Jempang MetulangNewsBalikpapan –

Total E&P Indonesie (TEPI) melakukan penghematan seluruh sector menghadapi krisis terpuruknya harga minyak mentah dunia yang menyentuh angka 30 US dolar per barrelnya. Perusahaan minyak gas asal Perancis berhasil melakukan penghematan hingga 600 juta US dolar total cost produksi selama tahun 2015 lalu.

“Kami banyak melakukan pengurangan operasi dan efisiensi pengeluaran,” kata Vice President Geociences & Reservoir TEPI, Noor Syarifuddin di Balikpapan, Jumat (11/3).

Syarifuddin mengatakan penghematan sebesar 600 juta US dolar nilainya mencapai 25 persen dari total biaya operasional Blok Mahakam sebesar 2,2 miliar US dolar tahun 2015. Penghematan dilakukan dari proses hulu hingga hilir operasi tanpa mengurangi standar nilai keamanan industry migas.

Salah satu contohnya adalah pemanfaatan kembali sebanyak 1 ribu slot sumur mati offshore Blok Mahakam. TEPI memanfaatkan slot sumur mati ini guna memulai kembali proses eksploitasi migas di area tersebut.

“Lebih hemat dengan tanpa perlu membangun platform baru di atas slot offshore ini. Kebetulan juga slot offshore Blok Mahakam memang sudah penuh dan harus memanfaatkan slot sumur mati,” ungkap Syarifuddin.

Selain itu, TEPI juga mengoptimalkan jangka waktu pengembangan sumur sumur baru di area Blok Mahakam. Saat ini, TEPI hanya membutuhkan waktu 14 hari dalam pengembangan sumur baru dari sebelumnya 60 hari.

“Kami bicara dengan para perusahaan sub kontraktor dalam penyesuaian kontrak kerja sama ini. Kami sampaikan, apakah mau mati bareng atau hidup bareng ? Kalau mau bertahan harus disesuaikan harganya ditengah rendahnya harga minyak dunia,” tegasnya.

Adanya krisis harga minyak mentah ini ternyata turut membawa dampak positif bagi TEPI sebagai pelaku industry migas dunia. Syarifuddin menyadari perusahaannya terlalu nyaman dalam menetapkan standar operasional di Blok Mahakam.

“Ternyata kami terlalu nyaman selama ini. Saat kenyamanan dikurangi tidak mengurangi kualitas kerja karyawan juga. Contohnya biasa naik pesawat kelas bisnis diganti kelas ekonomi saja,” paparnya.

Kebijakan ini terbukti membuat TEPI mampu bertahan ditengah terpaan krisis global. TEPI sudah berkomitmen untuk tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi seluruh karyawan permanennya di Blok Mahakam.

“Ini juga penghematan keuangan negara karena biaya produksi seluruhnya menjadi beban Negara,” ujarnya.

TEPI dan INPEX menjadi operator pengelola Blok Mahakam sejak 1968 silam. Blok ini meliputi lapangan gas Peciko, Tunu dan lapangan gas kondensat Tambora serta lapangan minyak Bekapai dan Handil.

Total juga menjadi operator di lapangan gas Sisi-Nubi dengan partisipasi 47,9%. Operasi yang begitu besar menempatkan Total sebagai operator produsen gas dan minyak terbesar di Indonesia (dalam skala barel ekuivalen minyak).

Total saat ini menyuplai 80% kebutuhan gas kilang LNG Bontang dengan produksi pada 2014 sebesar 1.761 Bcf/d dan 67.600 bod untuk minyak dan kondensat.