Pesawat Garuda di BalikpapanNewsBalikpapan –

DPRD Balikpapan Kalimantan Timur mengumpulkan unsur muspida setempat soal perubahan nama bandara setempat. Seluruh unsur Balikpapan bisa menyampaikan aspirasi soal agenda perubahan nama menjadi Sultan Aji Muhammad Sulaiman sesuai usulan Gubernur Awang Faroek Ishak.

“Kita akan rapat bersama dengan unsur Muspida Balikpapan soal nama baru nanti,” kata Ketua DPRD Balikpapan, Andi Burhanuddin Solong, Rabu (29/1).

Burhan berpendapat Kota Balikpapan punya peran sentral dalam penentuan nama bandara yang renovasinya menelan anggaran Rp 2 triliun ini. Menurutnya nama bandara di Balikpapan tidak bisa ditentukan sekehendak hati tanpa mempertimbangkan pendapat warga setempat.

Sehubungan itu, Burhan meminta seluruh pihak mengkaji kembali soal Undang Undang Penerbangan yang menaungi teknis bandara. Sehingga perubahan nama bandara nantinya tidak berdampak negative terhadap eksistensi jalur penerbangan pintu gerbang Kalimantan ini.

Warga Kutai sempat melakukan aksi unjuk rasa di Kantor DPRD Balikpapan menuntut realisasi nama Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman yang merupakan salah satu raja Kesultanan Kutai.

Massa tiba di Kota Balikpapan menumpang enam bus dari Samarinda dan kota sekitarnya. Sebelum memasuki Balikpapan, polisi sudah merazia massa ini yang datang dengan membawa Mandau, tombak dan senjata tajam lainnya.

Pemkot dan DPRD Balikpapan sudah menolak perubahan nama Bandara Sepinggan jelang peresmian renovasi bandara. DPRD Balikpapan kala itu siap turun ke jalan bila nama Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman tetap dipaksakan.

Sikap ini diputuskan menyusul desakan sejumlah warga Balikpapan yang menolak rencana pergantian nama  bandara. Komunitas warga Balikpapan mengatas namakan ‘Save Sepinggan’ menolak nama Sultan Kutai, Aji Muhammad Sulaiman yang dianggap tidak berkontribusi dalam pengembangan warga asli Balikpapan.

Sebaliknya, Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak ngotot dengan nama Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan. Dia berdalih keinginannya tersebut sudah disetujui Kementerian Perhubungan.

Awang berpendapat sepantasnya nama bandara internasional mempergunakan tokoh local setempat. Nama kerajaan Kutai menjadi pilihan utama mengingat lokasinya yang berada di Kalimantan Timur.