Rumah panggung cagar budaya BalikpapanNewsBalikpapan –

Subuh dini hari buta, tepatnya bulan November 2015 silam, Nazir terkaget kaget mendengar suara gemuruh tepat di samping rumahnya. Warga Jalan Dahor RT 53 Kelurahan Baru Ilir Balikpapan Kalimantan Timur ini bahkan sempat mengira rumahnya terkena longsoran tanah batu gunung.

“Dini hari jelang sholat shubuh, ada suara gemuruh di samping rumah. Keras sekali membuat kaget warga kampung,” kata Nazir ditemui di rumahnya, Selasa (12/4).

Ternyata sumber suara gemuruh tersebut berasal dari robohnya rumah panggung dua lantai milik PT Pertamina (Persero) yang sudah bertahun tahun dibiarkan kosong. Rumah bekas karyawan Pertamina Balikpapan – dimana sejak 1997 sudah dicanangkan sebagai lokasi cagar budaya. Cagar budaya ini menjadi pengingat jejak jejak penemuan sumur minyak pertama Mathilda Balikpapan pada 1897 silam.

“Reruntuhan rumah panggung terpental hingga ke jalan jalan. Bahkan hampir menimpa mobil warga yang terparkir di jalanan,” ungkap Nazir.

Terdapat sebanyak 27 rumah panggung milik Pertamina di Jalan Dahor yang sudah dijadikan lokasi cagar budaya Balikpapan. Meskipun ditetapkan sebagai cagar budaya – faktanya sebagian besar diantaranya dibiarkan kosong tanpa penghuni. Pertamina terkadang memanfaatkan fungsi salah satu rumah agar ditempati personil kepolisian Balikpapan bersama keluarganya.

“Kosong bertahun tahun tanpa penghuni, hanya sempat satu personil polisi Balikpapan yang menempati. Warga juga terkadang parkir mobil didalamnya,” papar Nazir.

Awal Juli tahun 2015 lalu, Pertamina secara resmi mengumumkan rencana perluasan kilang minyak hingga kapasitas 360 ribu barrel dari sebelumnya hanya 260 ribu barrel. Otomatis banyak diantara area Pertamina Balikpapan yang harus dikorbankan demi terealisasinya program nasional ini, seperti kantor besar, rumah dinas karyawan, Stadion Parikesit  hingga area cagar budaya di Jalan Dahor.

“Setelah itu (pengumuman) penghuni di rumah cagar budaya ini di usir keluar disebabkan rencana perluasan kilang. Lokasinya juga dipagar seng agar warga tidak bisa masuk,” kata Ketua RT 54 Kelurahan Baru Ilir, Jimmy Haesing.

Namun sebaliknya pasca pengumuman pengosongan, warga malahan berbondong mendiami secara liar beberapa rumah cagar budaya ini. Kendatipun ada pemasangan pagar seng, tidak mampu menghalangi aktifitas warga yang terlanjur beranggapan keberadaan rumah panggung ini sudah tidak dikehendaki lagi oleh Pertamina.

“Warga menerobos pagar seng serta mendiami secara liar. Sebagian diantara juga menjarah secara liar saat Pertamina mengusir keberadaan penghuninya pada awal tahun 2016 lalu,” ujar Jimmy.

Aksi penjarahan warga ini pula yang diduga menjadi penyebab ambruknya salah satu rumah akibat tiang kayu ulin dijarah warga. Adapun satu rumah disebelahnya malahan sudah menjadi puing puing tidak terbentuk akibat penjarahan ini.

“Totalnya ada dua rumah yang sudah tidak berbentuk di lokasi tersebut,” papar Jimmy.

Kondisi kerusakan cagar budaya ini yang membuat geram warga Balikpapan, Rio Ridhayon Demo yang mengaku mencintai sejarah asal usul kotanya. Menurutnya cagar budaya ini menjadi pengingat asal usul kota Balikpapan yang berkembang pesat berkat industry migasnya. Apalagi ada indikasi Pertamina sengaja membiarkan aktifitas penjarahan ini, sebagai pembenaran rencana pembongkaran sebanyak 27 cagar budaya di Jalan Dahor.

“Pemahaman saya, mereka sengaja membiarkan dijarah. Sehingga saat sudah rusak, sekalian saja dibongkar demi kepentingan bisnis. Informasinya untuk dibangun apartemen sebagai salah satu langkah perluasan kilang minyak,” paparnya.

Kabar terbaru ini, Rio mendengar informasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Samarinda sudah menyetujui penghapusan sebanyak 18 rumah panggung Jalan Dahor sebagai lokasi cagar budaya di Balikpapan. Balai ini hanya menyisakan 9 rumah panggung saja yang jadi pengingat keberadaan industry migas Balikpapan.

Sehubungan itu, Rio berencana melayangkan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Samarinda atas pencabutan status 18 rumah cagar budaya Jalan Dahor. Menurutnya Balai Pelestarian Cagar Budaya Samarinda tidak bisa serta merta mencabut status cagar budaya tanpa melalui prosedur berlaku.

“Harus ada kajian dari tim independen dalam menilai status cagar budaya ini, apakah masih layak atau bisa dihapuskan. Pertamina semestinya juga punya kewajiban menjaga asset miliknya dari upaya penjarahan,” tegasnya.

Pertamina Balikpapan menyatakan peningkatan kapasitas produksi kilang nantinya akan memakan korban penggusuran rumah karyawan, kantor besar, Stadion Parikesit hingga sejumlah lokasi cagar budaya.

Sehubungan cagar budaya Jalan Dahor, Humas Pertamina Balikpapan, Dian Hapsari menegaskan pihaknya sudah berupaya maksimal dalam pengamanan dari pemagaran sekeliling komplek hingga penempatan personil TNI/Polri dan security perusahaan.

“Tidak ada unsur pembiaran dalam kasus cagar budaya Jalan Dahor ini. Upaya kami sudah cukup maksimal dalam pengamanannya,” ujarnya.

Pertamina mengklaim punya kepentingan dalam pelestarian cagar budaya Jalan Dahor sebagai titik awal dimulainya industry migas di Balikpapan. Karenanya, Pertamina menggandeng Pemerintah Kota Balikpapan guna melestarikan keberadaanya dengan menyisakan 9 rumah panggung cagar budaya Jalan Dahor.

“Kami akan memajukan 9 rumah cagar budaya di Jalan Dahor III dengan menjalin kerjasama Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pendidikan Balikpapan,” tuturnya seraya menambahkan rencana pemugaran bangunan cagar budaya akan dilaksanakan pada akhir bulan April ini.

Pemerintah Kota Balikpapan sudah menandatangani kesepakatan dukungan dalam proyek pengembangan kilang bersama Pertamina. Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendy mengatakan ada Sembilan unit lokasi rumah panggung yang masih dipertahankan sebagai lokasi cagar budaya Pertamina.

“Sesuai rekomendasi dari  Balai pelestarian Cagar Budaya Provinsi Kaltim,” jelasnya.

Sembilan cagar budaya ini akan dibenahi dan dipercantik sehingga mengundang minat masyarakat untuk datang melihat aset peninggalan zaman Belanda ini.  Cagar budaya Jalan Dahor diharapkan menjadi obyek wisata  Balikpapan sehingga membuat masyarakat datang menikmati.