Keluarga pembalap motor trail Balikpapan

Keluarga pembalap motor trail Balikpapan

Balikpapan –

 

Fisik Afna Agata (13 tahun) terlihat mungil dibandingkan motor trail Kawasaki KLX 150 cc yang jadi tunggangannya ini. Namun soal skill kemampuan, anak baru gede putri ini tidak kalah dibandingkan pecinta olahraga otomotif ini yang mayoritas bergender pria.

 

Malahan, siswi SMP Negeri 5 Balikpapan ini adalah salah satu peserta trail adventure Balikpapan yang kala itu sempat menelan korban tewas warga Australia, Michael Adrian. Mick ditemukan tewas di rute antara Bukit Bangkirai dan Km 62 dalam event trail adventure Balikpapan 2 Days Enduro (B2DE), 15-16 Februari lampau.

 

“Saya lewat trek itu sebelum Mick. Lewatnya juga bersama-sama teman dan saling menolong,” tutur Afna, Jumat (5/4).

 

Afna dan ayahnya, Budinoyo, adalah pentolan klub motor trail 212. Anak beranak ini memang kompak dalam hal menggeber motor trail keluar masuk hutan menjelajah alam.

 

Sudah dua tahun berturut-turut ini 212 berpartisipasi dalam Balikpapan 2 Days Enduro. Seperti tahun 2012 lampau, seluruh keluarga, yaitu ibu dan dua adiknya turut mengantar ke tempat start di Dome, Jalan Ruhui Rahayu. Hobi ayah dan anak ini sudah menjadi acara keluarga.

 

Menurut Afna, hobi itu memang ditularkan dari ayahnya. Sang ayah mengajari bagaimana bawa motor trail, lalu bagaimana membawa motor spesial itu di medan lumpur, jalanan berpasir, tanjakan, melewati turunan.

 

Selanjutnya, kata Afna, dari banyak latihan dan perjalanan bersama ayahnya, ia juga jadi tahu bahwa naik motor trail bukan cuma teknik, tapi juga stamina.

 

“Motor trail itu memang cowok banget, tapi bukan berarti cewek tidak bisa,” katanya.

 

Kemudian, naik motor di alam bebas juga berbeda sekali dengan naik motor di sirkuit.

 

“Saya belajar pelan-pelan. Kalau naik motor seperti trail trus pergi ke hutan, tidak baik bila pergi begitu saja. Harus ada persiapan, apakah itu bekal makanan, bahan bakar, juga harus berteman, tidak boleh sendirian. Juga harus kenal rute yang akan dilewati, atau setidaknya sudah ada yang kenal rute itu,” katanya panjang lebar.

 

 

 

Bila lewat rute yang berat, berlumpur tebal misalnya, maka keduanya saling menolong, apakah itu dengan mendorong atau menarik. Bila capek, mereka juga beristirahat sambil makan dan minum dari bekal makanan yang sudah disiapkan.

 

Dengan cara begitu, Afna dan Budinoyo melewati rute yang menewaskan Mick dengan selamat, komplet dengan motornya—tidak terpaksa meninggalkan motor di hutan karena si motor terjebak lumpur dan pengendaranya sudah kelelahan sehingga tak sanggup lagi mengeluarkannya.

 

“Saling menolong, lalu istirahat makan minum itu kan asyik juga. Itu bagian dari petualangan. Bukan cuma naik motornya yang asyik,” kata Afna.

 

Sebelum turun berpetualangan, Afna dan ayahnya juga rajin latihan. Dari rumah mereka di Batakan banyak tersedia trek tanah ke mana saja. Mau ke pantai, tinggal ke timur. Mau ke padang-padang alang-alang dengan pemandangan ala prairie Amerika yang kemudian bersambung dengan kebun dan hutan, tersedia di barat dan utara. Mau sekalian melihat pemandangan perumahan dan kemajuan Balikpapan yang pesat, ada jalur ke selatan.

 

Menyambung apa yang dikatakan anaknya, menurut Budinoyo, tidak boleh orang berpetualang terjun begitu saja. Sebelum itu harus ada latihan dan persiapan.

 

Dalam persiapan untuk petualangan itulah, sebutnya, ada pendidikan. Persiapan yang bagus memberi peluang lebih besar kepada keberhasilan. Ia mengutip semboyan yang terkenal di Angkatan Darat yang diciptakan Jenderal Achmad Jani, lebih baik bersimbah peluh dalam latihan daripada bersimbah darah dalam pertempuran.

 

“Betul nasib orang siapa yang tahu, karena itu juga kita wajib berusaha,” katanya.

Karena itu, Budinoyo melanjutkan, “Saya yakin ini kegiatan yang bagus untuk remaja, remaja perempuan sekali pun seperti anak saya. Walau juga tidak terlalu lazim,” senyumnya.