Rapat khusus ini membahas seputar persoalan bencana banjir dan longsor termasuk penanganan kedepan terhadap system penanganan banjir dan bencana longsor.

Burhanuddin menyatakan persoalan banjir tidak lepas dari kebijakan yang tidak bersahabat dengan alam yakni merubah alih fungsi lahan yang ada. Salah satu contoh soal pembangunan pertokoan Balikpapan Super Block yang merupakan kawasan resapan air

“Jalur itu jadi mall. Sampai kiamat Balikpapan tetap banjir tidak ada altenatif untuk tangani karena ada kesalahan kita yang menantang kebijakan alam dan kearifan alam. Seandainya itu tidak dibangun mungkin Balikpapan tidak separah ini. Saya tidak tahu persis kenapa pemkot ijinkan itu,” tandasnya.

Oleh karenanya, Burhanuddin meminta pemerintah daerah mengkaji kembali rencana pembangunan coastal road sepanjang 5 kilometer menghubungkan pelabuhan Semayang dan bandara Sepinggan Balikpapan.

“Agar tidak menjadi malapetaka bagi masyarakat dengan luapan air laut,” paparnya.

Burhanuddin juga menyoroti soal perubahan alih fungsi lahan disejumlah perumahan yang ada bahkan bendali di permahan elit Wika telah diijinkan untuk dialihkan ke fungsi lain. Dia mengancam akan melaporkan penyalahgunaan wewenang tersebut pada aparat hukum.

Persoalan ini, kata Burhanuddin harus disikapi bersama-sama dengan kekompakan diantara aparatur termasuk harus loyal dengan atasan. Terjadi kelompok kelompok diantara pejabat di internal Pemerintah Kota Balikpapan.

“ Sudah tidak ada kekompokan. Walikota perintahnya tidak diikuti. Kan ini sudah tidak benar,” tegasnya.

Selain itu aparatur lurah dan camat harus lebih kreatif membangun daerahnya berdasarkan karektristiknya. Pada kesempatan itu, Burhanuddin juga meminta kepada seluruh lurah sebagai garda terdepan yang paham seluk beluk lingkungan agar berani menyampaikan laporan kepada pimpinan termasuk melarang masyarakat untuk membangun dikawasan kritis/berbukit.

“Jangan takut laporkan. Jangan paksakan pembangunan di wilayah kalau tidak memungkinkan. Jangan mudah beri rekomendasi ijin bangun rumah kalau itu bahayakan. Jadi harus sesuai RTRW yang kita buat,”tandasnya dalam rapat khusus kemarin.

Lurah kata juga harus menyampaikan pemahaman kepada masyarakat sebab pembangunan didaerah rawan longsor nantinya kelak akan jadi beban APBD kota.

“Lurah jangan diam karena takut dipindah. Kalau takut dipindah jangan hadiri pelantikan. Kalau anda berbuat dan berpihak karena rakyat jangan takut untuk melakukan tindakan,” katanya.

Pada kesempatan itu juga mengakui kejadian pilu pada 24 Mei 2012 lalu dirinya mendapatkan SMS yang isinya menyalahkan walikota. “

Pada rapat kemarin, Burhanuddin meminta laporan detil kepada pemkot. Laporan detail disampaikan langsung oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran (BPBK) Abdul Aziz.

Sementara Kepala PU Kota Tara Alorante mengatakan curah hujan sebanyak 275 mililiter/detik pada Kamis 24 Mei lalu berdasarkan hitungan statistic ini merupakan curah hujan 25 tahun sekali.

“Sehingga banyak parit dan drainase kita yang tergerus air deras,” kata Tara dalam rapat kemarin

Menurutnya Pada 2012 ini banyak program drainase yang terkendala pembebasan lahan. Dari pengawasan lapangan banyak saluran drainase yang belum tersambung seperti pembuangan perumahan belum tersambung ke drainase lain.

“ Penataan system drainase keseluruah antara drainase pemukiman dengan drainase kota harus tersambung,” katanya.

Pihaknya kini melakukan perkiraan biaya kontruksi yang dilakukan dan telah melaporkan kepada pimpinan Selasa pagi untuk kebijakan lebih lanjut.