NewsBalikpapan –

Pemerintah Balikpapan Kalimantan Timur meminta sektor swasta tidak turut memainkan dolar untuk mengeruk kepentingan pribadi. Nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat dengan rupiah sudah melewati Rp 14 ribu sehingga membebani keungan nasional.

“Pengusaha juga jangan memanfaatkan situasi seperti ini,” papar Plt Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud, Senin (21/5).

Rahmad mengatakan beberapa sektor komoditas pangan di Balikpapan memang sangat tergantung import luar negeri. Otomatis kenaikan nilai tukar dolar, menurutnya akan berdampak kenaikan harga jual sejumlah komoditas di Balikpapan.

Meski begitu, Rahmad berujar agar jangan disalah artikan pengusaha memainkan harga jual dengn sekehendak hati. Pengusaha bisa memperoleh keuntungan dengan nilai yang wajar.

“Pemerintah harus bisa menjaga kestabilan nilai tukar mata uang. Pengusaha juga jangan memanfaatkan kondisi ini dengan menaikan harga barang dan komoditas pangan,” kata Rahmah.

Menurutnya, Pemerintah Kota Balikpapan terus memantau harga barang maupun komoditas yang masuk. Karena hampir 90 persen berasal dari Pulau Jawa dan Sulawesi. Termasuk memantau distributor.

“Jangan sampai ada penimbunan atau praktik spekulan yang mencoba memainkan harga karena menjadi tidak terkontrol sehingga berdampak pada daya beli konsumen,” ucapnya.

Dia mengatakan, bersama tim Satgas Pangan dan Tim Perngendali Inflasi Daerah (TPID) akan mendata para distributor sembako, khususnya stok yang tersedia.

“Jumlah barang yang dipasok, tingkat kebutuhan dan Harga Eceran Tertinggi harus dikontrol,” ujarnya.

Salah satu komoditas pangan yang bahan dasarnya harus diimpor adalah tempe. Kedelai sebagai bahan baku produk tersebut mayoritas didatangkan dari Amerika Serikat.

Saat ini, imbas melemahnya rupiah terhadap dollar yang tembus Rp 14 ribu telah berdampak pada harga kedelai yang selama ini di impor dari Amerika Serikat.

Para pengrajin tahun dan tempe di Kawasan Industri Kecil Menengah (KIKM) Somber Balikpapan pun mengaku, harus memutar otak agar mereka tetap bisa produksi.

Hal itu karena harga kedelei yang merupakan bahan untuk membuat tahu dan tempe melonjak dalam dua pekan terakhir. Harga kedelei impor yang sebelumnya Rp 7.200 per kg menjadi Rp 8 ribu.

Para pengrajin memang tidak mungkin menaikkan harga tahu dan tempe. Sehingga yang dilakukan agar tetap bisa produksi ditengah harga kedelei yang melambung, terpaksa mengurangi ukuran tahu dan tempe.

“Untungnya tipis, jadi kita kurangi kedelainya beberapa gram. Kalau menaikan harga justru agak berat karena konsumen biasanya enggan membeli,” ujar Rukyat, perajin tahu tempe

Menurutnya, dalam sehari dia membutuhkan sekitar 250 kg kedelai dan ketika diolah bisa menjadi 800 bungkus tempe dengan berbagai ukuran. Sedangkan tahu 38 ember atau 7.200 potong

“Satu bungkus tempe paling murah dihargai Rp2 ribu dan termahal di ukuran besar yakni Rp3.500 per bungkus. Saya juga bikin kecambah. Alhamdulillah, itu bisa menutupi kekurangan pendapatan,” ujarnya.

Sementara, Saidah dari Primer Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Primkopti) Balikpapan menjelaskan, kebutuhan kedelai per bulan untuk perajin mencapai 12 kontainer dengan bobot kedelai maksimal 23 ton.

“Kami hanya mampu menyediakan 7 sampai 8 kontainer dan harga jual sekarang stabil di angka Rp8 ribu untuk satu kilogram kedelai setelah naik secara bertahap,” ujarnya.