NewsBalikpapan –

Dokter anak, Rudy Sutadi memperhatikan polah tingkah anak dihadapannya. Bocah usia 4 tahun ini sangat aktif, ada saja yang dikerjakannya.

Larangan orang tuanya dianggap angin lalu.

“Seperti inilah ciri ciri anak autis, semuanya sama,” kata konsultan autis ini di Balikpapan Kalimantan Timur, Sabtu (10/3).

Bila sudah seperti ini, orang sekitar harus mampu menciptakan rasa nyaman bagi penderita autis. Tutur kata lemah lembut membuat proses pendekatan berjalan lancar.

Setelah itu, barulah Rudy mulai mengenalkan satu per satu perbendaharaan kalimat pada anak autis. Setiap kalimat dilafalkan berulang ulang agar tertanam di alam pikiran anak autis.

“Terapis pengenalan satu kata bisa jadi membutuhkan waktu sebulan, tergantung kondisi anak dan usianya,” paparnya.

Ini merupakan metode applied behavior analysis (ABA) yang fokus dalam mengajarkan anak autis lancar bicara, akademik dan interaksi sosial. Metode terapis ini ditunjang dengan biomedical intervention therapy (BII) atau pemberian suplemen, obat obatan dan diet ketat.

Dua metode ini dijalankan terus menerus dan berkelanjutan. Setidaknya butuh tiga tenaga terapis berpengalaman yang mengajarkan cara berinteraksi dan berkomunikasi.

Terapis bertujuan agar pasien autis punya kemampuan komunikasi terhadap lawan bicara. Saat anak autis sudah mampu berkomunikasi, menurutnya menjadi titik awal pengajaran seperti  materi anak normal lainnya.

“Anak autis terkesan IQ nya dibawah anak bodoh. Padahal tidak benar, mereka hanya tidak memahami apa yang kita sampaikan. Contoh kecil, orang Indonesia mengerjakan mata pelajaran mempergunakan Bahasa Rusia. Pasti jawabannya salah semua,” paparnya.

Anak autis yang sudah mampu berkomunikasi, kata Rudy akan menunjukan progres menggembirakan. Indikatornya adalah hasil uji kemampuan tes intelegent quotient(IQ) yang melonjak dikisaran 85 hingga 115 poin dimana biasanya dibawah 60 poin.

“Artinya anak autis ini sudah bisa mengerti berbagai tugas yang diberikan padanya,” ujarnya seraya menambahkan program diet pasien harus pula diterapkan secara ketat.

Autis adalah gangguan nerobiologis dengan gejala kesulitan interaksi sosial, komunikasi verval – non verbal dan prilaku berulang. Beberapa kajian menyimpulkan, metabolisme tubuh mereka tidak kebal terhadap zat – zat seperti susu, keledelai, gandum, jagung, gula dan bumbu penyedap.

“Tubuh autis memproses susu menjadi heroin dan gula menjadi alkohol. Itu sebabnya mereka seperti orang mabuk,” ujarnya.

Setelah seluruh program membuahkan hasil, anak autis disarankan menjalani pendidikan reguler dengan tetap mendapatkan pendampingan.  Secara bertahap, pendampingan bisa ditinggalkan sesuai kemampuannya.

“Masing masing berbeda beda, tapi biasanya sudah tidak didampingi saat kelas 6 SD. Proses terapi juga dikurangi bertahap,” sebutnya.

Rudy menjamin, metode terapi ini memberikan kesembuhan 100 persen bagi pasien autis. Tercatat, ia menangani 90 pasien autis dimana 31 diantaranya dinyatakan sembuh.

“Pasien tersisa akibat orang tua tidak disiplin menjalankan program diet, terapi hingga konsumsi suplemen,” paparnya.

Orang tua pasien dituntut 100 persen menyiapkan waktu, tenaga dan pikiran demi kesembuhan anaknya. Langkah pertama saja, counseling ABA dan BII bagi anak autis memakan waktu 3 tahun.

“Memang biaya harus diakui sangat mahal terapis autis ini. Apalagi prosesnya bertahun tahun,” sebutnya.

Satu contoh adalah mantan pasienya, penderita autis yang beranjak dewasa.

Sepintas tidak ada yang salah dalam prilaku Faris Tanjung (19).  Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) asal Depok ini seperti remaja seumuruannya.

Namun dicermati mendalam –ditemukan kepolosan seorang bocah yang nyata tanpa dibuat – buat. Pemuda ini menyimpan sifat dasar manusia yang semestinya terkikis bertumbuhnya usia.

“Mas Faris belum pernah pacaran, tidak boleh pegangan tangan dengan anak perempuan. Bukan muhrim, mendingan temanan saja,” kata pemuda yang dulu didiagnosa mengidap autis.

Faris merupakan anak autis yang sudah normal di masyarakat. Dirinya adalah penderita autis yang mampu tertangani baik lewat terapi dan diet ketat.

“Autis sejak usia 1,5 tahun lalu. Sejak itu terapis di tempat dokter Rudy Sutadi,” paparnya sambil menyebutkan informasi soal konsultan autis ini berkat kegigihan ibunya mencari informasi penanganan penyakit ini.

“Ibu sering datang di setiap seminar autis dan mengenal dr Rudy,” imbuhnya.

Faris memperoleh pendampingan terapis hingga duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Ia bertahun tahun diet konsumsi jenis makanan seperti susu, gandum, kedelai, gula dan bumbu penyedap buatan.

Selama tiga tahun pertama, Faris rutin menjalani terapis ketat. Setiap hari, terapis mengenalkan interaksi sosial yang makan waktu 6 hingga 7  jam.

Program ini ini menjadikannya mampu berinteraksi di masyarakat. Faris menyelesaikan pendidikan SD, SMP, SMA hingga kini sekolah diploma IPB Jurusan akuntansi.

“Memang mata kuliahnya susah dan tugas tugas menumpuk setiap harinya. Tapi saya yakin bisa mengikuti proses perkuliahan disini,” paparnya.

Toh, Faris punya komunitas sahabat yang perduli dirinya.

“Di IPB memang tidak ada mantan penderita autis. Teman teman tidak tahu bahwa saya mantan penderita autis, mereka siap membantu bila saya ada kesulitan,” ujarnya.

Ikatan Doker Anak Indonesia (IDAI) Kaltim terang terangan meragukan klaim dibuat Rudy Sutadi ini. Dr Sukartini menyatakan, autis merupakan kelainan genetis perkembangan sistim syaraf  bawaan yang belum ditemukan penanganan ilmiahnya.

“Kalau saya kok ragu ya, penyakit autis bisa disembuhkan 100 persen,” kata Ketua IDAI Kaltim ini.

Sementara ini, ilmu kedokteran hanya mampu mengupayakan agar prilaku anak autis mendekati anak normal seumurannya. Dalam kesehariannya, menurutnya pasien autis masih menunjukan gejala gejala prilaku bawaan kelainan kelainan ini.

Sukartini meragukan hasil diagnosa pasien apakah benar menderita kelainan autis atau tidak. Ada beberapa kasus dimana kelainan sistim syaraf anak memiliki gejala layaknya autis.

“Perlu dipastikan lagi, apakah benar anak ini autis atau tidak. Saya tetap ragu penyakit autis bisa sembuh sempurna, kalau mendekat normal bisa saja terjadi,” tegasnya.

Kementerian Kesehatan menyatakan, kelainan autis masih menjadi misteri dalam penangannya. Hingga kini belum ditemukan cara ilmiah kedokteran paling jitu dalam pengobatan anak autisme.

“Belum ada penanganan medis paling tepat menangani permasalah autis,” kata Direktur Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan, Fidiansyah.

Beberapa dokter memang menerapkan terapi metode ABA dan BII dalam pengobatan anak autis. Namun dalam beberapa kejadian, metode terapis ini tidak mampu mengobati permasalahan autis anak.

Demikian pula soal metode diet makanan menjadi pantangan anak anak autis. Beberapa pakar kesehatan dan gizi menyebutkan soal pelaksanannya yang tidak ada kaitannya dalam penyembuhan autisme.

“Kesepakatannya masih belum solid menyimpulkan cara cara penangannya,” ujarnya.

Dua institusi medis di Indonesia ini boleh ragu dengan metode terapi ABA dan BII. Namun di lapangan, ada pasien autis yang sudah menjalankan aktifitas normal.

Autis merupakan penyakit genetis berat yang jumlahnya terus meningkat hingga 1,5 juta di Indonesia. Penyakit ini disebabkan makin tingginya pencemaran polusi, zat kimia makanan dan kosmetika.

Lantaran itu pula, Rudy Sutadi mengembangkan klinik penanggulangan autis di Sekolah Integral Luqman Al Hakim Balikpapan. Sekolah ini meresmikan Klinik Hidayah Autism Centre  Balikpapan untuk menangani siswanya yang memiliki permasalahan autis.

“Ada enam siswa sekolah dasar kami yang mengidap autis di Luqman Al Hakim,”  Direktur Sekolah Integral Luqman Al Hakim, Muzakkir.

 

 

Pencarian Populer:

program autisme untuk dewasa di balikpapan