Ia menjelaskan wilayah Balikpapan dianggap sebagai daerah rawan adanya komunitas tomcat yakni daerah yang ditumbuhi ilalang, persawahan, rawa-rawa. “Hampir semua, namun yang banyak disenangi oleh hewan itu seperti Balikpapan Barat, Utara dan Timur,” ujarnya.

Budijanto menegaskan hewan ini tidak menyerang manusia layaknya nyamuk yang menggigit manusia namun alergi gatal-gatal itu terjadi saat terjadi intraksi manusia dengan tomcat. “ Dia memiliki cairan yang membuat kulit kita gatal-gatal. Jadi dia tidak menyerang manusia,“ terangnya.

Bagi warga Balikpapan yang menemukan adanya kasus ini, diharapkan untuk melaporkan ke DPKP atau DKK sehingga segara diambil tindakan. “ Ya seperti penyebaran virus flu burung, ulat bulu. Laporkan kekita dulu jangan langsung ke pimpinan,” imbuhnya.

Masalah ini kata Budijanto  juga sempat mencuat dalam rapat copy morning Pemkot kemarin. “ Tetap kita harus peduli dan beri perhatian walaupun belum ditemukan kasusnya,” tambahnya.

Sementara itu Kepala DKK Balikpapan Dyah Muryani mengatakan hingga kini belum ada laporan dari 27 puskesmas di Kota Balikpapan terkait wabah tomcat yang menimpa warga Balikpapan. “ Belum ada laporannya,”katanya.

Bagi korban yang terkena tomcat kata Dyah, dapat dilakukan dengan membersihkan disekitar luka dan memberikan salep partikusilis dan antibiotik. “ Tapi itu harus seijin dokter salep ini tidak bisa digunakan sembarang kalau ngak cocok bisa menghitam kulit. Sedangkan yang akut harus minum obat,” tandasnya.