Panen raya sawah TeritipNewsBalikpapan –

Masyarakat Teritip Kota Balikpapan Kalimantan Timur merayakan panen raya tanaman padi yang pertama dalam kurun waktu empat tahun terakhir.  Bencana kemarau panjang memang tidak terlalu terasa di Balikpapan dibandingkan sejumlah kota/kabupaten di Jawa.

“Ini adalah panen raya setelah kurun waktu empat tahun terakhir di Balikpapan,” kata Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kelautan Pemkot Balikpapan, Yosmianto, Rabu (5/8).

Balikpapan memaksimalkan lahan seluas 40 hektare sawah tadah hujan yang terbengkelai selama empat tahun terakhir. Masyarakat juga mengupayakan pembangunan bendungan Sungai Solok Api guna mengairi sawah yang mulai ditanam sejak bulan April lalu.

“Lahan yang terbengkelai kami kembangkan lagi dibantu dengan pembangunan irigasi Sungai Solok Api untuk pengairan sawah. Kami beruntung penanaman padi dimulai April lalu dimana hujan masih sering terjadi disini. Kalau sekarang Sungai Solok Api airnya juga sudah sedikit,” papar Yosmianto.

Yosmianto mengatakan panen raya padi kali ini hanya mampu memenuhi 2 persen dari kebutuhan konsumsi beras warga Balikpapan. Balikpapan mengandalkan pasokan beras dari daerah daerah luar seperti Jawa dan Sulawesi.

Sehubungan itu, Yosmianto menargetkan pengembangan 150 hektare area persawahan padi dan 200 hektare ladang jagung. Total area pertanian ini seluruhnya dipersiapkan berada di Kelurahan Teritip dan Karang Joang Balikpapan wilayah timur.

“Pengembangan sawah dan ladang ini mengandeng unsur TNI sebagai penyuluh pertanian. Kami menargetkan swasembada beras di Balikpapan,” ujarnya.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Teritip, Arifuddin mengatakan area ini sebelumnya adalah persawahan padi yang sudah tidak produktif lagi. Para petani kesulitan mengairi sawahnya akibat rusaknya sistim irigasi Sungai Solok Api.

“Kami bisa kembali menanam padi saat ada air untuk pengairan sawah,” tuturnya.

Area lahan sawah padi seluas 40 hektarea ini dikelola 25 orang petani yang merupakan warga Teritip. Hasil panen sawah Teritip diperkirakan sebanyak 196 ton gabah kering yang bisa dihargai Rp 4.300 per kilogramnya.

“Harganya lumayan, kami cukup untung. Namun kami harapkan harganya bisa mencapai Rp 5.000 per kilogram agar petani bisa sejahtera,” ungkapnya.