, tidak sedikit yang menyebutkan masjid Jami’ As’ Suada bukan hanya yang tertua di bangun di wilayah Klandasan Ilir namun juga di seluruh kota Beriman.

 Awal mulanya, bangunan masjid tidaklah semegah sekarang dimana terdiri dari 2 lantai dan mampu menampung ribuan jemaah yang sedang beribadah. Masjid yang dibangun sekitar tahun 1962 ini sebenarnya dahulu adalah hanya bangunan mushola kecil yang peruntukannya warga sekitar saja.

 Saking kecilnya, warga setempat lebih nyaman menyebutnya dengan istilah Langgar Nurul Fajar yang berjalannya hari kemudian diganti namanya menjadi masjid Jami’ As’ Suada. Itupun butuh waktu sekitar 16 tahun dari langgar hingga menjadi masjid tertua di Balikpapan, seiring bertambahnya jumlah penduduk kota.

Sejak berdiri hingga sekarang ini, tercatat sudah dua kali tahap renovasi bangunan masjid Jami’ As’ Suada yakni saat tahun 1962 hingga 2012 ini. Pemugaran masid disesuaikan dengan berbagai kegiatan keagamaan yang rutin setiap harinya.

“Kita memperbesar tempat salat karena disini tidak hanya untuk salat tapi juga ada kegiatan TPA (tempat pendidikan agama) yang jumlahnya ratusan anak,” kata H. Muin Tarima, Ketua Masjid Jami’ As’ Suadaa kepada Majalah Info Balikpapan.

Disamping itu, dinamika pesatnya perkembangan kota Balikpapan membuat bangunan fisik makin terkungkung oleh bangunan masyarakat di Klandasan. Imbasnya menyebabkan alunan suaran adzan masjid Jami’ As’ Suada tidak bisa lagi dinikmati kaum muslim di Klandasan Ilir. Suara terpantul oleh sejumlah bangunan lain yang memang terlihat lebih tinggi dibandingkan bangunan masjid.

Sekian masalah itu yang menjadi alasan pemugaran masjid Jami’ As’ Suada yang diprediksi juga tidak murah. Namun renovasi memang menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindarkan mengingat kondisi masjid yang memiliki jama’ah cukup banyak dikala melaksanakan sholat shubuh.

Satu bentuk kepatuhan beribadah yang kerap jadi kekaguman para ulama saat memberikan materi kuliah tujuh menit (kultum) usai sholat shubuh.

Pemeliharaan dan biaya renovasi masjid merupakan hasil dari swadaya masyarakat sekitar dan donatur tetap yang berinfaq di masjid Jami’ As’ Suada. Setiap hari Jum’at hasil dari infaq dalam satu minggu diumumkan oleh pengurus masjid agar lebih transparan kepada masyarakat sekitar.

Hingga saat ini tahapan bangunan masjid yang direnovasi sudah mencapai 50 persen dimana factor ketersediaan dana tetap jadi permasalahan utama. Sumbangan dari dermawan menjadi harapan pengurus masjid dalam menuntaskan pembangunan masjid ini.

“Harapan ke depan, kita ingin terus memakmurkan masjid agar para jama’ah pun terus datang untuk beribadah,” imbuh Muin.

Muin mengutip salah satu firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 18, “Orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Itulah bunyi ayat yang menggambarkan diri orang-orang yang terus ingin memakmurkan masjid agar masyarakat di sekitarnya terus beribadah kepada Allah SWT, seperti halnya para pengurus masjid dan masyarakat sekitar yang masih peduli dengan keberadaan Masjid Jami’ As’ Suada.

 

1 Comment

  1. […] Sementara bentuk penyaluran zakatnya yakni dengan membagikan paket ramadan kepada ribuan anak yatim yang ada di Balikpapan. Disamping itu, zakat yang terkumpul juga disalurkan kepada para mustahik. hingga membantu pembangunan masjid. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *